Lalu kuberlari menerabas hujan desember yang terkenal itu.
Ribuan orang telah bersembunyi dibalik-balik ketakutannya. Bahkan ada sebuah
dinding tinggi, yang dibangun untuk menghalau air kotor ini agar jangan tiba diujung
pantovel para pengkhotbah. Kupanggil seorang anak, Marlon. Kudapati dia tidak
memakai sepatu. Kita telanjang dada sambil mengibaskan kaos kita yang basah .
Tiba-tiba sebuah bola jatuh, plek.
Diseret air. Kau tahu apa? Marlon berlari duluan, kususul dari belakang
sambil meneriakan nama dua orang karibku Benny, Andre, turunlah. Dan sejenak
mereka tiba diujung gerbang. Ya Marlon kita harus bekerjasama. Marlon mengoper
mengelabuhi Benny, kini tinggal ada aku dan Andre diantara satu tendangan. Dan
buffft butiran air meledak, memancar kearah gerbang yang dijaga Andre. Butiran
pertama mendarat dipipinya yang mengagah, akupun sumringah. Tertawa, berteriak,
sambung menyambung Marlon, Benny, dan Andre. Kemana bola nya kawan? Haha kita
tersenyum, tidak pernah ada bola disini, yang ada hanya hujan desember dan
lelucon eh dan ketakutan.
Jogja Desember 2015
Komentar
Posting Komentar