Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Mimpi Siang Hari

Aku bermimpi tentang sebuah generasi, kepalanya penuh dengan sarang dan jentik jentik ide Pada tidurnya selalu siap terbangun. Pada siangnya matanya tajam membidik langit dengan pasti. Bicaranya tak pandang lawan tak berisi tender, proyek apa lagi titipan. Melihat mereka berjalan, melihat harapan yang pelan – pelan menjadi api. Yah aku bermimpi,bermimpi,siang hari pula. Yogyakarta 2013

Avontur

Aku pulang disambut masa kecil. Di pojok tembok bau amis kencing ku masih kental. Aku mengetuk punggungku berdesir hangat. Aku masuk semua nya mengecupkan kerinduan. Aku diam rebahlah tubuh manja Aku menatap mereka sukma ku berkecamuk tubuhku dingin, kulipat mata ku dan bicara. Aku pulang, aku rindu Seketika kantung mata tak lagi cukup menahan maksudku Aku harus pergi Yogyakarta Oktober 2013

MOMEN

Lihatlah yang muda Alun – alun selalu penuh tiap malam bukan karna pohon besar. Segiempat jalan, bentangan malam, odong odong, tanah yang lapang, semuanya menciptakan momen. Taman kota tidak siang atau malam tak pernah sepi. Semua yang datang butuh hiburan. Keramaian, keriuhan dan kebersamaan. Itulah momen. Antrian panjang tiap jam pulang kerja, orang tua perlu rumah, perlu berkumpul, perlu tertawa dan makan bersama. Itu momen. Momen, semua merindukan dan mencari – carinya. Tapi sayang, momen barang langkah. Sekali tua, momen pun punya yang muda. Sekali yang muda tua, momen milik yang muda. Momen milik yang muda. Yang mata nya masih tajam, kaki nya masih leluasa, kepala nya masih bebas. Momen dimana – mana jangan biarkan dia lewat kosong. Tubuhmu hanya kekar sekali lalu keriput. Jika tua, mata mu tak lagi terang, kaki mu sudah terlalu berat, dan kepala mu sudah sakit – sakitan jangan cari momen itu. Kau hanya bisa melihat dari kaca jendela dan layar televisi dengan hati yan...

Coba Jawab!

Mana yang lebih tulus melayani, anak anak yang terpaksa libur sekolah kemudian teriak teriak “es teh es teh” di depan benteng Vredeburg atau mereka yang habis apel pagi duduk makan, baca koran, nonton tv sampai sore? Yang tua ajarkan moral? Mereka lupa sarapan barangkali Yang tua ajarkan jujur? Pasti tidak ada cermin di rumah mereka Yang tua ajarkan semangat? Sudahlah, mereka kecapekan duduk makan dan tidur Yang tua ajarkan ini itu. Mereka bercanda bukan? Coba jawab! Yogyakarta Oktober 2013

Akan Pergi

Aku datang lagi menyampaikan. Untukmu yang datang dengan biasanya, aku masih berhenti ditempat yang sama. Enggan berlalu meninggalkanmu diambil masa lalu. Pengakuan yang kubcakan dipenghujung tahun lalu sudah kau abaikan. Seperti biasanya mata mu tak pernah memberi, selalu lewat meninggalkan sangka dalam mabuk malam - malam ku. Ratusan malam pada waktuku. Kulihat ketidakpuasan akan semuanya, termasuk kau dan semua yang beku. Ya kalian yang membunuhku tiap kali tiap tatap. Akupun tidak mau peduli. Benar milik semuanya yang hidup. Hidup ini bukan untuk menunggu persetujuan. Nasib harus berjalan sendiri - sendiri. Malam ini aku datang lagi menyampaikan. Untukmu yang datang dengan biasanya. Ratusan malam pada waktuku, ratusan malam teguh pada pengakuanku. Semua batu biarlah diam, jangan rubah diriku. Beranjak lah seperti biasanya Arum. Aku pun suatu kali akan dibawa hilang mimpi - mimpi ku. Yogyakarta Oktober 2013

Pledoi Kami

Setiap hari ya Tuhan, kami tidak tahu malu. Kami berharap sedekah, nasi, ikan, daging dan uang. Ini yang kami butuhkan sekarang, ya Tuhan. Lihatlah kami ya Tuhan, beragama tapi tidak mengharapkan Kau Lagi. Sediakanlah kami makanan disetiap khotbah paling tidak kopi biar kami betah mendengar para penyambung lidah Mu yang rumahnya penuh sukacita dan banyak istrinya. Bagilah perih kami dengan mereka ya Tuhan yang tak paham arti lapar. Inilah kami lancang, tapi berkata jujur ya Tuhan. Kami lapar kami haus. Jika Kau nyata seperti harta, baiklah Kau ku kejar ya Tuhan. Bukan tempat ibadah, tapi uang yang menenangkan kami sekarang ya Tuhan. Kami ini orang susah, hidup penuh beban dan makan belum tentu ada ya Tuhan. Politik saja kami tidak paham apalagi Kau ya Tuhan. Yogyakarta Oktober 2013