Jangan marahi kami! Karena angin serupa apapun takkan meluluhkan emosi kami! Jangan kalian sulut kebencian kami yang tenga terapung dilautan minyak yang sebentar lagi pasang. Nasehati saja dan ceritakan pengalaman kalian biar kami belajar.
Aturan bukan tapal yang mustahil kami langkahi jika ketidakpuasan sedang bergelora. Hanya amarah dan hendak Tuhan hukum kami, moral penyuluh jalan kami. Tidak ada ukuran untuk agama dan nilai, jangan sok bijak apalagi religious didepan kami.
Ada proses memang dalam berpengetahuan, tapi bukan jenjang dan gelar yang menjawabnya. Kami belum berstrata apalagi menyelesaikan disertasi, tapi kami punya mimpi. Tanpa hati ilmu berhamba pada uang, tanpa cinta kasih, karya berakhir pada penghargaan dan guru besar. Semangat! Dialah yang membumikan ide pada masyarakat, tanpa dia teori hanya ada dikepala dan penunjuk jalan menuju kuasa.
Harapan adalah yang kalian gagal rasionalkan. Idealisme adalah cahaya yang kalian gagal selamatkan. Masa depan apa yang ada dikepala kalian hingga jalan yang kalian rancang sangat gelap? Sistem apa yang kalian bingkaikan di negara ini? Prosedur menyimpangkan jalan menuju esensi, hukum menawarkan diri untuk dibeli, sementara mentri – mentri yang kalian angkat mewadahi perkoncoan proyek pembangunan bahkan pengadaan pangan. Legislatif apa yang kalian harapkan sementara mereka dipilih sistem yang mengkompromikan pembelian suara. Pengadil dan penegak apalagi, mereka telah mahir membedakan mana fakir mana miliuner. Astaga!
Keteraturan apa yang kalian sasar? Sistem telah melahirkan kegagalan di lapangan. Dia memperanakkan kemiskinan dan kesengsaraan, menghembuskan kabut tebal, hingga informasi, transparansi menjadi sangat samar. Kalian melukis bangsa kami sambil mabuk harta, menggambar peradaban kami secara buta, tidak manusiawi. Reformasi kalian biarkan basi, ide – idenya kalian taruh dimulut bukan dihati, kawan kawan kami yang tinggal prasasti mesti sakit hati. Sehingga apapun rencana yang akan merubah bangsa ini akan kalian ilegalkan. Ya kami sepaham dengan Emma, Bakunin dan Zapata.
Kalian menjelma mahkluk ekonomi tanpa perasaan. Negara sedang balik nama menjadi perusahaan swasta presiden dan sanak saudara serta handai taulannya, sumber daya alam diperdagangkan, kalian tukar komoditi berharga dengan gadget dan hasil teknologi yang adiktif bagi konsumen. Pasar berubah menjadi tempat pamer jualan asing serta kobodohan bangsa sendiri. Penyusun kebijakan bahkan mengacuhkan wajah dari sumber legitimasinya sendiri meski kesengsaraan telah melelehkan banyak orang dalam doa dan kepasrahan.
Kalian yang mengerti sistem, pelaksana, pengawas, serta pengadil negara telah mengiris luka yang dalam, kami tengah menyaksikan semuanya. Dalam serpih serpih kisah piluh ini kami kelaparan perubahan. Reformasi bukan sekedar pindah tangan rezim, demosntrasi, pemberontakan, konspirasi, serta pembunuhan aktifis. Revolusi sosial dan institusi harus mengikutinya. Revolusi harus memahamkan semua elemen, membagi penderitaan sesama anak bangsa dan menghayati kekejian rezim dan pasang surut bangsa ini demi sebuah identitas kebangsaan yang kokoh. Apalah instusi tanpa bangsa yang kuat. Seperti kemegahan agama dan organisasinya melupakan iman.
15 tahun setelah reformasi nadi kami masih mengalirkan kepercayaan, niscaya yang bisa membelah gunung dan nafas yang terus memburu cita – cita. Isme adalah senjata kami, tidak bisa dimatikan, kapan saja bisa meledak. Reformasi 15 tahun malah melahirkan kesenjangan, dan sekarang reformasi sedang kami pikirkan, perubahan sedang kami doakan, dan diri ini sedang kami abdikan. Dan negara sedang kami pertanyakan. Perlukah kesengsaraan ini dilanjutkan?


Komentar
Posting Komentar