Langsung ke konten utama

Jendela Sandiwara



Semangat makin mengendap
Panas tengah hari memerih kelopak mata
Mengguyur batang tubuh dengan keringat
Sempoyong para pelopor menapak pendopo kampus
Dengan baju yang basah dan pikiran yang tertanak
Lalu tenggelam ke bilik – bilik kelas

Pada dinding kelas menggantung ukiran pancasila
Diapit gagah oleh dua pemegang tampuk pemerintah

Diatas lantai seorang doktor berdiri tegak dengan setelan gagah
Berkata – kata tentang dirinya dan perjalanan hidupnya
Bicara demokrasi dan keadilan dengan suara lantang
Dan dengan mata berbinar – binar menyapa para pendengar dengan istilah “anak – anak ku”

Sesekali dia melawak sambil menjaga wibawah
Dan disambut dengan tawa jamaah didepannya
Saban minggu seperti itu, kompak disoraki

Kalau kalau malas
dia berhenti bersuara dan dengan senyum minta pamit
Mengambil tas kulit kebanggaan yang tidak pernah dibukanya
Beranjak lalu hilang dibalik pintu dan datang lagi pekan berikutnya
Sambil berpesan dan meninggalkan beberapa beban akademik

Sambil tertawa pun gerombolan terabaikan meninggalkan ruangan
gembira karena ditinggal sang pengajar tanpa faedah sama sekali
Maka selanjutnya mahasiswa lebih mengenal tabiat dosen, bukan bermimpi cita - cita
Menghafal prilaku dan kelakuan bukan mengamati ketidakadilan
Dan menganalisa kemungkinan mangkir dari kelas dari pada melihat realita kehidupan

pak bos datang lagi,
Dikerumuni para anak – anaknya bak sinetron lagi
Bercerita pengalaman lagi dan sesekali pura – pura meminta tanggapan
Lalu menunjuk seorang anak yang paling rapih untuk mengumpulkan tugas

Dan dengan senyum yang makin sumeringah
Semua meninggalkan ruangan
Dan tau bahwa semua ini cuma sandiwara





Jogja September 2012

Sumber gambar I : http://guruidaman.blogspot.com/2010/08/quovadis-sarjana-indonesia.html
Sumber gambar II : http://aditya-trihutama.blogspot.com/2011/04/dilematis-sistem-pendidikan-indonesia.html




Komentar