Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Menuju Generasi Babu

Hari yang panas di musim penghujan Umur kuliah yang mulai meracah suasana Para penulis skripsi mulai bergegas Maba yang mulai diambil kenyamanannya OK OK dengan pemilu raya mereka Serta perpustakaan yang tenggelam dalam kesepian Selamat Siang! Salam hangat dari kawan seperjuangan! Pada pertemuan kali ini banyak mata yang memberitakan kekosongan jiwa - jiwa yang menyanyikan lagu lagu klasik "kekosongan". Beberapa garis bibir masih merekahkan sebuah harapan (meski sedikit) dan ratusan lain dengan emosi yang mengubun - ubun berjalan mengepal tangan keras. Namun nyanyian yang sama tetap saja nyaring dilantunkan sebuah bait keputusasaan dan penyerahan diri pada nasib yang bercerita tentang kesabaran dan pengiyaan meski sakit hati selalu datang di penghabisan lagu. Di sarang pendidikan tinggi ini lembaganya sudah berubah wujud bukan lagi perguruan tinggi melainkan perseroan terbatas. Di tempat yang harusnya manusia manusia dengan kep...

Hujan Pertama

diantara bunga rampai siapapun pasti sadar dirimu memancarkan keindahan yang murni yang tidak dimiliki kembang manapun juga kamu tidak butuh surya dan ornamen hidup lainnya kamu adalah cahaya itu sendiri yang menghidupi orang lain biarkan rambut hitammu berserakan kemana mana dan orang akan belajar apa adanya bebaskan saja, lepaskan dari kebiasaan kebiasaan wajahmu tidak butuh riasan apa paras sudah terbingkai indah sepasang dengan senyummu datang mu selalu menenangkan iiwa yang risau takut kehilangan jauh mu selalu mendatangkan rindu yang tak tergantikan selain bertemu mata mu begitu dalam dan penuh makna sambil senyummu menjelma dimana – mana menenggelamkan semua sambil senyum bahagia dirimu adalah hujan pertama setelah musim kemarau yang panjang matahari kecil yang tidak pernah redup dan tangkai yang selalu berbunga saat semuanya layu diterpa musim gugur hingga orang takkan pernah kehabisan alasan untuk, memberi, memerhatikan ...

Selembar keinginan

Aku ingin menulis untuk mu seperti seorang anak menulis surat untuk ibu Aku ingin menulis dengan bebas setulus hati yang sudah meleleh Aku ingin terus menulis seperti udara yang menghidupi tapi tak bisa direngkuh Aku ingin mencatat kekaguman yang sudah mensesaki kepala berhari hari Aku ingin bicara seperti bulan purnama dan bentang malam saling memberi ruang meski tidak saling bicara, saling mengerti dengan berjumpa Aku ingin terus bicara seperti suara yang hanya bisa didengarkan hati, dan mata yang hanya bisa menangkap makna Aku ingin menjadi hati dan mata yang terus mendengar dan mengerti Aku ingin jujur seperti tubuh yang kedinginan, dan jarak yang menebahkan jiwa dengan rindu Aku ingin pulang, berhenti dari perjalanan, melupakan aku, dan memikirkan kita Yogyakarta, Januari 2013