"Apa yang merisaukanmu?"
"Aku tidak sementara menanggung rindu apalagi kasmaran. Aku tak mau menyerah pada kungkungan istilah dan segala anjuran yang menyertainya. Aku berupaya mengeja dan menghayati letupanletupan perasaan yang sulit dipahami apalagi ketika dia menyerbu bersamaan. Makna makna berubah selagi waktu mengalir. Rindu dan khawatir selalu bertautan, saling mengadai satu setelah yang lain. Jika kubiarkan diam, dunia dikepalaku akan bergejolak"
"You are so deep, mate"
"Bayangkan malam ini, lautan yang kepanasan mulai melepaskan kabut yang datang berpendar disekitar tempat kita duduk kemudian melingkupi, pasir di kaki mulai membeku, butir cahaya di kejauhan, juga angin yang mulai berubah dingin"
"Ya"
"Barangkali, jika yang duduk adalah orang lain, kata-kata ku akan lain"
"Tentu saja"
"Ceritakan hari-hari mu"
"Tak banyak yang bisa diceritakan. Oya aku bertemu pasangan turis tadi, mereka menyenangkan"
"Apa yang terjadi?"
"Hidup telah memberikan mereka 8 orang cucu sekaligus pekerjaan mengasuh yang menyenangkan, serta seorang anak bungsu yang nakal, Ivy si bungsu mungkin seumuran kita saat ini, taksirnya"
"Oya?"
"Ya. Tidak seperti kakak kakaknya si bungsu cenderung liar. Tapi bapaknya terlihat sama sekali tidak khawatir malah cenderung bangga. Dia bercerita kalau suatu waktu si bungsu pernah menipu dari mereka untuk membeli sebuah van, dan kemudian berkeliling Australia sendirian. Mereka pasangan bahagia nampaknya"
"Ya! Apakah orang tua itu berbadan besar, tegap, dengan otot? Bagaimana rupanya?"
"Dia pernah begitu tampaknya, dulu. Usianya tak lagi muda, tapi sisa-sisa kemudaannya masih belum redup dari pandangnya. Aku sempat mengulik makna tatoo di tangannya, dan dia menjawab tak karuan dengan penjelasan yang panjang, hingga istrinya menjedah dan tersenyum pada kami katannya pria memang tak bisa kita pahami seutuhnya, hari ini tepat 50 tahun usia pernikahan kita dan aku tak kunjung paham juga dengan suamiku. Sebaliknya suaminya justru sedikit terbahak dan agak mengejek katanya justru kalian yang terlalu banyak misteri sambil pandangnya tertuju padaku."
"Sungguh menarik! apakah kau"
"Disini mulai dingin"
"Haha kita persis ditepian samudera"
"Oya sebelum berpisah tadi, Mrs Aenggi sempat memelukku-pelukkan yang erat dan senyum yang sangat ramah. Sungguh seperti ibu. Dia juga berpesan untuk sering sering berlibur, hidup tak cuma soal kerja dan kerja saja"
"Jadi apa rencanamu? Apa kau ingin tetap tinggal?"
"Uhm mungkin saja, aku cuma takut terlanjur nyaman"
"Orang tua mu?"
"Seperti biasa.. Sungguh, udara mulai sangat dingin"
"00.31, ya sebaiknya kita pulang, masih ada hari esok"
"Ya"
"Bisakah kita bertemu disini lagi besok? Aku suka disini, bibir pantainya luas juga tidak ramai"
"Cant promise".
"Jam berapa kerjaanmu selesai?"
"Tidak pasti"
"Baiklah, sampai jumpa".
Badung,
Juli 2018
Komentar
Posting Komentar