Langsung ke konten utama

Budaya Dominan

 Pada setiap masyarakat, memaknai perubahan-perubahan radikal dalam kebudayaan bisa ditelusuri lewat perubahan aktivitas. Perubahan radikal yang paling kontras tentu dapat kita temui pada periodisasi masyarakat tradisional dan modern. Corak kebudayaan yang ditunjukkan melalui perubahan aktivitas masyarakat dapat menjadi pintu masuk kita melihat hal-hal primor, kuno, tradisional, yang tadinya pernah membentuk peradaban manusia.

Seperti pada hampir seluruh masyarakat tradisional, etnis Minahasa di Sulawesi Utara, mula-mula melaksanakan kegiatan spiritual dengan diperantarai oleh objek-objek alam semisal pohon, batu, binatang, dan dipimpin oleh Shaman yang disebut Wailan. Objek ini tidak lain dari simbol dari kekuatan astral yang menyelenggarakan kehidupan yang oleh masyarakat Minahasa dipanggi Opo. Kekuatan astral ini, utamanya dipercayai oleh masyarakat Minahasa sebagai kekuatan yang mengatur keberhasilan panen, juga yang maha tahu, juga yang menjaga manusia-manusia Minahasa. Opo merupakan simbolisasi Tuhan pada masyarakat Minahasa juga kemudian disebut Opo Wananatas (Dia yang diatas), Opo Empung (Dia yang empunya), Opo Walian Wangko (Dia yang besar). Sebutan ini tentu merupakan personifikasi opo-Tuhan.  Yang dalam praktiknya, Opo tidak memberikan memberikan perintah. Opo dalam nyanyian, dan doa masyarakat  Minahasa tradisional merupakan objek tempat masyarakat mengucapkan syukur dan terimakasih, tempat masyarakat meminta, juga subjek yang mengadai alam, menguasai kehidupan, dan memberi petunjuk. Dari sisi ini menjadi wajar jika kegiatan spiritual orang Minahasa tradisional tidak memiliki nama yang definitif selain kepercayaan, lantaran agama adalah kosakata yang lahir bersamaan dengan modernisasi bukan hal yang primor sama sekali.

Adalah Kristen yang berhasil menggusur kepercayaan masyarakat tradisional Minahasa. Secara spiritual, keberhasilan Kristen dapat kita temui pada aktivitas masyarakat yang berubah. Secara ritual, dan seremonial kini model tradisional berubah ala Kristen. Gereja, berdoa, puji-pujian, diakonia dst seterusnya merupakan beberapa aktivitas formal keagamaan masyarakat Minahasa pascah keberhasilan penginjil-pengijil Eropa menyebarkan, dan memenangkan hati masyarakat tradisional Minahasa dengan ajaran Kristen. Perubahan radikal yang dapat ditemui sudah tentu etik dan konsep ketuhanan yang baru yang sifat, bentuk, dan ajarannya jelas. Aktivitas berubah seiring agama dan kepercayaan yang baru. Sejak agama Kristen secara inheren adalah dogmatis maka agama ini menghasilkan institusi gereja dan etika formal serta melakukan abjeksi pada bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan dogma Kristiani yang bersumber pada alkitab yang diawasi oleh gereja dan pendeta.

Semisal, seorang yang dinyatakan Kristen harus dibabtis dan disaksikan sekaligus disahkan oleh gereja melalui pendeta dan keabsahannya akan dimuat dalam selembar surat babtis. Menjadi Kristen berarti menjadi orang yang secara esensial mempercayai Yesus Kristus dan secara formal dibabtis dan menjadi anggota jemaat gereja dimana pada bagian formal ini hak dan kewajiban seorang Kristen diatur. Segala model seremonial, dan simbol-simbol kepercayaan tradisional tentu tidak diperkenankan lagi oleh gereja.  
           
Perubahan selanjutnya, mengenai yang modern dan tradisional dapat kita temui di sistem kerja masyarakat tradisional Minahasa menuju kerja modern. Kerja dalam aktivitas masyarakat tradisional Minahasa adalah berkebun, beternak, mengrajin, dan berburu. Selain untuk pemenuhan kebutuhan juga sebagai bentuk kerja abstrak dimana masyarakat menyadari kehidupannya dengan bekerja. Kerja dimana masyarakat mengelolah diri sekaligus mengelolah alam sebagai sumber kehidupan. Model kerja ini tentu juga digusur oleh kerja modern. Utamanya pada motif kerja. Motif kerja modern bukan lagi pada soal mengelolah alam dan diri, juga pada pemenuhan kebutuhan melainkan uang. Pergeseran nilai dalam kerja ini menjadi pembeda utama kerja modern dan kerja tradisional. Pemenuhan kebutuhan di era modern perlu diperantarai oleh uang dan kemudian perlu ditransaksikan untuk menghasilkan kebutuhan. Kerja modern sama sekali tidak berkaitan dengan mengelolah diri dan alam melainkan memperoleh nilai yang bisa ditukarkan dengan kebutuhan (uang). Tentu perubahan ini diikuti bahkan didahului oleh perubahan lainnya terlebih dahulu, namun dari segi motif, kerja modern adalah kerja yang untuk memperoleh dan mengakumulasi uang bukan lagi sekedar pemenuhan kebutuhan dan bentuk aktualisasi kemampuan manusia dalam mengelolah alam tempat dia hidup.
           
Motif kerja ini tentu didorong oleh perubahan nilai hasil kerja. Pada masyarakat tradisional nilai suatu kerja tidak memiliki ukuran yang jelas. Hasil kerja dihargai berdasarkan proses kerja dan kepuasan setelah dikonsumsi atau dibarterkan atau bahkan dibagikan (relasi sosial). Semisal, dalam kalendar kerja masyarakat Minahasa, tengah tahun merupakan periode panen raya. Panen ini disebut raya lantaran pada bulan-bulan tersebut baik padi, buah-buahan,dan segala hasil bumi yang diolah telah siap untuk dipanen. Seorang pemilik sawah, atau kebun cabai, tomat, kentang, juga hasi ternak seperti ikan, akan mengundang masyarakat desanya untuk melakukan aktivitas panen. Hasil panen disimpan sebagian, sebagian lagi dibagikan kepada masyarakat yang ikut serta dalam panen raya atau pada saudara keluarga. Hal ini berlaku sebaliknya pada pemilik kebun yang lain. Aktivitas ini disebut dengan Mapalus. Sistem kerja ini merupakan kerja sosial dimana kerja menghasilkan relasi sosial yang memiliki makna. Kerja Mapalus dalam masyarakat Minahasa tradisional juga mewajibkan pihak yang lahannya dipanen menjamu makan. Nilai dalam kerja masyarakat tradisional tidak hanya soal kepuasan konsumsi, tapi juga ikatan sosial yang sifatnya timbal balik.

 Tentu kerja Mapalus dalam kerja modern akan berubah lantaran nilai dalam kerja modern adalah selalu bisa diukur dan dihitung melalui uang. Uang adalah nilai yang rill dari suatu hasil kerja. Hasil panen tentu harus diuangkan supaya ada nilainya dan dapat dipertukarkan. Penobatan uang sebagai alat ukur dan standar dari suatu hasil kerja menciptakan perhitungngan disetiap kerja. Kerja yang tepat adalah kerja yang hasilnya bernilai banyak (uang) bukan lagi bernilai sosial. Tentu perubahan ini menggerus kebiasaan masyarakat tradisional Minahasa  untuk saling memberi kelebihan hasil panen kepada tetangga, atau sebaliknya saling meminta kebutuhan pokok jika sedang berkekurangan. Saling beri-minta kehilangan makna sosial lantaran barang yang akan diberikan telah bernilai ekonomis atau telah ada harganya. Pendek kata kerja modern adalah kerja yang terlepas dari makna-makna relasi sosial tradisional seperti kekeluargaan dan ketergantungan sosial. Kerja modern membentuk ketergantungan produksi dan konsumsi namun meniadakan ketergantungan relasi yang bermakna dan bernilai sosial.

Tentu perubahan juga terjadi disektor tatacara hubungan sosial serta sektor-sektor kehidupan masyarakat lainnya. Perubahan ini memperlihatkan dinamisme dan kemampuan bertransformasi manusia itu sendiri. Tidak hanya di masyarakat Minahasa tradisional, melainkan diseluruh masyarakat dunia telah terjadi perubahan yang radikal disetiap lembar peradaban masyarakatnya. Tentu saja keberhasilan suatu cara hidup (budaya) ditopang secara resiprokal oleh struktur (bahasa, institusi) dan agen (individu, masyarakat)  untuk jadi dominan. Dominan berarti berhasil mengalahkan kebudayaan lainnya atau yang primor, tradisional. Dan setiap budaya dominan selalu berupaya menggapai absolutisme dengan cara menegasi dan mengabjeksikan segala bentuk ide, cara, yang bertentangan dengannya. Semisal bagaimana praktik berdoa di depan batu, atau membaca suara burung sebagai pesan dari sang kuasa, atau ritual memperoleh ilmu kebal pada masyarakat tradisional Minahasa terus menerus dilarang oleh Gereja selama berabad –abad hingga akhirnya kini aktivitas tersebut menjadi tidak normal.  

Setiap budaya dominan tentu menguasai seluruh sektor kehidupan. Dia menguasai pikiran dan laku masyarakatnya. Meski begitu, setiap budaya dominan memiliki keretakan. Titik dimana dominasinya mulai disangsikan bahkan berupaya dilawan meski dalam bentuk-bentuk parsial dan dalam tingkatan tertentu. Sebelum menjadi Kristen, tentu terjadi konflik dalam masyarakat tradisional Minahasa dalam menanggapi masuknya penginjil-penginjil Eropa. Begitu juga dalam sistem kerja modern, muncul kesangsian mengenai apakah kebutuhan manusia yang sebenarnya itu atau mengapa setiap hasil kerja harus dinilai dengan uang. Keretakan suatu budaya dominan seringkali muncul bukan diawal penyebarannya melainkan setelah dia berhasil menguasai sebuah masyarakat.

Tentu budaya dominan dewasa ini adalah budaya modern. Budaya dimana produksi dan konsumsi secara masif terbentuk. Budaya yang menempatkan nilai ekonomis sebagai yang utama. Budaya yang secara resiprokal dibentuk struktur-agen. Budaya yang mengidealkan manusia sebagai subjek yang bebas sekaligus membatasi manusia sebagai agen ekonomi. Seperti dua contoh diatas, budaya modern dapat kita telusuri dari aktivitas, kerja, motif kerja, hingga produksi dan konsumsi masyarakatnya. Budaya ini seperti semua kebudayaan mensyaratkan idealitas, etika, dan normalitas.

 Idealitas adalah kondisi ideal seorang manusia. Kondisi ideal ini berkaitan dengan unsur-unsur apa saja yang harus dimiliki oleh seorang manusia. Sejak idealitas merupakan syarat utama suatu kebudayaan maka tentu saja sifatnya menghendaki absolut. Idealitas berlangsung dialam pikir manusia tempat dimana dia memimpikan, mengandaikan kehidupan yang sempurna. Dimana seseorang merencanakan dan meneguhkan diri. Idealitas budaya modern tentu berwjud dalam banyak hal seperti cita-cita, impian, hasrat, selera, kelas. Cita-cita orang modern tentu surplus materi, menjadi seorang CEO, menjadi Enterpreneur, Youtuber dan banyak lagi.

Dalam merealisasikan idealitasnya, setiap manusia tidak lepas dari etika kebudayaan itu sendiri. Etika berkaitan dengan tatacara prilaku yang ditentukan berdasarkan pertimbangan moralitas. Moralitas budaya modern tentu beragam bentuknya seperti hak asasi, kemanusiaan, dll. Supaya mantap suatu kebudayaan yang dominan maka perlu ada normalitas. Normalitas merupakan prasyarat norma bagi setiap manusia dengan idealitasnya. Norma ini membatasi mana saja perilaku yang sesuai dan tidak sesuai. Normalitas menjaga supaya seseorang tidak keluar dari kebudayaan itu sendiri. Melalui norma, budaya dominan melakukan abjeksi terus menerus terhadap seluruh ide, dan cara berlaku budaya lainnya hingga terciptakan stabilitas kewajaran.  

Tentu keretakkan suatu budaya dominan melahirkan argumen-argumen baru. Tentu keretakan ini terlampau kecil untuk membandingkan mana budaya yang paling benar atau yang paling baik apakah yang modern atau tradisional. Namun keretakkan itu terlalu besar untuk diabaikan lantaran berkaitan dengan fitrah manusia itu sendiri yakni dinamis dan bebas. Celah ini muncul ditengah pusaran budaya modern yang pada akhirnya memenjarakan manusia itu sendiri sekaligus menciptakan konflik pada tingkatan masyarakat.

Hal itu adalah abjeksi. Abjeksi merupakan pembelahan atau pendikotomian secara positif-negatif. Setiap kebudayaan dominan seperti dijelaskan terbentuk atas ide, etik, dan norma. Abjeksi adalah penegasian atau pelabelan negatif, atau isolasi terhadap ide, etik, dan norma budaya yang lain. Abjeksi adalah cara budaya dominan untuk mejadi absolut dengan cara memusnahkan kebudayaan lainnya. Contohnya seperti yang terjadi pada sistem kepercayaan dan sistem kerja masyarakat tradisional Minahasa. Dominasi yang akhirnya menjadi relatif mutlak dari suatu kebudayaan menyebabkan kritik bahkan mekanisme evaluasi internal kebudayaan itu menjadi kebal. Hal ini membuat seolah-olah kebudayaan modern adalah suatu hal yang mutlak. Praktisnya bahwa setiap ide, cara pandang, etika, dan norma yang berlaku, dipercayai, dan dilakukan oleh masyarakat adalah sudah yang paling tepat. Dan yang paling parah adalah menganggap bahwa hal itu sudah seharusnya ada dan terlebih lagi melabeli kebudayaan tradisional sebagai kebudayaan yang kuno dan irasional.

Pola superioritas dan abjeksi ini tentu mengekang kemanusiaan itu sendiri. Mengekang kebebasan dan daya kritis serta kemampuan revolusional manusia. Tentu kebudayaan dominan mewujud sebagai negara, universitas, keluarga, masyarakat dan segala pranata yang fungsinya menata kehidupan sosial. Untuk pembunuhan jutaan orang Papua yang hendak merdeka, masyarakat Indonesia akan setuju dan mengizinkan negaranya berperang. Sebaliknya ribuan tentara akan rela membunuh demi negara. Juga untuk negara menggusur dan merelokasi tempat tinggal orang, masyarakat akan mengisinkan, juga untuk menghukum mati seseorang, masyarakat mengisinkan negara. Seakan-akan apapun itu untuk kepentingan negara kita mengiyakan. Praktik keseolah-olahan ini juga terjadi di kampus, dan keluarga. Seolah-olah kelak akan jadi apa kita sudah ditentukan sebelumnya dan hal itu benar adanya. Tentu saja keseolah-olahan ini bersumber dari ide, etik, dan norma yang sudah mapan dan lama membentuk struktur masyarakat. Dialah budaya dominan bernama modernitas.
          
  
             

Komentar