***
Arya.
Tersengal-sengal dia mengumpat “Anjing Lo!”
Masih dalam mode
itu, pipinya yang cekung kembang kempis, dan terlihat berminyak karena lelehan
air mata, menguncang-guncang badannya. Kita semua tahu menangis adalah pangkal
pemberontakkan. Namun pemberontakan jenis apa yang bisa dilakukan bocah setinggi
gagang pintu, dan kurang makan daging itu, kita juga tahu.
Mula-mula Arya
berdiri di depan pintu, masih dengan gaya kejang-kejang, sendalnya
ditarik-tarik mengamplas lantai semen yang tidak rata itu-menciptakan bunyi
yang bikin pilu. Dia mempertahankan jarak dari ibu nya sendiri, orang yang dia
waspadai, tahu apa yang mampu wanita itu perbuat padanya. Dia hanya perlu
mencari perhatian dengan cara yang baru supaya pemberontakkannya di sabtu pagi
ini dapat didengar. Caranya harus aman, harus aman. Antara membuat jengkel
namun tidak terlampau memicu amarah ibunya. Arya malang! Sesungguhnya ingin
dibujuk, dipeluk, dan disayang, juga segelas minuman Jelly. Dia tahu ibu nya
pernah melakukan hal-hal yang dia idamkan itu.
Kalau Arya
tinggal di Sumba, sangat mungkin dalam harihari berangin, ketika musim kemarau
menjelang, saat para Rato memutuskan menggelar Pasola, dia akan dijadikan
lembing untuk dilempar kesana kemari oleh prajurit berkuda. Badannya yang
tipis, dengan tulang-tulang menonjol di seantero tubuhnya terlihat seperti tombak
yang sempurna. Dia jelas takkan jadi prajurit berkuda kalau hidup disana.
Lain lagi
ceritanya kalau-kalau Arya hidup di Manado. Di segala musim dia akan dicerca
dan sepanjang umurnya akan jadi bahan bully an. Hampir pasti dia akan mendapat
julukkan “Kerempeng” atau “Alien” karena tubuhnya tidak berlemak. Dipalaki
seumur dia bersekolah, dan diremehkan ketika dia dewasa. Urusan cinta akan jauh
lebih sukar jika dia menyukai seorang gadis. Sepenuh apapun tekad gayung tidak
akan bersambut. “Lebe bae bodok di skolah daripada bodok makang” – Arya tak
kenal acuan itu.
Arya adalah
anak-anak emas peradaban ibukota. Tidak ada yang memanggilnya “Kerempeng” atau
“Tombak yang sempurna” karena dia memenuhi bahkan melebihi segala yang
dibutuhkan bahkan tidak lebih kurus dari pada sepantaran di kompleksnya. Dia
terampil bicara terutama menghina. Di gang tak bernama, dan kompleks kumuh
berbau amis dengan selokan menggenang sepanjang tahun dia dipanggil “Bacot”. Dan
pagi ini Arya Bacot sedang marah seperti biasa pada acuannya – Mama.
Bosan mengamplas
lantai dengan sendalnya, Arya menjepit rapat bibirnya kedalam lantas menumbuk daun
pintu, cukup kuat hingga letupan suaranya sampai ditelinga ibu nya. Air matanya
berhenti, kini air mukanya berubah pucat. “Mama!” – tetap tidak digubris,
menengok pun tidak. Arya cuma jadi guyonan receh, berkokok seperti ayam tapi
menjadi hal yang bodoh jika dtanggapi. Lalu dipukul lagi pintu berlapis
tripleks itu tiga kali. Dia ingat betul, tadi pagi ayahnya memberikan sesuatu
pada ibu nya, namanya disebut-sebut.
Dibalik punggung
ibunya, Arya mendengar seorang berbicara. Ya suara neneknya-Arya pun
menjadi-jadi-merobek kembali kontrakan remang itu dengan teriakan-teriakan paling
liar yang bisa dia hasilkan.
“Kenapa tu
anak?”
“Tau tuh! Anak
setan emang! Minta duit.”
Arya ingin
mengucapkan sesuatu tapi lenyap di kerongkongan. Sosok yang diharap menjadi
sekutunya kembali hilang ke balik dapur-mendengar urusan duit neneknya memilih
kembali pada yang dikerjakannya. Erangan cucu satu-satunya itu memang sedari
awal sudah mengganggu batinnya. Sambil menumis sayur, neneknya berniat sesuatu.
Tunggulah nak.
Tanpa sekutu
disampingnya, Arya mendapati ibunya berdiri dan berbalik ke arahnya. Suaranya
segera menciut. Dia tahu apa yang akan mendatanginya dan begitulah-secepat
kilat dia merasa sesuatu sudah mencengkram lengannya dan sia-sia berupaya lari.
Tamparan pertama telak mendarat di pelas pipinya dan membuka keran air mata.
Arya menangis seperti gelombang pasang, meski naik turun tapi tetap saja
pasang.
Seperti boneka,
atau “kerempeng”, bahkan “tombak” tubuhnya dengan mudah digenggam sepenuhnya
dan diseret kedalam rumah.
“Diam gak lo!
Anak setan! Dasar Anak Setan!” Murka sang Ibu-berulang-ulang menampar dan
mengocok-ngocok tubuh anaknya yang tipis dan kurang makan daging itu. Jeritan
dibalas gebuk, jeritan kembali dibalas gebuk hingga Arya kehabisan suara bahkan
air mata. Sambil terus menangis dia melengguh “Papa! Papa!”.
Dia seperti ingin
memuntahkan sesuatu, ada yang hendak keluar dari dalam dadanya yang kering tapi
lidahnya beku. “Aku melihatnya, Mama”, seperti orang bisu, Arya meringkuk
dibalik pintu dengan kepala mendongkak ke atas; “Aku melihatnya,”. Mulutnya
menggeliat tanpa suara. Terdapat keyakinan bahwa ada suatu hak nya yang tidak
diberikan.
Kepedihan
membuncah dalam diri Arya kecil. Dipandangi punggung ibunya selintas kemudian
menyeka wajah dengan kerah baju nya yang kumal dan kendor. Bergelayut bayangan
ayahnya yang ramah dan murah hati. “Aku
melihatnya, Mama”! Diulang-ulang kalimat itu dalam-dalam hingga kepedihan
dihatinya mengeras menjadi kemarahan. Dipendamlah itu tanpa dia sadari.
Pertengkaran
pagi ini usai dengan kekalahan Arya Bacot. Ibu nya kembali duduk menghadap tv
kemudian menenggelamkan diri dalam layar hape. Ruangan sempit dengan plafon
lapuk itu kembali normal dalam kesuramannya. Arya melangkah menuju dapur dengan
kepala tertunduk, mendapati dan menyenderkan badan atas seluruhnya di paha sang
nenek. Sambil mengelus-elus mukanya di pinggang nenek dengan kesadarannya yang
mulai pulih, dia tetaplah bocah-sekonyong-konyol bocah 7 tahun dengan ingus
dibibirnya.
Nenek nya sudah berniat
sesuatu untuk cucunya yang malang. Mereka berlalu, dengan langkah pendeknya
Arya terpingkal-pingkal membuntuti sang nenek. Dia menenteng seloyang kecil berisi
lontong, menyusuri gang sempit hingga tiba dipertigaan jalan kecil namun sudah
beraspal tempat jualan sarapan neneknya. Diluar matahari mulai menguning dan
jalanan mulai ramai dan berasap kotor. Tepat diatas got berair gelap menggenang
itu, sebuah meja berkaki lebar ditaruh untuk jualan sang nenek, separuh meja
sudah memotong jalanan aspal kasar itu sangking sempitnya dan beberapa orang
berspatu boots dengan rompi orange sudah mulai berkerumun.
Dengan serius
Arya membantu neneknya, sampai kaki meja yang tidak rata pun diperhatikan.
Dijejalkannya sebuah batu tipis untuk membuat meja itu sejajar dan tidak
bergoyang. Batu itu selalu ada disitu dan hanya Arya yang tahu persis letaknya.
Kemudian masih dengan tampang orang dewasa berperangai Kate’, Arya menyambung
sekenanya cerita-cerita orang-orang yang berkerumun disekitar situ. Kalau tidak
menemukan kata yang pas maka dia hanya akan memperhatikan dan ikut nimbrung dan
mendengar.
Dia menggemari
cerita-cerita anak muda, atau abang-abangan ojek terutama seputar tawuran dan
sejenisnya. Semacam ada keinginan bergabung atau paling tidak ikut ambil bagian
dalam kisah-kisah yang memukau pikirannya itu. Di lingkungan itu dia dapat
melesat kemana saja dan orang-orang mengenalnya paling tidak wajahnya-anak cungkring
dengan tong sampah di mulutnya. Pertengkaran tadi pagi sudah dia lupakan.
Dengan uang lima ribu dari neneknya-tak hitung lima dia sudah di warung dengan
seonggok es krim coklat berlapis kacang dan gelas jelly di tangan yang satunya,
sambil berseru-seru “eh anjing lo anak setan” tertuju pada seorang waria yang
hendak menjemur pakaian sambil seringai ramah seakan mereka berteman dekat.
***
Menteng Wadas 2019
Komentar
Posting Komentar