Di ujung jalan hanya ada satu pilihan
Hilang
Mati rasa kemudian masuk mengendap
Menjadi satu dengan bumi dan dilupakan
Tapi belasan tahun di jalan panjang ini
Nasib memang ada ditangan waktu
Bisa kapan saja kita terlepas
Pulang (kata agamawan)
Dan sampai saya melawan, saya masih bernafas
untuk kesekian kali saya yakinkan
Bahwa hari – hari kemarin menimbulkan penolakkan
Dan kejadian – kejadian mengeramkan tekad
Bahwa hilang bukan akhir dari jalan saya
Dan sepenuh hati saya menolak mati
Membenci semua kepasrahan dan
Semua kesempatan tanpa ambisi membara – bara
Saya ingin mengambang dengan angin malam
Beristirahat pada lautan teduh malam purnama
Lalu menjelang pagi, membakar asa untuk melawan hari
Di medan yang ditakdirkan ini
Saya ketemukan jiwa, semangat, dan rumah
Jiwa yang gerah mendambahkan langit bebas
Semangat yang mesti dilampiaskan
Dan rumah tempat pledoi – pledoi dilahirkan
Bahwa langit menjadi tujuan
Dan laut menjadi impian
Dimana kenyataan ditelanjangi
Diseret hingga remuk
Kemudian jelas, siapa budak dan siapa merdeka
Jogjakarta September 2012
Sumber gambar : http://jrlee.tv/2010/09/17/2841/

Komentar
Posting Komentar