relung jiwa itu tidak kenal lagi siapa berteman aku saban harinya lama tidak ada salam yang sampai menembus dasar palung dan bertamu semua pintu ia buka lebar dengan harap sesuatu terdampar relung jiwa itu tidak kenal lagi siapa berteman aku saban harinya pada diriku dia mengadu mencibir dan meragukanku berharap nanti aku marah dan lantas menantang Tuhan relung jiwa itu tidak kenal lagi siapa berteman aku saban harinya gentar aku menyalahkan sang khalik tapi sengsara batin di caci tiap sepi dia melantunkan syair tiap malam menusuk dan mengoyak-ngoyak aku relung jiwa itu tidak kenal lagi siapa berteman aku saban harinya sekarang akan aku tutup semua jalan ke jiwa itu dan menobatkan aku sebagai teman hidup satu-satunya karena tidak mungkin aku sesumbar dengan penciptaku yang telah menempatkan jiwa itu dalam aku