Langsung ke konten utama

Surat Untuk Ode



Pada detik ini anggaplah kita sama. (Dalam hal yang kita rasakan). Dengan sekuat-kuatnya aku berusaha menggunakan kalimat-kalimat yang bisa dipahami. Intinya supaya kita sama dan terutama saling memahami. Kita semua pernah mengalami, paling tidak melewati masa yang sama meski beda tempat. Apakah itu jadi perbedaan penting? Tentu tidak. Paling tidak kita semua pernah berimajinasi untuk menjadi sama bukan? Supaya semua orang saling memahami? Indah bukan?

Aku gemar berpikir bahwa aku bukan normal. Ada hal yang dimiliki cuma olehku tidak oleh semua yang lain. Ada alasan yang cuma milikku seorang, ada semangat, dan kepedihan yang punya milikku seorang. Aku tak tahu persis apa itu, tapi aku tetap saja senang mengaku berbeda. Setelah dipikir-pikir mungkin aku tak punya sesuatu yang orginal hanya saja orang-orang lain yang berbeda. Ada hal yang kulalui dan mereka tidak, ada hal yang kuketahui dan orang lain tidak. Bukan masalah apa yang dipikirkan orang lain.

Berpikir orang lain tidak bisa seperti ku itu saja. Mungkin saja kalian berpikiran sama, tentu kalian punya kemarahan, alasan, semangat dan bahkan kepedihan yang jauh berbeda denganku. Jadi apakah kita bisa disamakan? Tentu tidak. Hidup yang kita-kita jalani berbeda, makanan yang kita makan berbeda semua-semua kita berbeda. Mungkin jabatan kita berbeda, uang yang kita miliki tidak sama. Kalau aku bisa bangga, tentu kalian juga bisa bangga dengan diri kalian.

Sulit juga berpikiran bahwa kita semua sama. Jadi mulai sekarang anggaplah kita berbeda dan memang iya. Tidak bisa kita disamakan ternyata. Aku akan menghabiskan waktu untuk memikirkan ini berulang-ulang entah untuk alasan apa. Aku cuma ingin menjadi sama. Sepi rasanya terus menerus merasa berbeda, tidak nyaman mengetahui lantaran berbeda muncul konflik.

Barangkali kita dapat menemukan persamaan dengan cara yang lain. Bagaimana kalau kubilang identitasku. Aku seroang pria, kulit kuning, pengangguran, bisa dikatakan miskin, dan belum menikah. Adakah persamaan kita temukan? Aku sangat senang mengetahui bahwa dengan cara ini, walaupun tidak dengan semua orang, aku memiliki persamaan dengan sebagian banyak orang yang lain.

Tapi aku masih belum puas. Meski sama sama menyandang keadaan miskin dan berkelamin laki, rasanya janggal. Kita tetap tidak bisa sama, tadinya kupikir bisa. Meski sama-sama miskin, tetap saja kita masih belum selaras. Apakah kita bisa sama atau tidak adalah pertanyaan penting? Kita saja akan berbeda pandangan.

Tunggu dulu, kita semua sama-sama mahkluk hidup yang punya hati, punya pikiran. Nah itu dia. Rupanya aku menemukannya, apakah kalian punya pandangan lain? Apakah kalian senang disakiti? Ataukah mungkin ada yang senang dikhianati? Mungkin saja tidak lantaran memang semua kita mahkluk hidup lengkap dengan jiwa dan pikiran. Kita merasakan kebahagian, kita sama-sama merasakan kesengsaraan. Rupanya kesamaan kita memang ada dan tidak bisa dibantah. Pada level tertentu orang-orang akan berdebat bahkan berkelahi lantaran satu perbedaan, syukurlah di level ini tidak.

Rupanya kegemaran berpikir membuat manusia terus menerus mencari sumber utama, penyebab segalanya yang utama. Hal ini mungkin akan kusampaikan kepada teman ku, namanya Ode. Agama kita berbeda, warna kulit juga. Kekayaan kita tidak sama, jabatan kita beda. Barangkali dia mau berpikir soal yang tadi kita bilang sebagai sumber utama, penyebab utama. Tapi bisa saja dia hanya akan melihat penyebab kedua, ketiga, hingga kesekian. Mungkin juga kalian. Bahwa tidak penting mencari penyebab utama. Dari situ mungkin kita akan menemukan sebab utama yang baru soal perbedaan. Itu bermula di pikiran.








Komentar