Kubiarkan diri ku bersandar sambil berharap tertidur. Tapi lantai ini begitu keras, lampu diatas menyilaukan, belum lagi hawa panas seperti ada oven sedang memanggang kue kering disampingku. Tidak ada yang beres, tidak dipikiran, tidak dikamar, ruangan satu-satunya yang kumiliki dengan barang-barang berserakan coba kuabaikan. Tak bisa kuurut bagaimana rasa bersyukur ini menyeruak. Tak kubayangkan kemana akan kuletakkan tubuh dan barang-barang ini kalau hujan atau malam datang. Pasti akan dicuri orang, padahal tak ada yang berharga baginya. Belum lagi buku-buku ku akan basah, tahu apa hujan soal isinya. Pak Mande cukup bermurah hati bahkan sangat. Dibiarkan aku tinggal di salah satu rumah petaknya. Cukup luas dengan 3 bilik, dan satu kamar mandi. Aku tahu hidupnya kaya, dua mobil terpakir digarasinya, rumahnya tinggi dan megah, tak masalah baginya kalau aku sering telat bayar setoran bulanan. Tidak di Jakarta, dikota manapun orang dapat mati jika tak punya kawan atau ken...