Langsung ke konten utama

Kalau Nanti Aku Melamarmu

Kalau nanti aku melamar mu, ini yang akan kukatakan ;

Tapi Sebelumnya aku berharap kita sedang berada dalam sebuah perjalanan.
Perjalanan yang cukup jauh dari kota Jogja,
cukup jauh dari semua masalah kita disana.
Ya, aku ingin kita ada di danau Taman Hidup Argopuro saat ini.
Sekitaran jam 4 sore harapanku kita sudah sampai disana.
Tapi. Berdua saja. Aku ingin perjalanan ini kita rahasiakan.
Mama ku tidak tahu begitu juga mama mu.
Nanti, di sekitar danau ada padang rumput yang cukup luas.
Kita mendirikan tenda disana.

Aku punya susu kaleng buat mu. Kesukaan mu bukan?
Aku mau melihatmu menghembuskan lelah dengan meminumnya begitu kita tiba nanti.
Aku punya tenda yang baru juga, kusiapkan khusus untuk perjalanan kita ini.
Warnanya kuning, harapanku kamu bisa lebih nyaman tidur didalamnya.
Memasangnya cukup rumit, aku ingin melihat kita berdua mendirikannya bersama.
Kau membantuku memegang, merangkainya framenya dan membentuknya,
menahannya, lalu aku akan mengikatnya erat.
Angin pun mulai berhembus kencang sore itu.
Dingin mulai mencium kulit kita pelan - pelan.
Aku mulai menancapkan pasak satu per satu.
Disisi lain kamu sedang membongkar muatan di carrier.
Menggelar matras dan menyiapkan sleeping bag.


Sebelum gelap aku ingin semua persiapan telah selesai.
Tenda kita telah berdiri kokoh, dan telah siap sedia.
Akupun telah menggali parit disekeliling tenda, jaga - jaga kalau nanti hujan turun.
Aku ingin memastikan kalau kita bermalam ditempat yang tepat.
Jauh dari lintasan angin serta ditempat yang betul - betul rata.
Supaya badanmu bisa terbaring nyenyak nanti.

Setelah semuanya selesai ikutlah dengan ku mengambil air di danau.
Disana ada sebuah pondok yang dibuat warga. Kondisi nya pun masih bagus.
Kayunya masih kokoh, hanya atap nya saja yang bocor.
Karena posisi pondok ini agak menjorok ketengah danau,
kita harus melewati rawa sebelumnya.
Disitu ada sebatang kayu balok untuk menyeberang.
Lebarnya mungkin hanya selebar telapak kaki,
jadi kita harus menitihnya perlahan - lahan.

Tiba disitu aku hanya ingin diam dan memperhatikan wajahmu.
Aku ingin melihatmu, melihatmu tersenyum dalam kelelahan dan kedinginan.
Melihat bibirmu melebar sambil mata mu mengelilingi Taman Hidup ini.
Terakhir setelah puas, dan mata mu telah dipenuhi kabut yang turun entah dari mana,
lihatlah aku. Lihatlah kelelahan dan kedinginan ku juga.
Lihatlah kebahagian dan kepuasanku.
Bertemulah dengan tatapan ku biar kita bisa saling merasakan dan mengerti.
Pastikanlah kalau saat ini adalah perjalanan kita bersama,
perjalanan yang kurencanakan untuk mu,
perjalanan dimana kau bisa membebaskan diri,
perjalanan dimana kau akan berhenti berpikir egois
dan mulai terbiasa merepotkanku.

Duduklah disini, disampingku, tepat ditepi pondok.
Luruskan saja kaki mu, biarkan dia menggelantung, sesekali menyentuh permukaan air.
Disini kita akan belajar banyak harapanku.
Mengerti bahwa hanya di alam jiwa kita bisa terbang sebebas angin.
Belajar kejujuran dari rasa dingin dan ketulusan dari riak air.

"Rebahlah dipundakku sayang, aku tahu kamu lelah.
Aku bisa merasakan beban dihidup mu terlalu berat.
Mengapa tak kau bagi saja setengahnya denganku?".
Kau pun merapat, menyelipkan tangan dibalik lenganku,
membuka telapak tangan ku kemudian menggenggamnya erat,
sambil kepala mu mendarat dipundakku.

Kali ini aku tak mau mendung di masa lalu menjadi hujan dimatamu.
Aku pun ingin segala macam keraguan tenggelam bersama surya sore ini.
Aku hanya ingin kau merasa nyaman disini, menikmati keindahannya,
melepaskan masalah mu ditiup angin.
Terakhir aku hanya ingin mendengar Terimakasih darimu.
Terimakasih yang diucapkan tanpa tatapan manja, tanpa maksud menangis.
Aku ingin melihat matahari baru terbit dari dirimu, dan keyakinan keluar dari mulutmu.

Kalau sudah, mari kita duduk menyaksikan.
Garis cakrawala berubah menjadi merah padam.
Langit yang mulai gelap.
Serta angin gunung yang turun dari punggung bukit datang mengelus kita.

Sambil bernyanyi ;
Aku bahagia.
Merasakannya.
Andaikan aku bisa disini selamanya
tuk menikmatinya.


Komentar