Langsung ke konten utama

Sajak dari Kota



Teman - teman ini beritaku dari pulau seberang yang dulu sering kita tonton di TVRI dan RCTI.

Iya. Aku sudah hidup dan menetap di kota sekarang.

Kalian mungkin tidak mengingatku lagi, sudah beberapa tahun sejak aku meninggalkan rumah.

Tapi yakinlah aku masih mengenal dengan baik kalian semua, masa kecil kita sama.

Benar. KIta hidup di desa yang sering lampunya padam. Dusun dari aspal kasar dan rumah dari kayu mahoni.

Kawan! Disini aku menjadi saksi gemerlapnya lampu lampu malam warna warni.

Jalanan yang selebar lapangan bola, warung sebesar balai desa.

Sungguh kalian akan terheran heran melihatnya. Tempat berak dan mandi dibalut keramik keramik mahal.

Ada tangga yang naik turun berjalan otomatis, bahkan rumah rumahnya mengalahkan tinggi pohon kopra

kabar dari ku adalah dukacita. Disini manusia - manusianya hidup tanpa kemanusiaan.

Aku juga sudah mati, sudah lama mati. Aku ingin ditengah kehabisan ku ini aku jujur. Karena kalian membicarakan aku jujur,

menatap aku jujur, dan hidup denganku jujur. Dulu, di desa kita yang jujur.


Yogyakarta, Februari 2012

Komentar