Negeri Bisik - bisik
Bisik - bisik. Sindrom ini terjadi diseantero negeri ini. Fenomena membicarakan sesuatu secara diam - diam telah disepakati sebagai cara yang paling aman. Bagi pejabat paling aman kalau rencana perjalanan dinas/studi banding/workshop/proyek dan sejenisnya dirahasiakan dari publik. Bagi masyarakat biasa, paling aman memprotes kebijakan pemerintah adalah diwarung, perempatan, dimana saja asal tidak ketahuan polisi. Mahasiswa pun sama, paling nyaman membicarakan dosen, metode balajarnya yang membosankan, regulasi kampus yang terlalu memberatkan adalah setelah kelas bubar lalu nongkrong di taman, kantin, atau di kosan.
Fenomena ini jelas mencerminkan adanya rasa enggan, tepatnya ketakutan untuk berterus terang. Di negeri ini pemerintah menyembuyikan sesuatu dari masyarakatnya. Di kampus mahasiswa merahasiakan protesnya dari dosen dan universitasnya. Ada apa dengan berterus terang dan menyampaikannya secara langsung. Masuk akal, jika hal yang dirahasiakan adalah suatu yang tidak benar, tapi bagaimana kalau yang benar malah dirahasiakan. Toh berterus terang soal kebenaran merupakan kewajiban. Kalau semua yang benar dan wajib dilakukan tidak dilaksanakan malah disembuyikan berarti ada persekongkolan untuk mempertahankan yang tidak benar.
Sejatinya baik masyarakat maupun mahasiswa sebenarnya tidak punya niat bersekongkol melindungi ketidakbenaran karena intinya kelangsungan hidup masyarakat telah tergantung pada institusi pemerintah, sedangkan mahasiswa kehidupan kuliahnya tergantung pada institusi tempat dia belajar. Negara adalah yang mengusai distribusi kebutuhan hidup, sementara lembaga pendidikan adalah yang berwenang mengeluarkan ijazah.
Akar masalah kenapa bisik - bisik telah menjadi kebiasaan di negeri ini baik dalam kalangan sipil maupun pelajar adalah superioritas institusi terhadap masyarakat. Akses untuk hidup masyarakat telah dikendalikan oleh pemerintah ; Tanah, Air, SDA, Hutan, Pasar, semuanya itu dikuasai pemerintah. Sedangkan dalam dunia pendidikan ; Pengetahuan, Moral, Intelektualitas, Status Sosial, telah dihargai dengan sebuah ijazah. Dimana pelajar harus menempuh kurikulum tertentu untuk mendapatkannya. Dan lembaga pendidikan adalah satu - satunya yang berhak mengeluarkannya atau tidak. Pendeknya kelangsungan hidup masyarakat ada ditangan pemerintah, dan lulus tidak nya seorang mahasiswa, baik jeleknya indeks prestasi mahasiswa ada ditangan universitas dan dosen. Jika demikian faktanya maka wajar jika membicarakan institusi harus bisik - bisik.
Superioritas ini semakin hari menjadi semi otoriter bahkan akhirnya menjelma kesewenang - wenangan sementara dilain pihak masyarakat semakin sengsara. Lantaran masyarakat telah dipenuhi ketakutan hingga tidak mampu menyuarakan keadaannya, apalagi merebut hak hidupnya lagi. Akses untuk protes dan kembalinya kekuasaan pada rakyat telah betul - betul hilang dalam ketakutan. Jika masyarakat protes pun tidak akan merubah apa - apa. Kalau aksi protes semakin gencar dan masif pun, nanti lembaga penegak hukum yang berseragam dan senjata lengkap yang akan turun tangan. Kalau mahasiwa pun coba agak sedikit blak - blakan didepan dosennya pasti indeks prestasinya akan turun, apalagi dia memprotes kampusnya sendiri, pasti langsung dikeluarkan.
Ketakutan inilah yang menguasai masyarakat kita. Ketakutan yang sangat realistis karena menyangkut kelangsungan hidup. Ketakutan ini dimonopoli dan terus dipertahankan oleh institusi agar kekuasaan tetap terpusat pada pemerintah. Dengan otoritas yang absolut akan mudah masyarakat diarahkan seusai keinginan penguasa. Akan semakin sulit mengakses hak - hak hidup, apalagi hak politik. Dengan tiadanya pantauan, tentu persekongkolan, korupsi, tidak mungkin diadili.
Ketakutan masyarakat terhadap pemerintah adalah hal yang sangat wajar. Begitu juga mahasiswa, ketakutan akan nasib nya kedepan sangatlah wajar. Ketakutan yang dirasakan masyarakat saat ini tidaklah salah, semua orang ingin terus bertahan hidup. Yang salah adalah mereka yang sengaja menciptakan ketakutan itu dan terus membungkam masyarakat.
Yang perlu disadari adalah keadaan ini tidak seharusnya terjadi. Hakikatnya negara dibentuk untuk mensejahterakan masyarakatnya. Kalau sistem pemerintah terus menakuti masyarakatnya dengan otoritas maka yang akan sejahtera hanya orang - orang yang duduk dipemerintahan. Sementara masyarakat adalah yang membiayai pemerintahan, sumber daya alam pun hakikatnya adalah milik masyarakat jadi hasilnya harus dikembalikan kepada masyarakat. Jadi dinegara ini adalah hak masyarakatnya untuk sejahtera. Sejahtera adalah hak masyarakat. Jika masyarakat malah sengsara, masyarakat bahkan berhak membubarkan pemerintahan.
Begitupun dalam dunia pendidikan. Pendidikan adalah untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakberdayaannya. Pendidikan adalah untuk memanusiakan dan memerdekakan manusia. Bukan malah untuk menakutinya.
Jadi segala ketakutan yang dialami masyarakat saat ini merupakan hal yang wajar akibat dari superioritas institusi pemerintah dan pendidikan. Kebiasaan tidak terus terang adalah kontruksi yang sengaja diciptakan pemerintah untuk mempertahankan zona nyaman mereka. Zona gelap dimana masyarakat tidak bisa memantau segala tindakan dari penguasa.
Jika begitu, hanya ada dua pilihan bagi masyarakat. Bagi yang nasionalis, mulailah melawan ketakutan tersebut dan berterus terang. Semuanya demi kemajuan bangsa bersama. Dan jika pemerintah balik melawan melalui polisi dan tentara, jiwa kolektif sebagai sebuah bangsa harus muncul. Sehingga perjuangan oknum - oknum yang menginginkan perubahan tidak sia - sia. Tidak jarang perjuangan parsial tidak membuahkan hasil, mereka yang berjuang mati sia - sia. Jika sedikit yang melawan tentu akan mudah dilumpuhkan oleh pemerintah. Namun jika perjuangan didukung oleh seluruh masyarakat dan semua berkomitmen untuk perubahan maka pemerintahan yang tidak benar akan bisa dijatuhkan.
Pilihan kedua adalah berhentilah menjadi warga negara negeri ini. Jangan lagi percaya pada pemerintah yang ada, karena mereka berbeda haluan dengan cita - cita masyarakat. Bentuklah negara baru, dan pastikan kesejahteraan akan menjadi milik masyarakatnya. Lebih baik masyarakatnya sejahtera daripada hidup dalam negeri yang besar, sejarahnya hebat tapi sengsara. Mulailah merebut aset - aset pemerintah didaerah. Buatlah kesepakatan kolektif mengenai masa depan bersama. Kalau TNI bergerak percayalah didunia ini banyak bangsa yang lebih manusiawi dan humanis yang akan menolong dan bertindak memberikan bantuan bagi merdekanya masyarakat.
Di sebuah negeri baru
September 2014











Komentar
Posting Komentar