Aku tahu, tapi bukan begini caranya! "Tahu? Trus kenapa diam aja" balas Nala. "Sudah 2 tahun dan aku tak pernah menggantikan mu dengan gadis manapun" tutupnya.
Lobi kampus telah lenggang, pagar pun sebentar lagi ditutup, hanya ada angin yang lalu lalang. Pukul 21.00.
Nala tak lagi bisa menahan kata - kata nya. Air mata pun dia tidak lagi punya, keberanian pun tinggal datang setelah dua botol Ciu Bigcola mencabut kesadarannya. Nala betul - betul menanti jawaban namun sang pujaan tetap tak bergeming.
Sudah 1 jam lagi, Nala bicara tertunduk sambil rebah dibahu sang pujaan. Matanya tak lagi kuat melek namun hati nya benar - benar terbuka. Tak ada perkataan yang dibuat - buat kali ini, atau puisi - puisi cinta yang biasa diuangkapkannya kepada sang pujaan. Semua berjalan dalam alur kemabukan, yah mabuk cinta dan alkohol. Dalam ketidaksadaran pun, Nala tetap menantikan jawaban.
Sikap sang pujaan masih saja dingin, Nala ditembak dengan pertanyaan - pertanyaan yang meragukan kesetiaanya. Nala benar - benar gusar. Seakan - akan semua usaha dan pengorbanannya tak pernah dianggap oleh sang pujaan. Nala pun diam tak mampu bicara lagi, dia hanya bisa berharap tangan yang telah dia rangkul erat sejak tadi tetap ditangannya.
Semua pun berlalu malam itu. Jam 10 lebih sang pujaan melepaskan tangannya dan bergegas pulang. Nala tak mampu lagi menafsirkan mata sang pujaan. Dia hilang bersama penantian 500 hari Nala. Malam itu Nala sempoyong bersama kegetiran. "Mabuk ini tidaklah seberapa, kepedihan ini tidaklah seberapa, sudah kuputuskan pujaan hati ku cuma dia" Nala berteriak pada traffic light dipertigaan. "Kenapa kau dengan cepat berganti warna bodoh"? "Sudah, sudah 480 hari dan aku enggan melupakan warna matanya, sedangkan kau baru sekian detik sudah meninggalkan merah menuju hijau, lantas singgah dikuning sebentar dan merah lagi" ah pekik Nala kemudian roboh
Lobi kampus telah lenggang, pagar pun sebentar lagi ditutup, hanya ada angin yang lalu lalang. Pukul 21.00.
Nala tak lagi bisa menahan kata - kata nya. Air mata pun dia tidak lagi punya, keberanian pun tinggal datang setelah dua botol Ciu Bigcola mencabut kesadarannya. Nala betul - betul menanti jawaban namun sang pujaan tetap tak bergeming.
Sudah 1 jam lagi, Nala bicara tertunduk sambil rebah dibahu sang pujaan. Matanya tak lagi kuat melek namun hati nya benar - benar terbuka. Tak ada perkataan yang dibuat - buat kali ini, atau puisi - puisi cinta yang biasa diuangkapkannya kepada sang pujaan. Semua berjalan dalam alur kemabukan, yah mabuk cinta dan alkohol. Dalam ketidaksadaran pun, Nala tetap menantikan jawaban.
Sikap sang pujaan masih saja dingin, Nala ditembak dengan pertanyaan - pertanyaan yang meragukan kesetiaanya. Nala benar - benar gusar. Seakan - akan semua usaha dan pengorbanannya tak pernah dianggap oleh sang pujaan. Nala pun diam tak mampu bicara lagi, dia hanya bisa berharap tangan yang telah dia rangkul erat sejak tadi tetap ditangannya.
Semua pun berlalu malam itu. Jam 10 lebih sang pujaan melepaskan tangannya dan bergegas pulang. Nala tak mampu lagi menafsirkan mata sang pujaan. Dia hilang bersama penantian 500 hari Nala. Malam itu Nala sempoyong bersama kegetiran. "Mabuk ini tidaklah seberapa, kepedihan ini tidaklah seberapa, sudah kuputuskan pujaan hati ku cuma dia" Nala berteriak pada traffic light dipertigaan. "Kenapa kau dengan cepat berganti warna bodoh"? "Sudah, sudah 480 hari dan aku enggan melupakan warna matanya, sedangkan kau baru sekian detik sudah meninggalkan merah menuju hijau, lantas singgah dikuning sebentar dan merah lagi" ah pekik Nala kemudian roboh
Komentar
Posting Komentar