Aku tidak bisa terus menerus menyimpan ini di bawah bantal. Terus menerus menyelimutinya membuatku kehabisan kesabaran. Saat benar – benar tersingkap aku benar benar kehilangan tempat untuk bersembunyi. Tidak di kamar, di balik dinding dan di bawah air serta tanah. Aku mengecil sekecil semut lalu diceburkan ke telaga tanpa dasar dan tanpa tepi. Airnya tenang dan mulai mengkeriputi balutan kulit – kulitku. Kala hujan, arus bergelora semakin deras mengempas aku ke kiri ke kanan hingga nyaris ke dasar. Aku kira terdapat batas namun aku tenggelam hingga malam, mungkin sudah sangat jauh, sedalam palung. Gila! sejauh apapun mata ku melebar tidak ada ujung yang nampak. Aku tahu sesadar – sadarnya ini semua cuma imajinasi perasaan. Saat aku kembali berpikir logis, telaga itu cuma representasi dari eksistensi seorang gadis. Gadis dengan kebisasaan manusiawi dan normal. Yang jika dibentangkan kronologisnya ini cuma sebuah proses dalam hidup manusia dimana pria mencintai seorang wanita. Dengan...