Setelah berpikir, kukirim pesan kepada seseorang. Padanya, waktu hidupku tertambat. Supaya sebisanya meluangkan waktu untuk bertemu.
Maaf, malam ini belum bisa. Bagaimana besok? Pesan akhirnya dibalas.
*
Sahabatku, dua orang sedang meradang. Kemarin kubaca artikel judulnya "lepas dari depresi" dengan harapan mencerahkan. Ternyata isinya sampah. Penulis adalah orang bodoh yang merasa bijak dan baik, begitu yang kudapat dari beberapa argumen sebrono "depresi bisa kita atasi dengan berpikiran positiv" atau depresi itu muncul dari pikiran kita". Sampai disitu dia masih kuanggap sembrono. Artikelnya menjadi sampah ketika dia bersabda, "berpikir positiv lah", "ayo optimis", "sayangi hidupmu", "depresi tidak nyata".
Belum lama, temanku Dante menggantung sebuah kertas karton dengan tulisan "saya ingin sembuh". Itu setelah seorang psikiater menyarakannya bersama resep obat anti-depresan. Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk mencegah sahabatku dari mendrible kepala ditembok, atau aksi menyakiti diri lainnya yang dia tidak ceritakan tapi berbekas ditubuhnya.
"Pertama, ada rasa sakit, Dante sambil menunjuk perut bagian atasnya. Kamu hanya ingin dia pergi, namun dia tidak pergi, sehingga kamu perlu bersiasat, pertama merungkuk, kemudian menangis. Ketika menangis, sakit itu pindah ke kepala dan puluhan kali bertambah perih. Aku cuma ingin rasa sakit ini pergi, takbisa, kamu hanya bisa mengurangi justru dengan menciptakan rasa sakit baru".
Aku diam. Aku tak pernah mengalaminya. Yang kutahu, pasti rasanya menyakitkan. Aku berbaring disampingnya, berpikir apa yang harus dilakukan. Tidak ada. Bagaimana kau bisa tahu, hal yang tidak dipernah kau rasa apalagi berkomentar hingga memberi saran. Diakhir, aku hanya bisa menulis "jangan mati men" di karton motivasinya.
*
Besok harinya, kutunggu waktu yang pas untuk menghubunginya lagi. Annelies punya banyak kesibukkan. Dia membaca di pagi hari, berangkat kerja menjelang siang, kemudian pulang waktu malam.
"Capek?" Aku tahu dia lelah.
"Tidak juga" jawabnya tanpa ragu.
"Ngapain aja tadi?"
"Biasa saja"
"Tadi malam aku menonton film yang bagus"
"Oya, apa itu?"
"Mercy, sudah nonton?"
"Belum"
"Ceritanya persis Old Man and the Sea"
"Aha"
"Suatu waktu, di Inggris setiap pria sedang dipenuhi euforia pascah perang. Bahwa pria bisa mencapai apapun dalam hidupnya, dibuatlah lomba berhadiah utuk menantang setiap pria mengelilingi samudera dengan perahu layar, laki-laki mana yang tidak tergoda?". Puluhan pelaut menyanggupinya, menggadaikan rumah dan segala yang dimilikinya untuk membuat perahu yang diyakini dapat memberinya kejayaan. Media pun tak ingin kalah, dibekalinya semua peserta dengan radio serta kamera supaya kisah mereka dapat diberitakan. Dengan perjanjian, setiap pelaut perlu mengabarkan, dan membuat jurnal perjalanan.
"Donald, tokoh utama akhirnya tetap pada tekadnya. Berpamitan pada istri dan 3 orang anaknya bahkan tanpa memeluk mereka. Setelah ratusan hari mengarungi lautan, Semua kontestan gugur, menyisahkan Donald yang tengah terdampar dilautan Bermuda dalam kondisi fisik dan mental sekarat. Pada saat yang sama, media telah menjadikan Donald sebagai patriot. Bangsa Inggris telah menanti seorang pahlawan untuk pulang. Baik Donald maupun media telah berbohong bahwa perjalanannya berjalan sesuai rencana, dan akan tiba dikampung halamannya dalam waktu dekat. Tapi Donald tak kunjung tiba. Keluarga Donald dirundung kecemasan, sementara media dan masyarakat sadar kalau Donald telah berbohong.
Donald telah kalah jauh sebelumnya. Ketika dia memutuskan berbohong kalau perjalanannya berjalan sesuai rencana padahal tidak. Dia telah menyadari ketidakmampuannya untuk merengkuh kejayaan, sekaligus tidak mampu mengakuinya. Setelah melaut ratusan hari, dia pun kalah untuk kedua kalinya. Katanya; "Bagaimana mungkin aku berbohong untuk hal yang tidak aku lalukan"
"Tapi dia sudah berbohong kan?"
"Ya. Bagi pria, menanggung malu lebih sulit daripada bunuh diri"
"Donald yang malang, dia tidak bisa lagi pulang, memilih mati didasar laut bersama rasa malu, juga rindu pada keluarganya"
"Apakah kau yakin dia memang memilih mati?"
"Ya, itu keputusan seorang pria"
Annelies menatapku tajam. "Kamu serius?"
"Ya"
"Lagi pula Donald sebenarnya dibunuh oleh media. Kenapa terus mendesakknya menjadi seorang pahlawan, tidak ada yang memikirkan pergolakan batinnya"
"Kau punya istri, dan anak, itukah yang dikepalamu, kejayaan? Bagaimana dengan menerima kekalahan dan kembali pada keluargamu?
Kami mengakhiri perbincangan film itu. Aku merasa sesuatu telah menamparku dalam-dalam.
"Bukankah, kau telah membaca kisah Pip?"
"Ya aku tau maksudmu, ekspektasi"
"Kita sebaiknya pulang. Katanya tenang.
*
Segera aku menelpon Dante.
"Apa kabar?"
"Tenang. Aku masih hidup, katanya sambil tertawa. Aku masih ingin berjuang".
Malam itu aku tertidur nyenyak. Meski aku tahu, seorang lagi temanku ditempat yang tak bisa aku jangkau sedang melempar koin hidup atau mati. Tapi Annelies, dia terus membuatku meradang dan merasa kalah. Tapi Dante memutuskan untuk berjuang.
Badung
Februari 2019
Komentar
Posting Komentar