Langsung ke konten utama

MOMEN

Lihatlah yang muda


Alun – alun selalu penuh tiap malam bukan karna pohon besar. Segiempat jalan, bentangan malam, odong odong, tanah yang lapang, semuanya menciptakan momen.
Taman kota tidak siang atau malam tak pernah sepi. Semua yang datang butuh hiburan. Keramaian, keriuhan dan kebersamaan. Itulah momen.
Antrian panjang tiap jam pulang kerja, orang tua perlu rumah, perlu berkumpul, perlu tertawa dan makan bersama. Itu momen.

Momen, semua merindukan dan mencari – carinya. Tapi sayang, momen barang langkah. Sekali tua, momen pun punya yang muda.
Sekali yang muda tua, momen milik yang muda. Momen milik yang muda. Yang mata nya masih tajam, kaki nya masih leluasa, kepala nya masih bebas.
Momen dimana – mana jangan biarkan dia lewat kosong.

Tubuhmu hanya kekar sekali lalu keriput. Jika tua, mata mu tak lagi terang, kaki mu sudah terlalu berat, dan kepala mu sudah sakit – sakitan jangan cari momen itu.
Kau hanya bisa melihat dari kaca jendela dan layar televisi dengan hati yang terkoyak – koyak.






Yogyakarta Oktober 2013

Komentar