Langsung ke konten utama

Mimpi-Mimpi Anak Muda

*
Serius kah teman – teman ku ini dengan resolusinya?
Waktu itu, malam terakhir tahun 2014. Kalau tidak ada bencana dahsyat, besok pagi, matahari pertama tahun 2015 akan kita lihat.

*
Langit mulai benderang. Sepertinya aku harus tidur, mungkin sudah sekitar 25 jam aku tidak tidur. Sudah setahun aku berkutat dengan jalan cerita kehidupan, entah apa yang salah atau aku yang salah sampai belum ada tanda – tanda akan selesai jalan panas ini. Astaga. Besok sepertinya aku harus mengajak wanitaku camping, ya di tempat favorit kita dulu, ya pos 4 Jalur Selo Merbabu.

Sejak awal bertemu sampai kita bercinta rupanya aku memang tidak salah memilih kekasih. Ya petualangan selalu membebani kita, dimana saja dan kapan saja. Tanpa pikir panjang 2 hari lagi kita sepakat berangkat ke kota tempat kita berdua bertemu. Sungguh ini akan akan menjadi perjalanan yang emosional.

*
Kembang api pun mulai bermekaran di langit pantai selatan. Angkasa berubah rupa, begitu terang penuh warna, gemuruh ombak hilang ditelan dentuman – dentuman petasan. Aku pun berjalan terhuyung – huyung menghampiri satu persatu sahabat – sahabatku. Apa resolusi buat 2015 Ryan? RINJAAAAAAANIIII! Teriaknya liar. Dan kamu Joe? Lulus Brother! Pekiknya. Haha ya semua orang disini ingin agar – agar cepat lulus dalam hatiku. Tahun depan akan jadi tahun ke enam, tahun berikutnya akan jadi tahun terakhir bagi kita kalau saja belum juga lulus, astaga.

US!!!!! Teriaku. Aku berniat untuk merekam semua resolusi dari teman – temanku, tapi, tapi, Anggur merah, Beer, Arak Lokal, ah apalagi yah yang sudah merasuki ku, berjalan saja begitu melelahkan .

*
Tiket kereta sudah ditangan, ya tampaknya perjalanan kali ini tidak mungkin dihindarkan lagi. Rumah Pembangkang pun lagi sepi kerjaan, jadi ditinggalkan seminggu juga tidak akan ada masalah. Rey pun tidak ada masalah, malah baru saja gajian, setelah 3 bulan hidup irit gara – gara sponsor dengan segala alasannya menunda pembayaran. Sebulan kedepan pun event management nya tidak punya acara – acara besar, jadi tidak butuh banyak crew.

Sungguh, packing selalu menjadi hal yang begitu berkesan bagiku. Bongkar muat carrier, ini seperti sedang merencanakan sebuah pelarian, yah pelarian menuju sebuah negeri idaman, meninggalkan segalanya dibelakang dan menatap segala hal – hal yang baru selama perjalanan. Rey paham betul maksud ku dan dia pun pasti merasakannya. Kita berdua bertemu dalam sebuah pelarian, ya pelarian dari hidup, dan akhirnya bersua dalam sebuah percakapan, dimana isi kepala kita ternyata tidak jauh beda dan pada saat yang paling konyol tergoda untuk berandai-andai berumah tangga. 
.
Rey meliriku, “Bacardi tonight babe?”, “Yup, i was think so”  jawabku. “Haha dasar pemabuk” sambungnya. “haha kan situ yang baru gajian” balas ku.

*
Akhirnya aku bisa menemukan sahabat ku yang satu ini. Sambil terhuyung – huyung aku berjalan menghampirinya, Us, resolusi tahun ini apa? “KETEMU JODOH DAN LULUS!” teriaknya mabuk kemudian kembali meneguk beernya. Mey! Kalo kamu? “SLIM!, tahun ini aku pengen kuruuuuuus kak, hahaha”.

Dentuman kembang api perlahan – lahan mulai habis diganti dengan suara musik. Dentuman speaker mulai begertar di dada. Ya untuk tahun baru ini geng Parikesit memindahkan meja dj ke pantai. Lagu kebangsaan pun diputar, yah Rude – Magic, gila – gilaan pun dimulai.

Aku pun melanjutkan perjalanan mengejar resolusi teman – temanku. Kepala tambah berat, entah kapan botol – botol minuman itu akan kosong. Aku pun menghampiri pengiring musik kita malam ini, Dimas. Dimas, resolusi? “Married dong”, jawabnya spontan. Haha Dimas lah yang paling tua dari kita semua disini, sekaligus yang paling sering ngajak dunia malam, gak terpikir juga kalo dia sudah mengidamkan keluarga. Tak jauh, ada Kiki. Aku juga baru mengenalnya belum lama ini, anak semester 4, adik tingkat kita dengan kepala penuh mimpi. Kelihatannya dia menikmati malam ini. Aku pun menanyakan resolusi nya, “more happiness kak” jawabnya begitu feminis.Sungguh anak ini brilian, "you gonna go far, kid" meminjam Offsprings. 

*
Seperti biasa, jam 11 siang. Kalau tidak gara – gara kepanasan pasti aku takkan bangun. Apalagi tadi malam tak disangka kalau Bacardi Gold bisa habis sebotol berdua dengan Rey. Aku pun segera mengecek barang – barang bawaan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Selesai dan Rey belum bangun juga, dasar kebo. “Kebo jadi ke jogja gak” bisik ku sambil menata rambutnya yang berantakan. Rey pun menyahut. “Kamu mandi, terus siap – siap, aku keluar sebentar beli makan” kataku. “iya sana, aku mau gado – gado ya” balasnya manja. Siap bos, mandi – mandi sana. “Oya, Ice Blast jangan lupa” susul nya.

Selalu tepat waktu. Sampai di Stasiun Senen 01.35, kurang 10 menit lagi dan kereta kita berangkat. Kita pun bergegas. Jogja we’re coming!Aku tak memberi tahu teman – teman disana kalau kita bakal ke Jogja. Ya menghindari rencana – rencana dadakan mereka kalau tahu aku dan Rey hari ini tiba disana. Sudah 2 tahun sejak Rey dan aku keluar dari Jogja dan pindah ke Jakarta. Sejak itu komunikasi dengan teman – teman semakin jarang, paling cuma lewat facebook dan telponan saja, atau tiba – tiba mereka lagi ada kerjaan di Jakarta baru bisa beracara.

*
Entah sekarang jam berapa, aku tak mau peduli. Aku sedang menikmati hari-hari diakhir tahun baru 2018 dengan kenangan kemudaan berseliweran. Kalau bisa saat – saat seperti ini tidak  pernah berhenti. Toh waktu tidak pernah berhenti. Rey telah menghilang, jugapun teman-temanku dan mimpi-mimpinya masing-masing.

Cipayung, September 2018

Komentar