Pernah ada masa dimana aku yakin ini semua mustahil
Saat masih dirimu terbuka. Ketika tiap kali kita bertemu mata mu mengutus seorang gadis kecil yang pipinya merah untuk menyapaku. Saat mulutmu menuntun ku masuk ke dunia milikmu yang serba kuning dan penuh luka.
Pernah ada masa dimana aku yakin ini semua mustahil
Waktu kita duduk berdua di teras rumah kopi tepat di kaki Merapi. Ketika itu kututup senja dengan berapa baris puisi sambil memanen senyum dari bibir tipis mu yang terkatup manja.
Pernah ada masa dimana aku yakin semua ini mustahil
Kala wajah mu belum berawan dan menyembunyikan hujan daripadaku. Waktu bulan masih mampu mengurai rasa yang beku dan mempertemukannya pada rindu yang sama.
Pernah ada masa itu
Masa kita sedang membangun harapan, mimpi dan masa depan bersama.
Tapi
Kau telah diam – diam mengambil dirimu dan menyebrang ke dunia lain. Bayangan pun kau bawa habis, dan perpisahan pun tak pernah kau isyaratkan. Hanya kenangan yang kau biarkan selamat, itu pun masih kau titip hujan untuk menenggelamkannya
Saat masih dirimu terbuka. Ketika tiap kali kita bertemu mata mu mengutus seorang gadis kecil yang pipinya merah untuk menyapaku. Saat mulutmu menuntun ku masuk ke dunia milikmu yang serba kuning dan penuh luka.
Pernah ada masa dimana aku yakin ini semua mustahil
Waktu kita duduk berdua di teras rumah kopi tepat di kaki Merapi. Ketika itu kututup senja dengan berapa baris puisi sambil memanen senyum dari bibir tipis mu yang terkatup manja.
Pernah ada masa dimana aku yakin semua ini mustahil
Kala wajah mu belum berawan dan menyembunyikan hujan daripadaku. Waktu bulan masih mampu mengurai rasa yang beku dan mempertemukannya pada rindu yang sama.
Pernah ada masa itu
Masa kita sedang membangun harapan, mimpi dan masa depan bersama.
Tapi
Kau telah diam – diam mengambil dirimu dan menyebrang ke dunia lain. Bayangan pun kau bawa habis, dan perpisahan pun tak pernah kau isyaratkan. Hanya kenangan yang kau biarkan selamat, itu pun masih kau titip hujan untuk menenggelamkannya
Komentar
Posting Komentar