Cermin besar menjelma di langit siang
memancar mengalahkan bulan dan bintang di malam
Sebentang masa terpampang megah
menantang mata, mata
Era bertemakan kebebasan menggema
bergetar – getar menabuh gendang di singgasana sukma
yang haus kegirangan menari – nari
Oh manusia
mengalir karya – karya besar menembus masa
mencapai akar – akar aksara, sejarah
mengilau diatas bongkahan tanah dibawah kangkangan rembulan
Masa depan mencapai begitu kilas
tidur, bangun dan wah jalan panjang berbaris
lurus menatap sang surya
Sekarang apa yang terlampau besar ?
impian tidaklah tabu lagi
dan cita – cita begitu mudah dibahasakan
Liat bukti magignya, nujum barang bernama otak itu
julang – julang menara kaca di kaki langit
berlomba menyentuh awan
saksikanlah malam menjadi begitu gemerlap
hingga waktu terlupakan
Semua tinggal sejauh tekad dan gunung terlampaui
bukit yang dulu pekat menohok semangat
kini cahaya menyembul dari sana
Lihat tampang – tampang kawakan
yang mandi kepuasan
bersiul – siul megah diatas sedan
selalu kenyang dan selalu lapar
dan diujung lorong
tergletak satu cermin, memendam aib
hilang rupa diantara malam dan bau busuk
dikeram suam – suam kubangan, becek dan air seni
para pejuang malam, penahan lapar dan manusia kelas 2, 3, 4
hingga kumpulan mawar yang tidak pernah mekar
terlentang pasrah tidak jauh dari keramaian dan gegap gempita kehidupan
di cermin mana kita bertolak?
Jogja September 2012
sumber gambar : http://irsyahar.blogspot.com/

Komentar
Posting Komentar