Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Berpisah Diam Diam

Pernah ada masa dimana aku yakin ini semua mustahil Saat masih dirimu terbuka. Ketika tiap kali kita bertemu mata mu mengutus seorang gadis kecil yang pipinya merah untuk menyapaku. Saat mulutmu menuntun ku masuk ke dunia milikmu yang serba kuning dan penuh luka. Pernah ada masa dimana aku yakin ini semua mustahil Waktu kita duduk berdua di teras rumah kopi tepat di kaki Merapi. Ketika itu kututup senja dengan berapa baris puisi sambil memanen senyum dari bibir tipis mu yang terkatup manja. Pernah ada masa dimana aku yakin semua ini mustahil Kala wajah mu belum berawan dan menyembunyikan hujan daripadaku. Waktu bulan masih mampu mengurai rasa yang beku dan mempertemukannya pada rindu yang sama. Pernah ada masa itu Masa kita sedang membangun harapan, mimpi dan masa depan bersama. Tapi Kau telah diam – diam mengambil dirimu dan menyebrang ke dunia lain. Bayangan pun kau bawa habis, dan perpisahan pun tak pernah kau isyaratkan. Hanya kenangan yang kau biarkan selamat, itu pun ...

Benda Mati

Kenapa ada lampu? Meja dan kursi? Kita serba kekurangan. Kenapa ada batu? Piring dan sendok? Kita serba membutuhkan Siapa yang benda mati Kita atau batu? Kita, jawab kita. Batu, jawab batu. Siapa yang bakal mati? Kita atau batu? Kita! Jadi siapa yang benda mati?

Percakapan Ombak

I Apa kau bisa melihatnya kawan? Ombak – ombak digaris depan yang hilang begitu sampai di bibir pantai. Ya. Apa kau bisa mendengarnya kawan? Suara ombak yang pecah menghantam karang Ya. Apa kau tahu kemana mereka pergi Ya,hilang. Mereka ombak lemah tak mampu bertahan II Bersiaplah kawan, tepian semakin dekat dan angin sedang kencang –kencangnya. Siapa tahu kita akan berakhir di dinding – dinding tebing tajam itu. Tidak mungkin kawan. lihatlah kita ombak yang paling besar sekarang. Dataran itu tidak mungkin menghentikan kita dan akan kugulung habis tembok batu itu. Jangan lupa kawan, kita ini hanya ombak ya hanya ombak, bagian kecil dari samudera. Yogyakarta Januari 2014

MENGUTUK PEMERINTAH!

Jangan marahi kami! Karena angin serupa apapun takkan meluluhkan emosi kami! Jangan kalian sulut kebencian kami yang tenga terapung dilautan minyak yang sebentar lagi pasang. Nasehati saja dan ceritakan pengalaman kalian biar kami belajar. Aturan bukan tapal yang mustahil kami langkahi jika ketidakpuasan sedang bergelora. Hanya amarah dan hendak Tuhan hukum kami, moral penyuluh jalan kami. Tidak ada ukuran untuk agama dan nilai, jangan sok bijak apalagi religious didepan kami. Ada proses memang dalam berpengetahuan, tapi bukan jenjang dan gelar yang menjawabnya. Kami belum berstrata apalagi menyelesaikan disertasi, tapi kami punya mimpi. Tanpa hati ilmu berhamba pada uang, tanpa cinta kasih, karya berakhir pada penghargaan dan guru besar. Semangat! Dialah yang membumikan ide pada masyarakat, tanpa dia teori hanya ada dikepala dan penunjuk jalan menuju kuasa. Harapan adalah yang kalian gagal rasionalkan. Idealisme adalah cahaya yang kalian gagal selamatkan. Masa depan apa yang...

Cinta di Traffic Light

Aku tahu, tapi bukan begini caranya! "Tahu? Trus kenapa diam aja" balas Nala. "Sudah 2 tahun dan aku tak pernah menggantikan mu dengan gadis manapun" tutupnya. Lobi kampus telah lenggang, pagar pun sebentar lagi ditutup, hanya ada angin yang lalu lalang. Pukul 21.00. Nala tak lagi bisa menahan kata - kata nya. Air mata pun dia tidak lagi punya, keberanian pun tinggal datang setelah dua botol Ciu Bigcola mencabut kesadarannya. Nala betul - betul menanti jawaban namun sang pujaan tetap tak bergeming. Sudah 1 jam lagi, Nala bicara tertunduk sambil rebah dibahu sang pujaan. Matanya tak lagi kuat melek namun hati nya benar - benar terbuka. Tak ada perkataan yang dibuat - buat kali ini, atau puisi - puisi cinta yang biasa diuangkapkannya kepada sang pujaan. Semua berjalan dalam alur kemabukan, yah mabuk cinta dan alkohol. Dalam ketidaksadaran pun, Nala tetap menantikan jawaban. Sikap sang pujaan masih saja dingin, Nala ditembak dengan pertanyaan - pertanyaan yang ...

Gerombolan Tolo

Part I Dan kabar dari Atus pun sampai kepada konco – konco nya. Entah sejak kapan mereka merasa menjadi saudara dalam perbedaan mereka tapi yang jelas berita dari salah satu saudara yang paling tua ini telah membangun kan semangat semuanya ditengah hujan desember yang menggengam Jogja dalam tidur. Ini tahun ke tiga mereka sebagai mahasiswa, tahun ke tiga juga dalam perjalanan yang tidak punya tujuan yang jelas. Tujuan hanya lah bayangan kata Potus, yang selalu kita bawa dan tidak pernah akan kita rengkuh. Dia hanya hilang di tempat tanpa cahaya, ya didalam kubur maksudnya. Yang terpenting bagi nya adalah perjalanan bukanlah diam dalam kenyamanan, perjalanan dalam kebersamaan intinya. Mungkin juga ini lah yang mereka percayai bersama hingga perbedaan budaya bisa mereka rendam dalam sebuah lautan petualangan bersama. Adzan maghrib menggema, dan awan tak kunjung kering. Tapi rencana ini tak mungkin dibatalkan kecuali seseorang dari mereka membatalkannya, namun keliatannya tidak ada ...