Lekas-lekas lah sadar katanya. Seorang, yang baru kulihat pertama kali, menghujani seluruh kepala yang mengangguk resah. "Dunia makin jahat saudara-saudara ku. Pengakhiran telah tiba beriringan dengan bencana perang, kelaparan dan kemisikinan." Mereka yang duduk, bergedik dan merapatkan lengannya dengan pikiran yang bersiap meski ketakutan. Menghadapi hari penghakiman. Sekilas, kakak perempuanku bergeliat dan meletakan tangannya yang terkunci. Tepat setelah pendeta diujung panggung memekik "berserahlah dan biarkan dia menjamahmu". Menandakan kakak perempuanku satu-satunya ini telah siap dalam kekhawatirannya untuk menghadapi hari penghakiman. Mungkin dia sedang mengkhawatirkan ku, mungkin juga anaknya yang masih kecil. Atau bisa jadi dia sedang berimajinasi menjadi pendosa dikursi pengadilan. Sungguh banyaklah dosa yang telah terlanjur berlangsung atas sepengetahuanku, dan yang sengaja kubiarkan terjadi. Aku pun bergumul keras dalam diri. M...