Banyak sekali perdebatan dalam masyarakat lantaran ketidaksepahaman
tentang sesuatu. Anarkisme misalnya. Sebagian akan hanya akan merujuk pada
aksi-aksi demonstrasi ataupun pengrusakan properti dalam menjelaskan anarkisme
itu. Sebagian lagi tidak sepaham lantaran dalam pengertiannya anarkisme adalah
sebuah ide tentang suatu masyarakat yang hidup tanpa diskriminasi dan memegang
teguh prinsip keadilan. Pada perbedaan pendapat ini, tidak ada pihak yang dapat
disalahkan atas dasar mereka keliru. Setiap pihak memiliki informasi dan
pengetahuan berbeda akan anarkisme, sehingga definisi mereka tentang hal itu
tentu berbeda.
Sumber informasi pada era ini
mejadi sangat penting. Informasi yang beredar adalah sumber dari segala yang
dipahami masyarakat soal sesuatu. Mayoritas masyarakat Indonesia mendefinisikan
sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar. Sangat jarang orang
mengkonsumsi informasi dari buku-buku. Dalam sebuah pilkada, setiap pihak yang
bersaing akan berkompetisi untuk menyebarkan informasi yang menguntungkan calon
kepala daerah yang mereka junjung. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat
memperoleh pengetahuan dan akhirnya menyimpulkan bahwa salah satu calon adalah
yang terbaik ataupun calon lain adalah yang terburuk.
Dalam perang informasi di Indonesia
dewasa ini, masyarakat selalu digiring pada dua pilihan. Antara setuju atau
tidak setuju, suka atau tidak suka, bahkan benar atau tidak benar. Informasi
yang beredar di Indonesia saat ini adalah informasi yang ditujukan supaya
masyarakat mengambil posisi terhadap suatu isu. Dengan masyarakat mengambil
posisi, tujuan dari penyebaran suatu informasi dianggap berhasil lantaran
masyarakat mempercayainya. Entah isi informasi tersebut adalah benar atau
tidak, yang penting masyarakat telah mengambil posisi. Pemahaman dan posisi
yang kemudian diambil masyarakat dalam contoh pilkada tentu akan menentukan
pilihannya.
Mari kita tengok kompetisi
informasi pada pilkada Jakarta tahun 2018. Peredaran informasi di media melulu
soal sosok Ahok ataupun Anis. Penyebaran informasi terbukti berhasil memecahkan
masyarakat kedalam dua kubu yakni pro Ahok atau tidak pro Ahok dengan dimensi
agama yang melekat didalamnya. Tidak ada pilihan ketiga. Mari kita geser ke
informasi lain; isu separatisme di Papua. Apa yang dipahami masyarakat soal
Papua adalah ada kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.
Seperti yang direncanakan, informasi soal Papua memecah masyarakat Indonesia
kedalam dua kubu yang pro ataupun kontra. Dari kedua contoh diatas, apa yang
tidak diterima masyarakat adalah opsi ketiga yakni informasi yang benar dan
tidak berpihak. Apa yang coba dihilangkan oleh media massa pada saat ini adalah
akal sehat, yakni kemampuan masyarakat untuk melakukan penilaian sendiri
terhadap suatu masalah dan kemudian membuat pilihan dan mengambil posisi yang dianggapnya
tepat.
Apa yang dipahami masyarakat
dewasa ini sangat besar nilai politiknya. Misal, persepsi masyarakat terhadap
Jokowi dan Prabowo sangat penting mendekati pemilihan umum presiden 2019.
Sejauh mana informasi dapat mempengaruhi masyarakat agar menentukan posisinya
adalah tugas media. Agar masyarakat dapat berpikir kritis dan rasional dalam
menentukkan pilihan bukan masalah yang penting. Kenapa persepsi masyarakat
penting, tentu saja lantaran masyarakat yang memegang suara dalam pemilihan
umum.
“Kebodohan yang sangaja
dipertahankan” itulah permasalahan utama. Ditengah perang informasi yang
dilancarkan media dewasa ini, jutaan masyarakat Indonesia merupakan masyarakat
yang tidak punya kemampuan mengelolah dan menilai informasi secara rasional.
Dengan begitu jutaan masyarakat Indonesia adalah jutaan orang yang gamang,
tidak punya pemikiran sendiri, apalagi prinsip sendiri. Upaya untuk menemukan
suatu kebenaran dalam fenomena sosial adalah kemampuan yang tidak dimiliki
jutaan masyarakat Indonesia, lantaran belum terdidik. Ketidakmampuan ini
menjadi lahan subur bagi media dalam memonopoli pengetahuan masyarakat.
Informasi yang terus menerus
diulang oleh media juga terus menerus dilihat dan didengar oleh masyarakat.
Bahaya utama dari proses cuci otak yang memanfaatkan kebodohan masyarakat ini
adalah transformasi dari informasi yang diulang-ulang menjadi suatu kebenaran
yang diyakini oleh masyarakat. Apa yang diyakini tentu saja akan mempengaruhi
prilaku dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai suatu komoditi
politik, yang oleh media diadu domba supaya berkonflik. Disisi lain masyarakat
dipandang sebagai komoditi ekonomi (tenaga kerja) yang tidak perlu pintar yang
penting dapat berfungsi dalam roda industri.
Apa yang disebarkan dan
diulang-ulang oleh media dewasa ini mari kita lihat. Korupsi. Siapa pelakunya?
Partai apa? Berapa banyak?. Hoax. Siapa pelakunya? Apakah kelompok muslim?
Kinerja pemerintah. Pembangunan infrastruktur, tol, jalan layang, bendungan
dll. Apakah maksudnya? Masyarakat digiring untuk berpikir politis, bahwa betapa
memalukan dan merugikan korupsi itu yang penting adalah kelompok politik mana
pelakunya. Apakah hoax penyebab utama konflik horizontal di masyarakat bukan
masalah penting. Kelompok mana yang menyebarkan, dan berafiliasi dengan elit
politik yang mana adalah yang penting. Apakah pelanggaran HAM di Indonesia
masalah penting? Tidak juga. Yang penting indikator kemajuan adalah
pembangunan, jadi bravo pemerintah.
Sejauh apa media telah mempengaruhi kebenaran di kepala masyarakat? Mari
kita telusuri dari apa sebenarnya yang dihindari media untuk diberitakan kepada
masyarakat dan apa yang menjadi tujuan dari media. Mari kita fokus pada apa
yang ingin dihilangkan dari masyarkat yang utama adalah kebenaran dan dorongan
untuk berpikir kritis bahkan berprilaku adil.
Dalam struktur masyarakat Indonesia, masyarakat miskin dan tidak
berpendidikan mendominasi kelas masyarakat terbawah di Indonesia. Sementara
elit dalam jumlah kecil dengan konsentrasi kekayaan terpusat pada mereka berada
pada puncak struktur masyarakat Indonesia. Kelompok elit ini tentu saja
kelompok yang paling masuk akal yang bisa memiliki dan mengendalikan informasi
melalui perusahaan-perusahaan media yang dimiliki.
Dengan struktur ini semakin mudah untuk menulusuri siapa dan apa
kepentingan media dalam menyebarkan dan memonopoli informasi pada masyarakat.
Apa yang dihilangkan dari arus informasi media pada dewasa ini adalah informasi
tentang struktur masyarakat Indonesia ini sendiri, bagaimana ketimpangan antara
kelas bawah dan kelas teratas terus menerus terjadi. Bagaimana setelah
berpuluh-puluh tahun sejak Indonesia merdeka hanyalah berpuluh-puluh tahun
masyarakat Indonesia di eksploitasi oleh elit diberbagai macam lini kehidupan.
Pemberitaan atau informasi terkait hal ini tentu saja akan dihindari oleh media
supaya masyarakat tidak sadar dan menganggap bahwa sistem yang berlaku saat ini
adalah normal bukan merupakan sebuah agenda besar mempertahankan pola
eksploitasi.
Satu dari berbagai contoh yang miris misal adalah Yogyakarta. Apa yang
ada dibenak masyarakat Indonesia tentang Yogyakarta adalah kota yang nyaman,
santun, kota pelajar, dan destinasi wisata alam dan budaya. Di tengah informasi
yang sering diberitakan ini tidak banyak masyarakat Indonesia bahkan Yogyakarta
sedang diambil alih orang-orang kaya Indonesia. Kenapa? Upah minum regional
Yogyakarta tahun 2017 berkisar 1,6 juta. Dengan asumsi seluruh masyarakat
Yogyakarta bekerja dengan upah minimum tersebut maka butuh berapa banyak tahun
supaya tabungan seorang dapat mencukupi untuk membeli tanah dan membangun rumah
di kampung halamannya. Sementara harga tanah di Yogyakarta melejit tidak
tanggung-tanggung mahalnya. Dengan asumsi ini, maka orang-orang dengan UMR
hanya bisa sekedar bertahan hidup takkan pernah memiliki tanah apalagi rumah
sendiri. Dalam kondisi misikin, seberapa mudah seorang kaya dari Jakarta,
dengan penghasilan puluhan juta perbulan dapat membeli tahah di Yogyakarta?
Tidak banyak yang bertanya, apalagi sadar, lantaran hal ini tidak pernah
diberitakan, selalu disimpan dan dihindari. Padahal fenomena serupa terjadi
hampir diseluruh propinsi di Indonesia.
Masyarakat selalu disibukkan dengan berita-berita politik, dan isu-isu
keamanan supaya masyarakat tetap sibuk dan menggunakan hak politiknya di pemilu
lantaran takut keamanannya terancam jika suatu kelompok menang. Masyarakat
dihidangkan dengan berita ekonomi bahwa kita sedang bergerak maju, dan
menunjukkan kemajuan kearah positif. Bahwa posisi dan keberpihakkan masyarakat
sangat dibutuhkan, dan supaya masyarakat tidak apatis dengan politik. Dan
dewasa ini tugas masyarakat adalah untuk ambil bagian dalam politik nasional
dan mengisi kemerdekaan dengan bekerja dan berwirausaha. Bukankah hal ini telah
menjadi kebenaran umum yang dianut oleh masyarakat Indonesia saat ini. Bahwa
sebagai warga Indonesia tugas saya adalah menjadi warga negara yang taat hukum,
wajib bersekolah 9 tahun, dan harus bekerja bukan demi masa depan tapi paling
tidak untuk bertahan hidup.
Secara garis bersar, media selalu berupaya meyakinkan masyarakat bahwa
selalu ada masalah baru yang lebih penting dan mengancam bagi masyarakat yakni
terkait keamanan, ekonomi, dan politik. Kemiskinan dan kebodohan terus
dipertahankan. Dengan kemiskinan masyarakat dapat dipaksa untuk menjadi buruh.
Dengan kebodohan masyarakat dapat dijadikan komoditi politik untuk kepentingan
pemilu. Masalah kenapa masyarakat kelas bawah tetap bodoh, miskin, bahkan
kelaparan, ataupun kenapa UMR begitu rendah, ataupun menjadi TKI adalah pilihan
mulia bagi masyarakat, serta sekolah hanya wajib 9 tahun, serta golput adalah
hal yang haram hukumnya bukan masalah penting dan harus diurusi apalagi
dipertanyakan. Masyarakat tak perlu paham hal-hal diatas. Masyarakat Indonesia
cukup saja tidak mati lapar, bekerja sebagai buruh, kalau sarjana dan memiliki
keterampilan dapat dipakai sebagai tenaga kerja di perusahaan-perusahaan asing.
Tanpa buruh, roda industri tidak akan berjalan. Tanpa suara masyarakat,
suatu pemerintahan tidak memiliki legitimasi. Tanpa legitimasi sebuah
pemerintahan tidak akan berjalan. Tanpa pemerintahan tidak ada yang berwenang
untuk menggunakan hukum dan militer sebagai alat pemaksa. Bahwa untuk mengubah
nasib bangsa ini kedepan, hanya dibutuhkan sedikit saja kesadaran bahwa sistem
eksploitasi yang berjalan selama ini perlu dirombak.
Sumber gambar ; https://www.youtube.com/watch?v=SZSzJh-4jK8

Komentar
Posting Komentar