Pada setiap masyarakat, memaknai perubahan-perubahan
radikal dalam kebudayaan bisa ditelusuri lewat perubahan aktivitas. Perubahan
radikal yang paling kontras tentu dapat kita temui pada periodisasi masyarakat
tradisional dan modern. Corak kebudayaan yang ditunjukkan melalui perubahan aktivitas
masyarakat dapat menjadi pintu masuk kita melihat hal-hal primor, kuno,
tradisional, yang tadinya pernah membentuk peradaban manusia.
Motif kerja ini tentu didorong oleh perubahan nilai hasil kerja. Pada masyarakat tradisional nilai suatu kerja tidak memiliki ukuran yang jelas. Hasil kerja dihargai berdasarkan proses kerja dan kepuasan setelah dikonsumsi atau dibarterkan atau bahkan dibagikan (relasi sosial). Semisal, dalam kalendar kerja masyarakat Minahasa, tengah tahun merupakan periode panen raya. Panen ini disebut raya lantaran pada bulan-bulan tersebut baik padi, buah-buahan,dan segala hasil bumi yang diolah telah siap untuk dipanen. Seorang pemilik sawah, atau kebun cabai, tomat, kentang, juga hasi ternak seperti ikan, akan mengundang masyarakat desanya untuk melakukan aktivitas panen. Hasil panen disimpan sebagian, sebagian lagi dibagikan kepada masyarakat yang ikut serta dalam panen raya atau pada saudara keluarga. Hal ini berlaku sebaliknya pada pemilik kebun yang lain. Aktivitas ini disebut dengan Mapalus. Sistem kerja ini merupakan kerja sosial dimana kerja menghasilkan relasi sosial yang memiliki makna. Kerja Mapalus dalam masyarakat Minahasa tradisional juga mewajibkan pihak yang lahannya dipanen menjamu makan. Nilai dalam kerja masyarakat tradisional tidak hanya soal kepuasan konsumsi, tapi juga ikatan sosial yang sifatnya timbal balik.
Seperti pada hampir seluruh masyarakat tradisional, etnis
Minahasa di Sulawesi Utara, mula-mula melaksanakan kegiatan spiritual dengan
diperantarai oleh objek-objek alam semisal pohon, batu, binatang, dan dipimpin
oleh Shaman yang disebut Wailan.
Objek ini tidak lain dari simbol dari kekuatan astral yang menyelenggarakan
kehidupan yang oleh masyarakat Minahasa dipanggi Opo. Kekuatan astral ini, utamanya dipercayai oleh masyarakat
Minahasa sebagai kekuatan yang mengatur keberhasilan panen, juga yang maha
tahu, juga yang menjaga manusia-manusia Minahasa. Opo merupakan simbolisasi
Tuhan pada masyarakat Minahasa juga kemudian disebut Opo Wananatas (Dia yang
diatas), Opo Empung (Dia yang empunya), Opo Walian Wangko (Dia yang besar).
Sebutan ini tentu merupakan personifikasi opo-Tuhan. Yang dalam praktiknya, Opo tidak memberikan
memberikan perintah. Opo dalam nyanyian, dan doa masyarakat Minahasa tradisional merupakan objek tempat
masyarakat mengucapkan syukur dan terimakasih, tempat masyarakat meminta, juga
subjek yang mengadai alam, menguasai kehidupan, dan memberi petunjuk. Dari sisi
ini menjadi wajar jika kegiatan spiritual orang Minahasa tradisional tidak
memiliki nama yang definitif selain kepercayaan, lantaran agama adalah kosakata
yang lahir bersamaan dengan modernisasi bukan hal yang primor sama sekali.
Adalah Kristen yang berhasil menggusur kepercayaan masyarakat
tradisional Minahasa. Secara spiritual, keberhasilan Kristen dapat kita temui
pada aktivitas masyarakat yang berubah. Secara ritual, dan seremonial kini
model tradisional berubah ala Kristen. Gereja, berdoa, puji-pujian, diakonia
dst seterusnya merupakan beberapa aktivitas formal keagamaan masyarakat
Minahasa pascah keberhasilan penginjil-pengijil Eropa menyebarkan, dan
memenangkan hati masyarakat tradisional Minahasa dengan ajaran Kristen.
Perubahan radikal yang dapat ditemui sudah tentu etik dan konsep ketuhanan yang
baru yang sifat, bentuk, dan ajarannya jelas. Aktivitas berubah seiring agama
dan kepercayaan yang baru. Sejak agama Kristen secara inheren adalah dogmatis
maka agama ini menghasilkan institusi gereja dan etika formal serta melakukan
abjeksi pada bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan dogma Kristiani yang
bersumber pada alkitab yang diawasi oleh gereja dan pendeta.
Semisal, seorang yang dinyatakan Kristen harus dibabtis
dan disaksikan sekaligus disahkan oleh gereja melalui pendeta dan keabsahannya
akan dimuat dalam selembar surat babtis. Menjadi Kristen berarti menjadi orang
yang secara esensial mempercayai Yesus Kristus dan secara formal dibabtis dan
menjadi anggota jemaat gereja dimana pada bagian formal ini hak dan kewajiban
seorang Kristen diatur. Segala model seremonial, dan simbol-simbol kepercayaan
tradisional tentu tidak diperkenankan lagi oleh gereja.
Perubahan selanjutnya, mengenai yang modern dan
tradisional dapat kita temui di sistem kerja masyarakat tradisional Minahasa
menuju kerja modern. Kerja dalam aktivitas masyarakat tradisional Minahasa
adalah berkebun, beternak, mengrajin, dan berburu. Selain untuk pemenuhan
kebutuhan juga sebagai bentuk kerja abstrak dimana masyarakat menyadari
kehidupannya dengan bekerja. Kerja dimana masyarakat mengelolah diri sekaligus
mengelolah alam sebagai sumber kehidupan. Model kerja ini tentu juga digusur
oleh kerja modern. Utamanya pada motif kerja. Motif kerja modern bukan lagi
pada soal mengelolah alam dan diri, juga pada pemenuhan kebutuhan melainkan
uang. Pergeseran nilai dalam kerja ini menjadi pembeda utama kerja modern dan
kerja tradisional. Pemenuhan kebutuhan di era modern perlu diperantarai oleh
uang dan kemudian perlu ditransaksikan untuk menghasilkan kebutuhan. Kerja
modern sama sekali tidak berkaitan dengan mengelolah diri dan alam melainkan
memperoleh nilai yang bisa ditukarkan dengan kebutuhan (uang). Tentu perubahan
ini diikuti bahkan didahului oleh perubahan lainnya terlebih dahulu, namun dari
segi motif, kerja modern adalah kerja yang untuk memperoleh dan mengakumulasi
uang bukan lagi sekedar pemenuhan kebutuhan dan bentuk aktualisasi kemampuan
manusia dalam mengelolah alam tempat dia hidup.
Motif kerja ini tentu didorong oleh perubahan nilai hasil kerja. Pada masyarakat tradisional nilai suatu kerja tidak memiliki ukuran yang jelas. Hasil kerja dihargai berdasarkan proses kerja dan kepuasan setelah dikonsumsi atau dibarterkan atau bahkan dibagikan (relasi sosial). Semisal, dalam kalendar kerja masyarakat Minahasa, tengah tahun merupakan periode panen raya. Panen ini disebut raya lantaran pada bulan-bulan tersebut baik padi, buah-buahan,dan segala hasil bumi yang diolah telah siap untuk dipanen. Seorang pemilik sawah, atau kebun cabai, tomat, kentang, juga hasi ternak seperti ikan, akan mengundang masyarakat desanya untuk melakukan aktivitas panen. Hasil panen disimpan sebagian, sebagian lagi dibagikan kepada masyarakat yang ikut serta dalam panen raya atau pada saudara keluarga. Hal ini berlaku sebaliknya pada pemilik kebun yang lain. Aktivitas ini disebut dengan Mapalus. Sistem kerja ini merupakan kerja sosial dimana kerja menghasilkan relasi sosial yang memiliki makna. Kerja Mapalus dalam masyarakat Minahasa tradisional juga mewajibkan pihak yang lahannya dipanen menjamu makan. Nilai dalam kerja masyarakat tradisional tidak hanya soal kepuasan konsumsi, tapi juga ikatan sosial yang sifatnya timbal balik.
Tentu kerja Mapalus dalam kerja modern akan berubah
lantaran nilai dalam kerja modern adalah selalu bisa diukur dan dihitung
melalui uang. Uang adalah nilai yang rill dari suatu hasil kerja. Hasil panen
tentu harus diuangkan supaya ada nilainya dan dapat dipertukarkan. Penobatan
uang sebagai alat ukur dan standar dari suatu hasil kerja menciptakan perhitungngan
disetiap kerja. Kerja yang tepat adalah kerja yang hasilnya bernilai banyak
(uang) bukan lagi bernilai sosial. Tentu perubahan ini menggerus kebiasaan
masyarakat tradisional Minahasa untuk
saling memberi kelebihan hasil panen kepada tetangga, atau sebaliknya saling
meminta kebutuhan pokok jika sedang berkekurangan. Saling beri-minta kehilangan
makna sosial lantaran barang yang akan diberikan telah bernilai ekonomis atau
telah ada harganya. Pendek kata kerja modern adalah kerja yang terlepas dari
makna-makna relasi sosial tradisional seperti kekeluargaan dan ketergantungan
sosial. Kerja modern membentuk ketergantungan produksi dan konsumsi namun
meniadakan ketergantungan relasi yang bermakna dan bernilai sosial.
Tentu perubahan juga terjadi disektor tatacara hubungan
sosial serta sektor-sektor kehidupan masyarakat lainnya. Perubahan ini memperlihatkan
dinamisme dan kemampuan bertransformasi manusia itu sendiri. Tidak hanya di
masyarakat Minahasa tradisional, melainkan diseluruh masyarakat dunia telah
terjadi perubahan yang radikal disetiap lembar peradaban masyarakatnya. Tentu
saja keberhasilan suatu cara hidup (budaya) ditopang secara resiprokal oleh
struktur (bahasa, institusi) dan agen (individu, masyarakat) untuk jadi dominan. Dominan berarti berhasil
mengalahkan kebudayaan lainnya atau yang primor, tradisional. Dan setiap budaya
dominan selalu berupaya menggapai absolutisme dengan cara menegasi dan
mengabjeksikan segala bentuk ide, cara, yang bertentangan dengannya. Semisal
bagaimana praktik berdoa di depan batu, atau membaca suara burung sebagai pesan
dari sang kuasa, atau ritual memperoleh ilmu kebal pada masyarakat tradisional
Minahasa terus menerus dilarang oleh Gereja selama berabad –abad hingga
akhirnya kini aktivitas tersebut menjadi tidak normal.
Setiap budaya dominan tentu menguasai seluruh sektor kehidupan.
Dia menguasai pikiran dan laku masyarakatnya. Meski begitu, setiap budaya
dominan memiliki keretakan. Titik dimana dominasinya mulai disangsikan bahkan
berupaya dilawan meski dalam bentuk-bentuk parsial dan dalam tingkatan tertentu.
Sebelum menjadi Kristen, tentu terjadi konflik dalam masyarakat tradisional
Minahasa dalam menanggapi masuknya penginjil-penginjil Eropa. Begitu juga dalam
sistem kerja modern, muncul kesangsian mengenai apakah kebutuhan manusia yang
sebenarnya itu atau mengapa setiap hasil kerja harus dinilai dengan uang.
Keretakan suatu budaya dominan seringkali muncul bukan diawal penyebarannya
melainkan setelah dia berhasil menguasai sebuah masyarakat.
Tentu budaya dominan dewasa ini adalah budaya modern.
Budaya dimana produksi dan konsumsi secara masif terbentuk. Budaya yang
menempatkan nilai ekonomis sebagai yang utama. Budaya yang secara resiprokal
dibentuk struktur-agen. Budaya yang mengidealkan manusia sebagai subjek yang
bebas sekaligus membatasi manusia sebagai agen ekonomi. Seperti dua contoh
diatas, budaya modern dapat kita telusuri dari aktivitas, kerja, motif kerja,
hingga produksi dan konsumsi masyarakatnya. Budaya ini seperti semua kebudayaan
mensyaratkan idealitas, etika, dan normalitas.
Idealitas adalah kondisi ideal seorang manusia. Kondisi
ideal ini berkaitan dengan unsur-unsur apa saja yang harus dimiliki oleh
seorang manusia. Sejak idealitas merupakan syarat utama suatu kebudayaan maka
tentu saja sifatnya menghendaki absolut. Idealitas berlangsung dialam pikir
manusia tempat dimana dia memimpikan, mengandaikan kehidupan yang sempurna.
Dimana seseorang merencanakan dan meneguhkan diri. Idealitas budaya modern
tentu berwjud dalam banyak hal seperti cita-cita, impian, hasrat, selera, kelas.
Cita-cita orang modern tentu surplus materi, menjadi seorang CEO, menjadi
Enterpreneur, Youtuber dan banyak lagi.
Dalam merealisasikan idealitasnya, setiap manusia tidak
lepas dari etika kebudayaan itu sendiri. Etika berkaitan dengan tatacara
prilaku yang ditentukan berdasarkan pertimbangan moralitas. Moralitas budaya
modern tentu beragam bentuknya seperti hak asasi, kemanusiaan, dll. Supaya
mantap suatu kebudayaan yang dominan maka perlu ada normalitas. Normalitas
merupakan prasyarat norma bagi setiap manusia dengan idealitasnya. Norma ini
membatasi mana saja perilaku yang sesuai dan tidak sesuai. Normalitas menjaga supaya
seseorang tidak keluar dari kebudayaan itu sendiri. Melalui norma, budaya
dominan melakukan abjeksi terus menerus terhadap seluruh ide, dan cara berlaku
budaya lainnya hingga terciptakan stabilitas kewajaran.
Tentu keretakkan suatu budaya dominan melahirkan
argumen-argumen baru. Tentu keretakan ini terlampau kecil untuk membandingkan
mana budaya yang paling benar atau yang paling baik apakah yang modern atau
tradisional. Namun keretakkan itu terlalu besar untuk diabaikan lantaran
berkaitan dengan fitrah manusia itu sendiri yakni dinamis dan bebas. Celah ini
muncul ditengah pusaran budaya modern yang pada akhirnya memenjarakan manusia
itu sendiri sekaligus menciptakan konflik pada tingkatan masyarakat.
Hal itu adalah abjeksi. Abjeksi merupakan pembelahan atau
pendikotomian secara positif-negatif. Setiap kebudayaan dominan seperti
dijelaskan terbentuk atas ide, etik, dan norma. Abjeksi adalah penegasian atau
pelabelan negatif, atau isolasi terhadap ide, etik, dan norma budaya yang lain.
Abjeksi adalah cara budaya dominan untuk mejadi absolut dengan cara memusnahkan
kebudayaan lainnya. Contohnya seperti yang terjadi pada sistem kepercayaan dan
sistem kerja masyarakat tradisional Minahasa. Dominasi yang akhirnya menjadi relatif
mutlak dari suatu kebudayaan menyebabkan kritik bahkan mekanisme evaluasi
internal kebudayaan itu menjadi kebal. Hal ini membuat seolah-olah kebudayaan
modern adalah suatu hal yang mutlak. Praktisnya bahwa setiap ide, cara pandang,
etika, dan norma yang berlaku, dipercayai, dan dilakukan oleh masyarakat adalah
sudah yang paling tepat. Dan yang paling parah adalah menganggap bahwa hal itu
sudah seharusnya ada dan terlebih lagi melabeli kebudayaan tradisional sebagai
kebudayaan yang kuno dan irasional.
Pola superioritas dan abjeksi ini tentu mengekang
kemanusiaan itu sendiri. Mengekang kebebasan dan daya kritis serta kemampuan
revolusional manusia. Tentu kebudayaan dominan mewujud sebagai negara,
universitas, keluarga, masyarakat dan segala pranata yang fungsinya menata
kehidupan sosial. Untuk pembunuhan jutaan orang Papua yang hendak merdeka,
masyarakat Indonesia akan setuju dan mengizinkan negaranya berperang.
Sebaliknya ribuan tentara akan rela membunuh demi negara. Juga untuk negara
menggusur dan merelokasi tempat tinggal orang, masyarakat akan mengisinkan,
juga untuk menghukum mati seseorang, masyarakat mengisinkan negara. Seakan-akan
apapun itu untuk kepentingan negara kita mengiyakan. Praktik keseolah-olahan
ini juga terjadi di kampus, dan keluarga. Seolah-olah kelak akan jadi apa kita
sudah ditentukan sebelumnya dan hal itu benar adanya. Tentu saja keseolah-olahan ini bersumber dari ide, etik, dan norma yang sudah mapan dan lama membentuk struktur masyarakat. Dialah budaya dominan bernama modernitas.
Komentar
Posting Komentar