Langsung ke konten utama

Arya

 ***
Arya. Tersengal-sengal dia mengumpat “Anjing Lo!”

Masih dalam mode itu, pipinya yang cekung kembang kempis, dan terlihat berminyak karena lelehan air mata, menguncang-guncang badannya. Kita semua tahu menangis adalah pangkal pemberontakkan. Namun pemberontakan jenis apa yang bisa dilakukan bocah setinggi gagang pintu, dan kurang makan daging itu, kita juga tahu.

Mula-mula Arya berdiri di depan pintu, masih dengan gaya kejang-kejang, sendalnya ditarik-tarik mengamplas lantai semen yang tidak rata itu-menciptakan bunyi yang bikin pilu. Dia mempertahankan jarak dari ibu nya sendiri, orang yang dia waspadai, tahu apa yang mampu wanita itu perbuat padanya. Dia hanya perlu mencari perhatian dengan cara yang baru supaya pemberontakkannya di sabtu pagi ini dapat didengar. Caranya harus aman, harus aman. Antara membuat jengkel namun tidak terlampau memicu amarah ibunya. Arya malang! Sesungguhnya ingin dibujuk, dipeluk, dan disayang, juga segelas minuman Jelly. Dia tahu ibu nya pernah melakukan hal-hal yang dia idamkan itu.

Kalau Arya tinggal di Sumba, sangat mungkin dalam harihari berangin, ketika musim kemarau menjelang, saat para Rato memutuskan menggelar Pasola, dia akan dijadikan lembing untuk dilempar kesana kemari oleh prajurit berkuda. Badannya yang tipis, dengan tulang-tulang menonjol di seantero tubuhnya terlihat seperti tombak yang sempurna. Dia jelas takkan jadi prajurit berkuda kalau hidup disana. 

Lain lagi ceritanya kalau-kalau Arya hidup di Manado. Di segala musim dia akan dicerca dan sepanjang umurnya akan jadi bahan bully an. Hampir pasti dia akan mendapat julukkan “Kerempeng” atau “Alien” karena tubuhnya tidak berlemak. Dipalaki seumur dia bersekolah, dan diremehkan ketika dia dewasa. Urusan cinta akan jauh lebih sukar jika dia menyukai seorang gadis. Sepenuh apapun tekad gayung tidak akan bersambut. “Lebe bae bodok di skolah daripada bodok makang” – Arya tak kenal acuan itu. 

Arya adalah anak-anak emas peradaban ibukota. Tidak ada yang memanggilnya “Kerempeng” atau “Tombak yang sempurna” karena dia memenuhi bahkan melebihi segala yang dibutuhkan bahkan tidak lebih kurus dari pada sepantaran di kompleksnya. Dia terampil bicara terutama menghina. Di gang tak bernama, dan kompleks kumuh berbau amis dengan selokan menggenang sepanjang tahun dia dipanggil “Bacot”. Dan pagi ini Arya Bacot sedang marah seperti biasa pada acuannya – Mama.

Bosan mengamplas lantai dengan sendalnya, Arya menjepit rapat bibirnya kedalam lantas menumbuk daun pintu, cukup kuat hingga letupan suaranya sampai ditelinga ibu nya. Air matanya berhenti, kini air mukanya berubah pucat. “Mama!” – tetap tidak digubris, menengok pun tidak. Arya cuma jadi guyonan receh, berkokok seperti ayam tapi menjadi hal yang bodoh jika dtanggapi. Lalu dipukul lagi pintu berlapis tripleks itu tiga kali. Dia ingat betul, tadi pagi ayahnya memberikan sesuatu pada ibu nya, namanya disebut-sebut.

Dibalik punggung ibunya, Arya mendengar seorang berbicara. Ya suara neneknya-Arya pun menjadi-jadi-merobek kembali kontrakan remang itu dengan teriakan-teriakan paling liar yang bisa dia hasilkan. 

“Kenapa tu anak?”
“Tau tuh! Anak setan emang! Minta duit.” 

Arya ingin mengucapkan sesuatu tapi lenyap di kerongkongan. Sosok yang diharap menjadi sekutunya kembali hilang ke balik dapur-mendengar urusan duit neneknya memilih kembali pada yang dikerjakannya. Erangan cucu satu-satunya itu memang sedari awal sudah mengganggu batinnya. Sambil menumis sayur, neneknya berniat sesuatu. Tunggulah nak.

Tanpa sekutu disampingnya, Arya mendapati ibunya berdiri dan berbalik ke arahnya. Suaranya segera menciut. Dia tahu apa yang akan mendatanginya dan begitulah-secepat kilat dia merasa sesuatu sudah mencengkram lengannya dan sia-sia berupaya lari. Tamparan pertama telak mendarat di pelas pipinya dan membuka keran air mata. Arya menangis seperti gelombang pasang, meski naik turun tapi tetap saja pasang. 

Seperti boneka, atau “kerempeng”, bahkan “tombak” tubuhnya dengan mudah digenggam sepenuhnya dan diseret kedalam rumah. 

“Diam gak lo! Anak setan! Dasar Anak Setan!” Murka sang Ibu-berulang-ulang menampar dan mengocok-ngocok tubuh anaknya yang tipis dan kurang makan daging itu. Jeritan dibalas gebuk, jeritan kembali dibalas gebuk hingga Arya kehabisan suara bahkan air mata. Sambil terus menangis dia melengguh “Papa! Papa!”. 

Dia seperti ingin memuntahkan sesuatu, ada yang hendak keluar dari dalam dadanya yang kering tapi lidahnya beku. “Aku melihatnya, Mama”, seperti orang bisu, Arya meringkuk dibalik pintu dengan kepala mendongkak ke atas; “Aku melihatnya,”. Mulutnya menggeliat tanpa suara. Terdapat keyakinan bahwa ada suatu hak nya yang tidak diberikan.

Kepedihan membuncah dalam diri Arya kecil. Dipandangi punggung ibunya selintas kemudian menyeka wajah dengan kerah baju nya yang kumal dan kendor. Bergelayut bayangan ayahnya yang ramah dan murah hati.  “Aku melihatnya, Mama”! Diulang-ulang kalimat itu dalam-dalam hingga kepedihan dihatinya mengeras menjadi kemarahan. Dipendamlah itu tanpa dia sadari. 

Pertengkaran pagi ini usai dengan kekalahan Arya Bacot. Ibu nya kembali duduk menghadap tv kemudian menenggelamkan diri dalam layar hape. Ruangan sempit dengan plafon lapuk itu kembali normal dalam kesuramannya. Arya melangkah menuju dapur dengan kepala tertunduk, mendapati dan menyenderkan badan atas seluruhnya di paha sang nenek. Sambil mengelus-elus mukanya di pinggang nenek dengan kesadarannya yang mulai pulih, dia tetaplah bocah-sekonyong-konyol bocah 7 tahun dengan ingus dibibirnya.  

Nenek nya sudah berniat sesuatu untuk cucunya yang malang. Mereka berlalu, dengan langkah pendeknya Arya terpingkal-pingkal membuntuti sang nenek. Dia menenteng seloyang kecil berisi lontong, menyusuri gang sempit hingga tiba dipertigaan jalan kecil namun sudah beraspal tempat jualan sarapan neneknya. Diluar matahari mulai menguning dan jalanan mulai ramai dan berasap kotor. Tepat diatas got berair gelap menggenang itu, sebuah meja berkaki lebar ditaruh untuk jualan sang nenek, separuh meja sudah memotong jalanan aspal kasar itu sangking sempitnya dan beberapa orang berspatu boots dengan rompi orange sudah mulai berkerumun. 

Dengan serius Arya membantu neneknya, sampai kaki meja yang tidak rata pun diperhatikan. Dijejalkannya sebuah batu tipis untuk membuat meja itu sejajar dan tidak bergoyang. Batu itu selalu ada disitu dan hanya Arya yang tahu persis letaknya. Kemudian masih dengan tampang orang dewasa berperangai Kate’, Arya menyambung sekenanya cerita-cerita orang-orang yang berkerumun disekitar situ. Kalau tidak menemukan kata yang pas maka dia hanya akan memperhatikan dan ikut nimbrung dan mendengar. 

Dia menggemari cerita-cerita anak muda, atau abang-abangan ojek terutama seputar tawuran dan sejenisnya. Semacam ada keinginan bergabung atau paling tidak ikut ambil bagian dalam kisah-kisah yang memukau pikirannya itu. Di lingkungan itu dia dapat melesat kemana saja dan orang-orang mengenalnya paling tidak wajahnya-anak cungkring dengan tong sampah di mulutnya. Pertengkaran tadi pagi sudah dia lupakan. Dengan uang lima ribu dari neneknya-tak hitung lima dia sudah di warung dengan seonggok es krim coklat berlapis kacang dan gelas jelly di tangan yang satunya, sambil berseru-seru “eh anjing lo anak setan” tertuju pada seorang waria yang hendak menjemur pakaian sambil seringai ramah seakan mereka berteman dekat. 

***

Menteng Wadas 2019

Komentar