Sahabatku ?
Kamu tinggal mucul sekali sekali saja pada ingatan – ingatan usang. Saat sedang susah kala mimpi ditinggalkan kenyataan. Kegagalan demi kegagalan mengibarkan rindu, akan suatu tempat yang tidak asing dimana aku melihatmu disana. Ya hanya dalam sisa – sisa ingatan.
Kemana kamu hendak berlabuh?
Di belantara ini, hanya ingatan kompasku. Menemukan mu tinggal di dalam memori saja. Selebihnya tinggal harapan – harapan kilas saat tatapan tengah beku menggantung di sudut – sudut kota.
Pahitnya kehilangan dan seringnya perpisahan memaksaku jadi tua. Menjadi orang yang biasa meninggalkan dan gampang memisahkan diri. Perbedaan dan kebencian menjadikanku orang jahat. Mengkotakan manusia dan menjadikan mereka musuh. Agama dan uang membiusku. Merendahkan orang lain dan hidup berkiblat kekayaan.
Sahabatku
Aku ingin kembali. Pada suatu ketika saat aku tidak melihat perbedaan di mata orang – orang. Suatu masa dimana kita tidak punya prasangka dan saling curiga. Suatu kali dimana milikmu mu adalah milikku, harapanku adalah harapanmu juga. Dimana pikiran kita masih jernih dan lagi senang - senangnya bermimpi
Sahabatku
Pencarianku adalah pencarian kita. Pencarian diriku dan pencarian dirimu yang ternyata sudah lewat bertahun – tahun. Sebuah makna yang sudah kehilangan penganut, yang pengikutnya semua sudah menyerah dalam perjalanan hidupnya.
Sahabatku
Hidup adalah perjalanan melupakan, jangan sampai kita terlena. Siang dan malam bergantian mencuci pikiran kita. Warna warni sebuah malam akan hilang saat fajar. Binar – binar siang akan lenyap ditelan senja. Proses berakhirnya suatu keindahan dalam ingatan serta kesenangan hidup dalam sajak rindu.
Sahabatku
Aku sudah melihat kemana umur akan membawa kita, dimana proses ini akan menghempaskan kita. Mari pertahankan impian kita.
Aku akan menunggumu di pelataran mimpi sampai pagi dan mencarimu sampai dapat. Mencari mu berarti mencari hati ku yang dulu, melihatmu sama saja dengan melihat mata ku yang dulu.
Sahabatku
Mencari mu sekarang adalah perjuangan mempertahankan hidup melawan jiwa – jiwa yang leler untuk bermimpi. Menunggumu berarti berjaga memagari api ku yang diincar waktu
Sahabatku
Sekarang dia tinggal cahaya, wajahnya tinggal dibingkai foto, gemercik tawanya bersemayam di dinding – dinding telinga, tubuhnya sudah digiring umur bersama ku pada masa kini dan semuanya tentang keikhlasan tinggal sebuah masa yang sudah lalu
Sahabatku
Dalam rongga – rongga kepala aku akan menjaga mu, api – api kecil kita akan tetap menyala di ubun- ubun. Dan tua tidak akan menghentikan kita bermimpi
Sahabatku
Ini hanyalah adalah sebuah pilihan. Kita akan sama – sama membangkai dan kaku. Tapi sebuah masa dimana mimpi kita mekar dan idaman kita berbuah dimana prasangka dan perbedaan telah luluh bersama ketulusan dan kejujuran jiwa, disitu kita akan terbaring bahagia
Yogyakarta juli 2013

Komentar
Posting Komentar