Langsung ke konten utama

Mereka Pun Bersorak Bahagia

Lekas-lekas lah sadar katanya.

Seorang, yang baru kulihat pertama kali, menghujani seluruh kepala yang mengangguk resah. 
"Dunia makin jahat saudara-saudara ku. Pengakhiran telah tiba beriringan dengan bencana perang, kelaparan dan kemisikinan."

Mereka yang duduk, bergedik dan merapatkan lengannya dengan pikiran yang bersiap meski ketakutan. Menghadapi hari penghakiman. 

Sekilas, kakak perempuanku bergeliat dan meletakan tangannya yang terkunci. Tepat setelah pendeta diujung panggung memekik "berserahlah dan biarkan dia menjamahmu". Menandakan kakak perempuanku satu-satunya ini telah siap dalam kekhawatirannya untuk menghadapi hari penghakiman.

Mungkin dia sedang mengkhawatirkan ku, mungkin juga anaknya yang masih kecil. Atau bisa jadi dia sedang berimajinasi menjadi pendosa dikursi pengadilan. Sungguh banyaklah dosa yang telah terlanjur berlangsung atas sepengetahuanku, dan yang sengaja kubiarkan terjadi. 

Aku pun bergumul keras dalam diri. Menimbang-nimbang khawatir dan gerah dengan segala yang ada diruangan itu. Mataku tak berhenti keheranan. Melihat begitu banyaknya kerumunan manusia yang sedang bermenung, membiarkan suara pendeta seperti mesin suntik yang menusukkan cairan tepat ke hulu hati dan pikiran mereka. 

Aku ingin pergi, cepat-cepat membuktikan pikiranku yang semakin liar dan tak tersalurkan. Bukan dengan ketakutan atas dosa ku. Aku ingin menunggu 10 meter dari pintu gereja. Bukan juga untuk mengawasi jika seorang datang untuk meledakkan gereja. 

Aku betul-betul ingin membuktikkan perkataan Nietzche dengan cara yang paling konyol; menunggu saat yang paling dramatis untuk menyaksikan sendiri betapa segera setelah mereka melangkah keluar dari pintu gereja, orang-orang ini akan berserakan kembali; bukan lagi dengan ketakutan tapi dengan kepolosan yang ajaib atau dengan kedunguan yang paling dungu, samar, dan memikat, kemudian mengobrak-abrik kembali isi dunia ini dan membuat bencana yang akan mereka sesali kembali pada minggu berikutnya. 

Di tempat yang sama; Disuatu aula megah, gemerlapan, dengan salib raksasa menggantung diatas panggung; selama 2000 tahun manusia-manusia yang kalah dan menderita atas dunia yang mereka ijinkan ada, atas perang yang mereka sponsori, atas bencana alam yang mereka sulut, akan datang membungkuk, berserah, mengadu, membangun dendam, merawat permusuhan dengan mereka yang beda bentuk rumah ibadah dan diakhir akan menyerahkan segala dirinya pada takdir Tuhan.

"O Tuhan O Tuhan O Tuhan, jadilah seperti kehendakmu", mereka pun bersorai bahagia.

Kemanggisan, April 2019




Komentar