Kubiarkan diri ku bersandar sambil berharap tertidur. Tapi
lantai ini begitu keras, lampu diatas menyilaukan, belum lagi hawa panas
seperti ada oven sedang memanggang kue kering disampingku. Tidak ada yang
beres, tidak dipikiran, tidak dikamar, ruangan satu-satunya yang kumiliki
dengan barang-barang berserakan coba kuabaikan.
Tak bisa kuurut bagaimana rasa bersyukur ini menyeruak. Tak
kubayangkan kemana akan kuletakkan tubuh dan barang-barang ini kalau hujan atau
malam datang. Pasti akan dicuri orang, padahal tak ada yang berharga baginya.
Belum lagi buku-buku ku akan basah, tahu apa hujan soal isinya.
Pak Mande cukup bermurah hati bahkan sangat. Dibiarkan aku
tinggal di salah satu rumah petaknya. Cukup luas dengan 3 bilik, dan satu kamar
mandi. Aku tahu hidupnya kaya, dua mobil terpakir digarasinya, rumahnya tinggi
dan megah, tak masalah baginya kalau aku sering telat bayar setoran bulanan.
Tidak di Jakarta, dikota manapun orang dapat mati jika tak
punya kawan atau kenalan. Yang paling mengenaskan orang bisa mati lantaran
malu. Malu untuk menawar, malu untuk meminta belas kasihan, malu untuk meminta
nasi lebih di warteg. Temanku mati lantaran terkuak berita dikampung kalau dia jadi
simpanan om-om. Malu dia pulang, semua orang rumah merasa disakiti, seakan dia
telah bersalah besar, seakan dia bukan siapasiapa lagi selain aib keluarga. Tetangga juga seakan tak punya kerjaan selain bercerita
lulu melulu memastikan satu kampung tahu anak pak Jefry, bunga desa di masa
remajanya ternyata menjual diri. Apalagi hak mu, kalau sudah begitu.
Kuingat lagi rumah, kuingat lagi semuanya dan buru-buru
kuputuskan hanya memikirkan keponakanku. Dia kecil, baru 1 tahun hidup dan tak
punya ekspektasi apaapa padaku. Yang kutahu dia akan tersenyum tulus kalau aku
pulang. Dia tak punya tatapan ibu atau bapakku, atauk kakakku yang akan dengan
cepat mencegat, dan menyidang diri ku dengan segala hukum yang bekerja dikepala
mereka. Hukum yang tak sadar ikut membunuh banyak anak muda didunia ini. Ya
hukum “hidup ideal”.
Tak sadar aku seringai. Kuingat lagi Wati, almarhum Wati.
Sungguh malang, anaknya entah dimana sekarang. Pernah kukagumi bokong dan
dadanya waktu kita SMA. Terakhir ketemu diapun masih menawan, tak pernah aku
menghakiminya atas perbuatannya, dan memang tak mau. Aku sedang menuntut
kebebasan ku daripada semuanya ini, tak mungkin lah aku duduk hakim diatas
hidup orang lain.
Ada yang mengetuk. Rupanya pak Mande, berbaju tidur menyapaku
ramah “sudah makan nak?” Disodorkan aku kantong plastik sambil senyum dia berlalu.
Tak kuharapkan apa-apa, tapi bahagia rupanya misteri yang bisa berbentuk
sekotak nasi padang, lengkap dengan ayam sekaligus rendang. Kuanggap ini cara
semesta menyatakan diri ada.
Komentar
Posting Komentar