Sekarang kita harus mengakui
bahwa kita pun telah berubah menjadi seorang pemimpi musiman. Coba cek, mimpi
tahun pertama manakah yang masih kau kejar kini? Akhir – akhir ini adalah musim
gugur bagi pohon – pohon mimpi. Kalau ada yang tersisa dari kanak – kanak mu
itu hanyalah kenangan dan lagu – lagu nostalgia pelipur duka. Semuanya berlalu,
berganti seperti musim. Dan musim apakah sekarang calon sarjana? ya sekarang
musim rasionalisasi mimpi, kata lain ini musim ganti baju, sekalian ganti mimpi
menyesuaikan dengan zaman dan
perpisahan.
Kalau di tahun – tahun awal buku
dan kisah – kisah orang hebat masih memberi kita harapan, inspirasi, bahkan
kekuatan untuk membuat perubahan, sekarang tidak lagi. Dulu bahkan pengemis
dijalan masih bagian dari rangkaian besar mimpi perubahan yang kita akan
perjuangkan. Dan kini, lidah api yang kita idealkan dulu kini berubah menjadi
penjilat zaman yang ulung. Begitulah, beberapa orang pasti merasakan dilema
bahkan tekanan yang cukup kuat atas pengkhianatan dan ketidakberdayaannya
melawan arus zaman, namun beberapa orang lagi yang pikirannya sudah tercuci
habis telah menjadi generasi muda yang sia – sia.
Setiap zaman selalu bermaksud
meniadakan spirit atau semangat generasi yang ada. Zaman bukan waktu yang bisa
menerima orang – orang yang mencari arti hidup. Zaman adalah yang menciptakan
generasi material yang cerdas namun anti sosial. Zaman punya tuntutannya
sendiri, dan generasi akan menyediakannya. Calon – calon sarjana adalah titik
penting dalam sebuah zaman. Begitu kuatnya pengaruh zaman, sampai – sampai anak
– anak muda tidak sempat membuat sebuah pilihan hidup. Bahkan sebagaian besar
generasi yang ada tidak akan pernah sempat mencapai mimpi – mimpi yang idealis,
mimpi perubahan, dan mimpi kebahagian sejati. Calon sarjana akan kembali dari
lembaga pendidikan menjadi masyarakat, mengisi kebudayaan, menjadi fondasi
masyarakat, dan penentu masa depan, dan yang paling menyedihkan adalah para
sarjana bahkan telah buta dan tuli terhadap panggilan hidupnya itu.
Sekarang ini ada jutaan anak muda sarjana yang kembali ke masyarakat,
namun mereka yang kembali bukan lagi seutuhnya manusia. Mereka yang kembali
bahkan merasa diri bukan bagian dari masyarakat, mereka adalah sarjana atau
orang berpendidikan, dan bagi mereka kelas atau level menjadi sangat penting
bagi penegasan eksistensi mereka. Visi kehidupan mereka telah terlepas dari
visi kehidupan bersama, visi masyarakat. Mereka tak mampu melihat bahkan dengan
pendidikan yang mereka miliki apa yang menjadi permasalahan dalam masyarakat.
Para sarjana kembali dengan visi yang berbeda, visi yang eksklusif, dan egois.
Jutaan sarjana dari berbagai
jurusan kembali ke masyarakat sebagai robot. Robot yang akan mengisi perbudakan
dalam dunia kerja dan lapangan kerja.
Robot yang patuh, dimana rasa kemanusiaan, kepekaaan, inovasi, dan kreatifitasnya
telah hilang selama menjalani proses pendidikan. Jutaan sarjana akan menjadi
pengikut zaman, akan mengisi tuntutan zaman, dan tidak akan pernah merubah
zaman. Jutaan sarjana bahkan telah lupa kemanusiaan, kesatuan sebagai sebuah
masyarakat yang membentuk sebuah peradaban. Mereka bahkan tak pernah paham
bahwa peran mereka sangat dibutuhkan untuk menentukan kemana peradaban manusia
akan dibawah.
Jika dari sekian banyaknya calon
sarjana, dan sarjana, bukankah sungguh tidak bergunanya kita jika gelar dan
proses yang telah kita miliki tidak membawa dampak langsung bagi orang – orang
disekitar kita. Apalagi jika sindrom eksklusifitas telah merasuk, mulai
melepaskan diri dari masyarakat, mulai menggunakan standar level dalam menjalin
hubungan sosial. Beberapa anak muda masih memiliki api kemanusiaan, semangat
mendasar yang mendorong sesama manusia untuk tidak saling menyakiti apalagi
membunuh, api ini adalah yang membuat manusia menjadi hidup, membuat anak muda
memiliki sebuah visi sosial yang luas dan menyeluruh. Jika direnungkan lagi
semangat inilah yang akan membawah perubahan bahkan perbaikan peradaban,
kemajuan disegala lini kehidupan.
Sayangnya beberapa anak muda yang
lain telah berubah. Visi kemapanan, sebuah kehidupan sejahtera yang eksklusif
dan untuk dinikmati sendiri. Mereka lah sarjana – sarjana mapan, dengan
pekerjaan dengan gaji besar yang akan kembali ke masyarakat dan membangun rumah
mewah dengan tembok – tembok tinggi yang menjulang ditengah – tengah pemukiman
masyarakat yang kesusahan. Jutaan sarjana yang ada telah kehilangan rasa
sosial, sebuah perasaan kolektif, yang dibangun atas dasar kemanusiaan, dimana
setiap manusia dilahirkan untuk saling memanusiakan dan memberdayakan sesamanya
manusia. Itulah intisari kehidupan yang dilupakan sarjana – sarjana teknik
dibawah panji eksplorasi dan monopoli pemodal siap menyedot modal hidup
masyarakat kedepan yakni sumber daya alam. Sarjana – sarjana sosial bahkan
tidak segan – segan mengatur konflik dalam masyarakat demi kepentingan –
kepentingan politik. Sarjana – sarjana itulah yang akan menjelma menjadi
pemimpin masa depan.
Untuk para sarjana dan para calon
sarjana ; Kembali lah pada mimpi besar
mu, mimpi yang berapi – api, mimpi seorang anak – anak dengan api semangat
seorang muda. Anak – anak selalu mengidamkan sebuah hidup yang penuh
kesenangan, sementara seorang muda menjaga agar mimpi mulia itu tidak
dilenyapkan oleh zaman. Kita cuma satu generasi dari jutaan generasi yang akan
terus berganti nantinya hilang dan mati. Dan zaman ini adalah waktu yang
disediakan untuk generasi kita menjalani dan membangun sebuah kehidupan yang
manusiawi. Pemuda yang paham arti keberadaanya dalam masyarakat, pemudi yang
paham arti pengetahuannya bagi orang banyak. Orang muda harus punya mimpi
besar, dan zaman pun meski kejam, akan memberikan tempat bagi para pemimpi
sejati.
Untuk kawan – kawan dan aku yang
malang

Komentar
Posting Komentar