Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Did You Get My Point Bob?

"Men! Coba ya, betapa lucu kita ini diwaktu-waktu tertentu" "Tapi tunggu, maksudku hanya berlaku pada orang-orang dengan hubungan tertentu juga, tentu saja, paham maksud gue kan?" "Haha, keep goin dude, gausah muter-muter ma gue, gue tau kok" Aku tahu. Kita telah berteman lama, dan selalu mulutku memang lebih banyak bicara daripada kalian-kalian. Mungkin itu yang menjauhkan kita dari perpisahan; aku yang doyan bicara apalagi ketika mabuk, dan kalian yang hobi mendengar. Aku pun melanjutkan; "Ya, ingat Arya yang gue ceritain tempo hari? Anak kurus samping kontrakan?" "ya, ibu nya yang semok itu kan?" Bobby seringai mengejek. "Haha yaya memang. Tapi bukan hendak menceritakan itu, memang pernah, kelihatannya dia menggodaku tapi sudah lah. Skip. Ini hal yang lucu. "Baiklah silahkan dilanjutkan" "Ingat jaman kita kuliah? hmm 8-9 tahun yang lalu? Kita selalu terpesona bahkan jatuh cinta dengan hal-hal yang b...

Arya

 *** Arya. Tersengal-sengal dia mengumpat “Anjing Lo!” Masih dalam mode itu, pipinya yang cekung kembang kempis, dan terlihat berminyak karena lelehan air mata, menguncang-guncang badannya. Kita semua tahu menangis adalah pangkal pemberontakkan. Namun pemberontakan jenis apa yang bisa dilakukan bocah setinggi gagang pintu, dan kurang makan daging itu, kita juga tahu. Mula-mula Arya berdiri di depan pintu, masih dengan gaya kejang-kejang, sendalnya ditarik-tarik mengamplas lantai semen yang tidak rata itu-menciptakan bunyi yang bikin pilu. Dia mempertahankan jarak dari ibu nya sendiri, orang yang dia waspadai, tahu apa yang mampu wanita itu perbuat padanya. Dia hanya perlu mencari perhatian dengan cara yang baru supaya pemberontakkannya di sabtu pagi ini dapat didengar. Caranya harus aman, harus aman. Antara membuat jengkel namun tidak terlampau memicu amarah ibunya. Arya malang! Sesungguhnya ingin dibujuk, dipeluk, dan disayang, juga segelas minuman Jelly. Dia tahu ibu n...