Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Manusia Memakan Kemanusiaan

Aku ingin mendahului semua ini dengan doa,bukan tentang perdamaian tapi tentang permusuhan, tentang mulut yang ingin membuat perhitungan. Selalu ada gelap habis terang jadi berhati –hatilah. Kalau kau memperlakukanku seperti anjing,maka darah ini akan matang dan tumpah ruah. Tulisan ini ingin ku kirim keatas mendahului perjuangan ku dan kawan kawan yang lain. Ingin memperjelas jarak dan mensejajarkan posisi. Pasti ada yang kenyang, sangat kenyang, lapar dan kelaparan. Kalau begitu ada yang senang mempermainkan nyawa sesama manusia. Maksud kami adalah bagaimana kalian menindas dengan kekayaan. Menutup mata dengan riben dan membuang ludah digelas kopi kami. Sudah lama diujung timur kekeringan, dan barat kehabisan wadah untuk menampung air. Sampai akhirnya tangis dan jeritan jadi kewajaran. Ini bukan untuk meminta belas kasih, apalagi menjilat dan mengelus – ngelus zakar dan vagina . Ini pesan dari manusia manusia yang ingin dianggap manusia. Yogyakarta februari 2013 ...

SAJAK - SAJAKAN PAGI - PAGIAN

Selamat pagi Aduhai Gadis yang masih keluar masuk dalam mimpi kapan kau akan berhenti? Sebentar sebentar kita bisa mati lalu tidak bisa bercinta lagi Selamat pagi Aduhai Jangan berpura – pura tuli Hidup hanya datang satu kali Jangan sampai malam – malammu sepi lantas hilang hasrat birahi Selamat pagi Aduhai Negara kita menuju gagal karena dipimpin orang – orang amoral Berjuang untuk kaya dan demi parpol Senang mengobral janji dan mengoral sundal Selamat pagi Aduhai Bangsa ini sedang galau dengan demokrasi ...

Hujan = cinta, Tidak hujan = tidak cinta?

Hujan........ssssssssssssssssssss ahk ! Cepat – cepat! Aku tidak mau melewatkan ini. Meski ini memalukan, akan tetap ku lakukan. Cuma curahan air ini yang membebaskan ku serta mengantarkan ku pulang pada suatu ketika dimana butir – butirnya membasahi hati ku waktu itu. Hujan yang menjagaku waktu itu agar tidak terpisah dengannya. Sudah. Aku siap kembali menutup pintu dan berlari ke tempat itu bersama hujan. Kali ini aku memekikan doa sebelum masuk menemuinya. Doaku agar hujan ini jangan sudah dengan cepat. Ada banyak hal yang ingin kulihat dan rasakan lagi dengan dia. Terutama sepasang mata yang manja. Ayo hujan yang deras! Hati ku berdebar lagi, aku mengetuk pintunya kemudian masuk. Duduk berdua dalam dekapan hujan yang makin menjadi. Terima Kasih hujan. Sssssssssssssssssshhhhhhhhhhh druuuuummmmm wwwwuuuiiiisshhhhh langit makin padam, angin bergelora semakin liar. Tatapanku semakin jujur. Menghadapinya dalam keadaan seperti ini aku benar benar siap merelakan segalan...

Sajak dari Kota

Teman - teman ini beritaku dari pulau seberang yang dulu sering kita tonton di TVRI dan RCTI. Iya. Aku sudah hidup dan menetap di kota sekarang. Kalian mungkin tidak mengingatku lagi, sudah beberapa tahun sejak aku meninggalkan rumah. Tapi yakinlah aku masih mengenal dengan baik kalian semua, masa kecil kita sama. Benar. KIta hidup di desa yang sering lampunya padam. Dusun dari aspal kasar dan rumah dari kayu mahoni. Kawan! Disini aku menjadi saksi gemerlapnya lampu lampu malam warna warni. Jalanan yang selebar lapangan bola, warung sebesar balai desa. Sungguh kalian akan terheran heran melihatnya. Tempat berak dan mandi dibalut keramik keramik mahal. Ada tangga yang naik turun berjalan otomatis, bahkan rumah rumahnya mengalahkan tinggi pohon kopra kabar dari ku adalah dukacita. Disini manusia - manusianya hidup tanpa kemanusiaan. Aku juga sudah mati, sudah lama mati. Aku ingin ditengah kehabisan ku ini aku jujur. Karena kalian membicarakan aku jujur, menatap a...