Aku tidak bisa terus menerus menyimpan ini di bawah bantal. Terus menerus menyelimutinya membuatku kehabisan kesabaran. Saat benar – benar tersingkap aku benar benar kehilangan tempat untuk bersembunyi. Tidak di kamar, di balik dinding dan di bawah air serta tanah. Aku mengecil sekecil semut lalu diceburkan ke telaga tanpa dasar dan tanpa tepi. Airnya tenang dan mulai mengkeriputi balutan kulit – kulitku. Kala hujan, arus bergelora semakin deras mengempas aku ke kiri ke kanan hingga nyaris ke dasar. Aku kira terdapat batas namun aku tenggelam hingga malam, mungkin sudah sangat jauh, sedalam palung. Gila! sejauh apapun mata ku melebar tidak ada ujung yang nampak.
Aku tahu sesadar – sadarnya ini semua cuma imajinasi perasaan. Saat aku kembali berpikir logis, telaga itu cuma representasi dari eksistensi seorang gadis. Gadis dengan kebisasaan manusiawi dan normal. Yang jika dibentangkan kronologisnya ini cuma sebuah proses dalam hidup manusia dimana pria mencintai seorang wanita. Dengan pikiran jernih aku mampu menganalisis bahwa ini semata- mata kodrat dimana manusia membutuhkan orang lain untuk diperhatikan dan memperhatikan. Hanya siklus alamiah dimana sebelum sepasang manusia kawin dan bereproduksi mereka memerlukan pendekatan emosional terlebih dahulu.
Satu malam. Sesudah berbulan bulan saat gadis ini memintaku untuk tidak berhubungan lagi, aku mencoba hidup normal dan kembali hidup rasional. Pada malam ini, tepat hampir tengah malam, suasana yang lembab, kota yang seharian diguyur hujan, aku mencapai kesadaran. Ternyata aku tidak pernah hidup normal dan rasional, iya aku masih hidup dalam bola matanya dan berlari di dalam jiwanya. Arumi.

Yogyakarta Februari 2012
Aku tahu sesadar – sadarnya ini semua cuma imajinasi perasaan. Saat aku kembali berpikir logis, telaga itu cuma representasi dari eksistensi seorang gadis. Gadis dengan kebisasaan manusiawi dan normal. Yang jika dibentangkan kronologisnya ini cuma sebuah proses dalam hidup manusia dimana pria mencintai seorang wanita. Dengan pikiran jernih aku mampu menganalisis bahwa ini semata- mata kodrat dimana manusia membutuhkan orang lain untuk diperhatikan dan memperhatikan. Hanya siklus alamiah dimana sebelum sepasang manusia kawin dan bereproduksi mereka memerlukan pendekatan emosional terlebih dahulu.
Satu malam. Sesudah berbulan bulan saat gadis ini memintaku untuk tidak berhubungan lagi, aku mencoba hidup normal dan kembali hidup rasional. Pada malam ini, tepat hampir tengah malam, suasana yang lembab, kota yang seharian diguyur hujan, aku mencapai kesadaran. Ternyata aku tidak pernah hidup normal dan rasional, iya aku masih hidup dalam bola matanya dan berlari di dalam jiwanya. Arumi.

Yogyakarta Februari 2012
Komentar
Posting Komentar