Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

Dari sana

Ibu menutup malam dengan tenang uang makan, minum, kuliah anaknya sudah dalam perjalanan ibu membuka mata dengan semangat membabu diri kesana kemari untuk tagihan bulan depan menanti – nanti anaknya pulang membawah ijazah menjadi sarjana pertama diseantero desa Anak hidup di tanah orang mengantar uang ke kas universitas aktif dikelas menjadi penurut dan pendengar yang baik rajin keluar masuk kampus dengan kemeja andalan menghemat uang makan minum mencetak bundel – bundel makalah Bapak ibu pengajar bergelar tinggi dengan setelan dan renda – renda menghiasi sibuk mengampuh mata – mata kuliah membagikan ilmu didepan pemuda dan pemudi saban bulan aktif rapat kalau sempat studi banding sambil menunggu gaji, tunjangan untuk keluarga tercinta Kawan – kawan berlomba mencari eksistensi hidup mewah dan menyenangkan parkiran warna – warni dengan tunggangan masing - masing memikirkan malam dan pertemanan serta percintaan menyusun rencana liburan akhir pekan, bulan d...

Menatap kehilangan

Aku melihat langit di atas dan tanah di bawah Dari bumi merebak amis cakrawala melelehkan darah Anak – anak menangisi kedatangan orang – orang tua berpulang saban hari Semua harus bersatu kembali dan gelap pasti datang mengambil terang Dan dimana harus merelakan hidup menjadi kesukaan sebelum mati Di tanah sambil bergetar atau di langit sambil sumeringah Yogyakarta September 2012 Sumber gambar : https://athoenk46.wordpress.com/arti-hidup/

Jendela Sandiwara

Semangat makin mengendap Panas tengah hari memerih kelopak mata Mengguyur batang tubuh dengan keringat Sempoyong para pelopor menapak pendopo kampus Dengan baju yang basah dan pikiran yang tertanak Lalu tenggelam ke bilik – bilik kelas Pada dinding kelas menggantung ukiran pancasila Diapit gagah oleh dua pemegang tampuk pemerintah Diatas lantai seorang doktor berdiri tegak dengan setelan gagah Berkata – kata tentang dirinya dan perjalanan hidupnya Bicara demokrasi dan keadilan dengan suara lantang Dan dengan mata berbinar – binar menyapa para pendengar dengan istilah “anak – anak ku” Sesekali dia melawak sambil menjaga wibawah Dan disambut dengan tawa jamaah didepannya Saban minggu seperti itu, kompak disoraki Kalau kalau malas dia berhenti bersuara dan dengan senyum minta pamit Mengambil tas kulit kebanggaan yang tidak pernah dibukanya Beranjak lalu hilang dibalik pintu dan datang lagi pekan berikutnya Sambil berpesan dan meninggalkan beberapa beban akademik ...

HHA!

Kelas usai Nafas panjang terburai berbondong hilang dibalik pintu ada yang lewat membawa bekas sepasang mata memuat pesan hahaha anak muda. Jogja September 2012 sumber gambar : http://erliyan.wordpress.com/2011/01/11/tatapan-cinta/