Pada detik ini anggaplah
kita sama. (Dalam hal yang kita rasakan). Dengan sekuat-kuatnya aku berusaha
menggunakan kalimat-kalimat yang bisa dipahami. Intinya supaya kita sama dan
terutama saling memahami. Kita semua pernah mengalami, paling tidak melewati
masa yang sama meski beda tempat. Apakah itu jadi perbedaan penting? Tentu
tidak. Paling tidak kita semua pernah berimajinasi untuk menjadi sama bukan?
Supaya semua orang saling memahami? Indah bukan?
Aku gemar berpikir bahwa
aku bukan normal. Ada hal yang dimiliki cuma olehku tidak oleh semua yang lain.
Ada alasan yang cuma milikku seorang, ada semangat, dan kepedihan yang punya
milikku seorang. Aku tak tahu persis apa itu, tapi aku tetap saja senang
mengaku berbeda. Setelah dipikir-pikir mungkin aku tak punya sesuatu yang
orginal hanya saja orang-orang lain yang berbeda. Ada hal yang kulalui dan
mereka tidak, ada hal yang kuketahui dan orang lain tidak. Bukan masalah apa
yang dipikirkan orang lain.
Berpikir orang lain tidak
bisa seperti ku itu saja. Mungkin saja kalian berpikiran sama, tentu kalian
punya kemarahan, alasan, semangat dan bahkan kepedihan yang jauh berbeda
denganku. Jadi apakah kita bisa disamakan? Tentu tidak. Hidup yang kita-kita
jalani berbeda, makanan yang kita makan berbeda semua-semua kita berbeda.
Mungkin jabatan kita berbeda, uang yang kita miliki tidak sama. Kalau aku bisa
bangga, tentu kalian juga bisa bangga dengan diri kalian.
Sulit juga berpikiran
bahwa kita semua sama. Jadi mulai sekarang anggaplah kita berbeda dan memang
iya. Tidak bisa kita disamakan ternyata. Aku akan menghabiskan waktu untuk
memikirkan ini berulang-ulang entah untuk alasan apa. Aku cuma ingin menjadi
sama. Sepi rasanya terus menerus merasa berbeda, tidak nyaman mengetahui
lantaran berbeda muncul konflik.
Barangkali kita dapat menemukan
persamaan dengan cara yang lain. Bagaimana kalau kubilang identitasku. Aku
seroang pria, kulit kuning, pengangguran, bisa dikatakan miskin, dan belum
menikah. Adakah persamaan kita temukan? Aku sangat senang mengetahui bahwa
dengan cara ini, walaupun tidak dengan semua orang, aku memiliki persamaan
dengan sebagian banyak orang yang lain.
Tapi aku masih belum
puas. Meski sama sama menyandang keadaan miskin dan berkelamin laki, rasanya
janggal. Kita tetap tidak bisa sama, tadinya kupikir bisa. Meski sama-sama
miskin, tetap saja kita masih belum selaras. Apakah kita bisa sama atau tidak
adalah pertanyaan penting? Kita saja akan berbeda pandangan.
Tunggu dulu, kita semua
sama-sama mahkluk hidup yang punya hati, punya pikiran. Nah itu dia. Rupanya
aku menemukannya, apakah kalian punya pandangan lain? Apakah kalian senang disakiti? Ataukah mungkin ada yang senang dikhianati? Mungkin saja tidak
lantaran memang semua kita mahkluk hidup lengkap dengan jiwa dan pikiran. Kita merasakan kebahagian, kita sama-sama merasakan kesengsaraan. Rupanya kesamaan kita memang ada dan tidak bisa dibantah. Pada level tertentu
orang-orang akan berdebat bahkan berkelahi lantaran satu perbedaan, syukurlah
di level ini tidak.
Rupanya kegemaran
berpikir membuat manusia terus menerus mencari sumber utama, penyebab segalanya
yang utama. Hal ini mungkin akan kusampaikan kepada teman ku, namanya Ode.
Agama kita berbeda, warna kulit juga. Kekayaan kita tidak sama, jabatan kita
beda. Barangkali dia mau berpikir soal yang tadi kita bilang sebagai sumber
utama, penyebab utama. Tapi bisa saja dia hanya akan melihat penyebab kedua,
ketiga, hingga kesekian. Mungkin juga kalian. Bahwa tidak penting mencari
penyebab utama. Dari situ mungkin kita akan menemukan sebab utama yang baru
soal perbedaan. Itu bermula di pikiran.
Komentar
Posting Komentar