"Men! Coba ya, betapa lucu kita ini diwaktu-waktu tertentu"
"Tapi tunggu, maksudku hanya berlaku pada orang-orang dengan hubungan tertentu juga, tentu saja, paham maksud gue kan?"
"Haha, keep goin dude, gausah muter-muter ma gue, gue tau kok"
Aku tahu. Kita telah berteman lama, dan selalu mulutku memang lebih banyak bicara daripada kalian-kalian. Mungkin itu yang menjauhkan kita dari perpisahan; aku yang doyan bicara apalagi ketika mabuk, dan kalian yang hobi mendengar. Aku pun melanjutkan;
"Ya, ingat Arya yang gue ceritain tempo hari? Anak kurus samping kontrakan?"
"ya, ibu nya yang semok itu kan?" Bobby seringai mengejek.
"Haha yaya memang. Tapi bukan hendak menceritakan itu, memang pernah, kelihatannya dia menggodaku tapi sudah lah. Skip. Ini hal yang lucu.
"Baiklah silahkan dilanjutkan"
"Ingat jaman kita kuliah? hmm 8-9 tahun yang lalu? Kita selalu terpesona bahkan jatuh cinta dengan hal-hal yang baru. Bahkan terobsesi untuk menggapainya bukan?.
"Maksudmu wanita?" Bobby menyelah.
"Bukan, bukan. Uhm iya wanita juga termasuk. Tapi lebih jauh lagi. Misalnya, seperti kita akhirnya jatuh hati pada buku dan ide-ide tertentu. Ide-ide membangkang dan anti kemapanan, terus mendaki gunung dan menjelajah tempat-tempat baru, dan banyak lagi. Kau ingat kan? Waktu aku menggilai Arum dari mata dan segala lekuk tubuhnya? Semuanya seperti sangat nyata waktu itu dan tentu sangat dekat".
"Ingat kontrakan kita? Apa yang terjadi waktu kita diusir?"
"Hahaha yaya. Gue lagi jakpot tuh di kamar mandi, tau-tau pak Sugih masuk"
"Gue pura-pura tidur tahu, gak" wahaha
"See? We miss that moment right?"
"ya"
"Itu dia maksud gue dari tadi, hal itu sudah jadi kenangan kan?" Aku menahan diri sejenak, apakah dia paham maksud ku atau tidak.
"Bob?"
"Maksudku, semua hal yang kubilang sangat nyata, gila, dan kita dan semua yang kita percayai tadi itu, dia tidak bertahan hingga saat ini bukan? Intinya mimpi itu berlalu."
"so?" Bobby mengernyit.
"Nah sekarang apakah kamu menganggap hal itu nyata? Maksud gue mimpi-mimpi, lu pada waktu itu; semisal berkeliling dunia dengan motor?"
"hmm gimana ya, waktu berlalu orang dan orang berubah"
Cepat-cepat aku menyelah "thats the point dude! orang berubah sesuai waktu kan benar?"
"Ya" Balasnya yakin.
"Kalau begitu, waktu lah segala-galanya. Dia yang mengijinkan kita tetap seperti ini atau berubah seperti itu. Benar kan?"
'Tapi tunggu dulu. Kehidupan memang harus berubah. Lu ga bisa dia disatu tempat terus menerus dengan mimpi yang sama men. Lihat kita sekarang, gue bentar lagi married dan butuh banyak hal supaya semuanya lancar. Gue cuma pengen cepat-cepat nikah. Makanya waktu kita bertemu untuk sekedar bicara dan minum kopi seperti ini hampir-hampir tidak ada.
"Ga ada yang salah Bob. Sama sekali gaada yang salah dan gue gapernah menyalahkan siapapun termasuk lu jika berubah". Gue hanya merasa lucu aja semacam waktu memperlakukan gue secara berbeda"
"I know. Kapan terakhir lu mendaki?"
"Slamet, bulan kemaren"
"Bisa gasih gue, bikin pengumuman kalau gue ga pengen nikah, gue unisex, gue bertuhan ga beragama, dan bahkan gue ga mau bekerja, gue cuman pengen berkarya, bikin sesuatu. Lu tau gue sekarang mulai belajar menjahit dan bikin ukiran. Setelah pengumuman itu apa yang bakal terjadi?"
"Gue cuma merasa, di sulap seperti apapun, dunia tempat gue tinggal ini ga bisa pas dengan isi kepala gue, masa iya gue harus hidup bedua doang dengan kepala sendiri sampe mati? Gue dicoliin pikiran gue terus dongs?"
"Did you get my point Bob"? wuahahaha.
Palmerah Oktober 2019
"Tapi tunggu, maksudku hanya berlaku pada orang-orang dengan hubungan tertentu juga, tentu saja, paham maksud gue kan?"
"Haha, keep goin dude, gausah muter-muter ma gue, gue tau kok"
Aku tahu. Kita telah berteman lama, dan selalu mulutku memang lebih banyak bicara daripada kalian-kalian. Mungkin itu yang menjauhkan kita dari perpisahan; aku yang doyan bicara apalagi ketika mabuk, dan kalian yang hobi mendengar. Aku pun melanjutkan;
"Ya, ingat Arya yang gue ceritain tempo hari? Anak kurus samping kontrakan?"
"ya, ibu nya yang semok itu kan?" Bobby seringai mengejek.
"Haha yaya memang. Tapi bukan hendak menceritakan itu, memang pernah, kelihatannya dia menggodaku tapi sudah lah. Skip. Ini hal yang lucu.
"Baiklah silahkan dilanjutkan"
"Ingat jaman kita kuliah? hmm 8-9 tahun yang lalu? Kita selalu terpesona bahkan jatuh cinta dengan hal-hal yang baru. Bahkan terobsesi untuk menggapainya bukan?.
"Maksudmu wanita?" Bobby menyelah.
"Bukan, bukan. Uhm iya wanita juga termasuk. Tapi lebih jauh lagi. Misalnya, seperti kita akhirnya jatuh hati pada buku dan ide-ide tertentu. Ide-ide membangkang dan anti kemapanan, terus mendaki gunung dan menjelajah tempat-tempat baru, dan banyak lagi. Kau ingat kan? Waktu aku menggilai Arum dari mata dan segala lekuk tubuhnya? Semuanya seperti sangat nyata waktu itu dan tentu sangat dekat".
"Ingat kontrakan kita? Apa yang terjadi waktu kita diusir?"
"Hahaha yaya. Gue lagi jakpot tuh di kamar mandi, tau-tau pak Sugih masuk"
"Gue pura-pura tidur tahu, gak" wahaha
"See? We miss that moment right?"
"ya"
"Itu dia maksud gue dari tadi, hal itu sudah jadi kenangan kan?" Aku menahan diri sejenak, apakah dia paham maksud ku atau tidak.
"Bob?"
"Maksudku, semua hal yang kubilang sangat nyata, gila, dan kita dan semua yang kita percayai tadi itu, dia tidak bertahan hingga saat ini bukan? Intinya mimpi itu berlalu."
"so?" Bobby mengernyit.
"Nah sekarang apakah kamu menganggap hal itu nyata? Maksud gue mimpi-mimpi, lu pada waktu itu; semisal berkeliling dunia dengan motor?"
"hmm gimana ya, waktu berlalu orang dan orang berubah"
Cepat-cepat aku menyelah "thats the point dude! orang berubah sesuai waktu kan benar?"
"Ya" Balasnya yakin.
"Kalau begitu, waktu lah segala-galanya. Dia yang mengijinkan kita tetap seperti ini atau berubah seperti itu. Benar kan?"
'Tapi tunggu dulu. Kehidupan memang harus berubah. Lu ga bisa dia disatu tempat terus menerus dengan mimpi yang sama men. Lihat kita sekarang, gue bentar lagi married dan butuh banyak hal supaya semuanya lancar. Gue cuma pengen cepat-cepat nikah. Makanya waktu kita bertemu untuk sekedar bicara dan minum kopi seperti ini hampir-hampir tidak ada.
"Ga ada yang salah Bob. Sama sekali gaada yang salah dan gue gapernah menyalahkan siapapun termasuk lu jika berubah". Gue hanya merasa lucu aja semacam waktu memperlakukan gue secara berbeda"
"I know. Kapan terakhir lu mendaki?"
"Slamet, bulan kemaren"
"Bisa gasih gue, bikin pengumuman kalau gue ga pengen nikah, gue unisex, gue bertuhan ga beragama, dan bahkan gue ga mau bekerja, gue cuman pengen berkarya, bikin sesuatu. Lu tau gue sekarang mulai belajar menjahit dan bikin ukiran. Setelah pengumuman itu apa yang bakal terjadi?"
"Gue cuma merasa, di sulap seperti apapun, dunia tempat gue tinggal ini ga bisa pas dengan isi kepala gue, masa iya gue harus hidup bedua doang dengan kepala sendiri sampe mati? Gue dicoliin pikiran gue terus dongs?"
"Did you get my point Bob"? wuahahaha.
Palmerah Oktober 2019
Komentar
Posting Komentar