Langsung ke konten utama

Nenek Sonya


Sepasang kulit mata keriput akhirnya berkedip . “Sudah datang hari yang baru. Terima kasih Tuhan”, doanya dalam hati.

Keinginannya untuk bangun tertahan sejenak. Pinggangnya tak bisa lagi menekuk, keram, pilu menjadi benalu menyakitkan melekat tepat di tulang ekor. Tubuhnya sudah berjuang selama 76 tahun, sudah tiba saat kepayahan. Dipejamkan lagi matanya dan berdoa “Berikan aku sehari lagi ya Tuhan, tugasku belum kelar”.

Nenek Sonya berguling kepinggir ranjang, menurunkan tungkai kakinya dan akhirnya berdiri seutuhnya. Samar-samar Sonya berderap, menata bantal dan selimutnya seksama, kemudian berlalu keluar.

Langit belumlah benar-benar pagi. Matanya sudah berlapis katarak selama bertahun-tahun, tapi tak juga menghalanginya membuka warung kecilnya.

Meski perlahan, satu persatu papan warung dilepaskan dari alurnya.
Sonny tiba sepert biasa. “Selamat pagi tante Sonya”, kemudian mulai membantu melepas lembar-lembar papan bagian depan warung.

“Cabe, Tomat, Ikan Teri, Gula Batu, Minyak Kelapa, Surya, Sampoerna, Crystal” Sony mengabsen satu persatu bawaanya, dan menyerahkan nota dan sisa uang belanjaan sambil bergegas.
Dari kemudi pick up nya Sonny berseru “sudah saatnya istirahat tante”
“Belum Son! Belum! Tugas ku belum kelar!”


Cucu Sonya.
Menteng Wadas, 2 Desember 2018



  

Komentar