Langsung ke konten utama

Gerombolan Tolo

Part I

Dan kabar dari Atus pun sampai kepada konco – konco nya. Entah sejak kapan mereka merasa menjadi saudara dalam perbedaan mereka tapi yang jelas berita dari salah satu saudara yang paling tua ini telah membangun kan semangat semuanya ditengah hujan desember yang menggengam Jogja dalam tidur.

Ini tahun ke tiga mereka sebagai mahasiswa, tahun ke tiga juga dalam perjalanan yang tidak punya tujuan yang jelas. Tujuan hanya lah bayangan kata Potus, yang selalu kita bawa dan tidak pernah akan kita rengkuh. Dia hanya hilang di tempat tanpa cahaya, ya didalam kubur maksudnya. Yang terpenting bagi nya adalah perjalanan bukanlah diam dalam kenyamanan, perjalanan dalam kebersamaan intinya. Mungkin juga ini lah yang mereka percayai bersama hingga perbedaan budaya bisa mereka rendam dalam sebuah lautan petualangan bersama.

Adzan maghrib menggema, dan awan tak kunjung kering. Tapi rencana ini tak mungkin dibatalkan kecuali seseorang dari mereka membatalkannya, namun keliatannya tidak ada yang bakal mundur, di kos masing – masing semuanya telah menyiapkan diri.

Yaklep meluncur bersama Potus menebas gerimis. Di depan kampus Umbora telah sedia sejak 5 menit yang lalu. Hanya Carrier 40 Kg dan tas gantung keranjang khas Papua yang ditenteng mereka. Tak sampai setengah jam semuanya terkumpul. Potus, Yakleb, kakak tua Atus, Nong, dan Umbora. Tidak ada kata mundur dimata mereka, meski semua nya tengah lembab kehujanan. Tidak terelakan lagi, gerimis ini tidak mempengaruhi mereka, 00.30 dengan dompet seadanya gas ditancap, perjalanan mulai mengarah ke utara.

Nong membuat dingin kehilangan arti dalam perjalanan ini. Entah seperti inilah tabiat orang Flores pesisir, Maumere tempat nya, jalanan kosong tenggelam bersama kelucuan dan racau anak – anak muda karena umpatan – umpatannya. Magelang pun menyambut.

Entah kapan selain Potus, yang lain pun mulai doyan ngopi. Menembus kota Magelang yang senyap mereka pun membidik angkringan untuk beristirahat. Gampang saja bapak tua penunggu mengenali siapa kami apa lagi Umbora, dengan perangai khas bumi Papua. Bohlam kuning 5 watt, kopi, dan gorengan mengisi momen kekeluargaan ini, kehangatan Jawa tersuguh dalam kesederhanaan sebuah gerobak sego kucing. Meski kadang – kadang suasana pecah dalam tawa gara – gara Nong, namun keteduhan ini segera diakhiri dengan perpisahan. Semua tahu ini baru setengah jalan menuju tujuan.

Jalan yang lenggang mulai menghanyutkan. Saut – saut mob jarang terdengar lagi apalagi sejak masuk hutan setelah kampung Secang. Menyelinap dideretan bus – bus angkutan antar propinsi serta mobil – mobil tronton sangatlah menantang bagi mereka. Seperti sedang bernyanyi, anak – anak muda ini saling bersahutan mendahului mobil – mobil yang manja. Sesekali stir goyah terhempas lobang – lobang dan krikil namun tak juga menghiraukan. Inilah perjalanan tanpa tujuan, belajar apa saja, dan menantang apa saja, inilah yang membuat malam itu nikmat. Apalah hutan yang gelap dan jalan yang curam bagi orang – orang yang tidak mau dikekang malam dan dikurung kebiasaan.

Lampu – lampu pemukiman mulai nampak. Badan yang telah gigil dari Jogja mulai memburu nafas mereka. Hawa Ambarawa mulai menggerogoti, naik turun bukit semakin memangkas kesabaran untuk tiba di Semarang. Mengeluh pun bukan cara yang mereka sukai, dingin dan lelah merangkak ke puncak Kentang Songo Merbabu baru bulan kemarin mereka rasakan bahkan lebih parah. Semua sadar semakin berat jalan, semakin kuat hati dan mana saja kawan sejati akan muncul disituasi – situasi seperti ini.

Akhirnya mereka menyelesaikan bukit dan perlahan mulai meringsek truk – truk pabrik di jalan raya Bawen – Unggaran. Udara pun berubah 180 derajat, masuk Unggaran jauh lebih hangat, entah karena mulai mendekati pantai utara, atau gara – gara pabrik – pabrik serta asap knalpot yang 24 jam diproduksi akhirnya hawa menjadi tidak segar lagi.
Sama – sama pemadat seakan paham, menepilah mereka di Minimarket untuk membakar tembakau dan dingin. Atus yang kadang dijuluki “Batu Karang” adalah yang paling tua digerombolan ini, semua menghormati dia sebagai seorang sahabat yang bijaksana dan sangat pekah dengan kawan – kawannya. Namun jangan salah, kakak satu inilah yang paling jeli kalau soal perempuan, kemudian disusul Nong, Yaklep, lalu Umbora, semuanya sedang berburu juga hari itu. Sedikit saja wanita semok tersingkap mesti masuk radar dan imajinasi masing – masing.

Adzan Subuh menerabas langit dan memotong diskusi mereka, atap yang mulai membiru mengantar perjalanan mereka ke kota tujuan. Jantung kota telah nampak dari bibir bukit, gedung – gedung bank, mall, hotel menjulang dilangit memanggil mereka. Semuanya meluncur tanpa ragu lagi, tak ada ketegangan dan keraguan sedikitpun. Sepertinya mereka memang benar – benar mengincar terowongan itu.








Komentar