Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

Menolak mati

Di ujung jalan hanya ada satu pilihan Hilang Mati rasa kemudian masuk mengendap Menjadi satu dengan bumi dan dilupakan Tapi belasan tahun di jalan panjang ini Nasib memang ada ditangan waktu Bisa kapan saja kita terlepas Pulang (kata agamawan) Dan sampai saya melawan, saya masih bernafas untuk kesekian kali saya yakinkan Bahwa hari – hari kemarin menimbulkan penolakkan Dan kejadian – kejadian mengeramkan tekad Bahwa hilang bukan akhir dari jalan saya Dan sepenuh hati saya menolak mati Membenci semua kepasrahan dan Semua kesempatan tanpa ambisi membara – bara Saya ingin mengambang dengan angin malam Beristirahat pada lautan teduh malam purnama Lalu menjelang pagi, membakar asa untuk melawan hari Di medan yang ditakdirkan ini Saya ketemukan jiwa, semangat, dan rumah Jiwa yang gerah mendambahkan langit bebas Semangat yang mesti dilampiaskan Dan rumah tempat pledoi – pledoi dilahirkan Bahwa langit menjadi tujuan Dan laut menjadi impian Dimana kenyataan dite...

loper oper!

Bagaimana mungkin kita tertidur, sementara di ujung jalan ada berlaksa manusia terjaga membanjiri malam dengan air mata kelaparan dan sesak dengan doa doa keputusasaan Sedangkan di lantai kesekian gedung menara kembar yang menjulang megah, tawa para pemimpin menggelegar ke langit sambil diskusi bagi hasil Oh joko, andi, ahmad, yusuf, dan jon Leila, Sekar, Putri, dan dewi semua yang lahir dari bumi pertiwi dan turun dari surga nusantara Adakah suara anak – anak malang itu tidak sampai kerumahmu? Dan jeritan orang orang pinggiran tidak mengetuk di kamarmu? Kalau ada, kenapa diam saja? anda tau, saya tau, ayo bangun! ada banyak hal yang harus kita buat, pelopor! Sleman, September 2012

Cermin kelas 1

Cermin besar menjelma di langit siang memancar mengalahkan bulan dan bintang di malam Sebentang masa terpampang megah menantang mata, mata Era bertemakan kebebasan menggema bergetar – getar menabuh gendang di singgasana sukma yang haus kegirangan menari – nari Oh manusia mengalir karya – karya besar menembus masa mencapai akar – akar aksara, sejarah mengilau diatas bongkahan tanah dibawah kangkangan rembulan Masa depan mencapai begitu kilas tidur, bangun dan wah jalan panjang berbaris lurus menatap sang surya Sekarang apa yang terlampau besar ? impian tidaklah tabu lagi dan cita – cita begitu mudah dibahasakan Liat bukti magignya, nujum barang bernama otak itu julang – julang menara kaca di kaki langit berlomba menyentuh awan saksikanlah malam menjadi begitu gemerlap hingga waktu terlupakan Semua tinggal sejauh tekad dan gunung terlampaui bukit yang dulu pekat menohok semangat kini cahaya menyembul dari sana Lihat tampang – tampang kawakan yang ma...