
Hujan........ssssssssssssssssssss ahk !
Cepat – cepat! Aku tidak mau melewatkan ini. Meski ini memalukan, akan tetap ku lakukan. Cuma curahan air ini yang membebaskan ku serta mengantarkan ku pulang pada suatu ketika dimana butir – butirnya membasahi hati ku waktu itu. Hujan yang menjagaku waktu itu agar tidak terpisah dengannya. Sudah. Aku siap kembali menutup pintu dan berlari ke tempat itu bersama hujan.
Kali ini aku memekikan doa sebelum masuk menemuinya. Doaku agar hujan ini jangan sudah dengan cepat. Ada banyak hal yang ingin kulihat dan rasakan lagi dengan dia. Terutama sepasang mata yang manja. Ayo hujan yang deras! Hati ku berdebar lagi, aku mengetuk pintunya kemudian masuk. Duduk berdua dalam dekapan hujan yang makin menjadi. Terima Kasih hujan.

Sssssssssssssssssshhhhhhhhhhh druuuuummmmm wwwwuuuiiiisshhhhh langit makin padam, angin bergelora semakin liar. Tatapanku semakin jujur. Menghadapinya dalam keadaan seperti ini aku benar benar siap merelakan segalanya. Pintu tertutup rapat, suaranya sudah menangkapku kuat – kuat. Makin lembut, makin nyaman, suaranya menuntunku pulang pada kepasrahan. Penglihatanku sudah dihadang tatapannya disegala sisi. Aku perlahan lahan melayang, ........................ mendekat, masuk dalam hidupnya.
Dia mengambil alih aku sekarang. Dunia makin menyempit rasanya. Kisah – kisahnya membenamkan luasnya alam kedalam satu ruangan. Kamar ini semakin mengecil. Lampunya pun semakin remang. Cerita – cerita hidupnya menyita perhatian hati dan jiwaku sepenuhnya. Dia memenuhi jiwa ku sekarang, kehangatannya membuatku lupa dengan diriku sendiri. Dia sekarang menempati diriku. Dia menjadi tubuh yang ingin selalu ku saksikan. Senyum yang setiap saat ingin nikmati, jemari yang ingin ku genggam selama mungkin.
Jiwaku benar – benar penuh sekarang. Berada disini, bersama dia, sudah mengantarku pada kekaguman yang tiada habisnya. Kalau aku ingin pulang aku ingin bersama mu boleh? Kalau kau ingin keluar dari kamar ini aku ingin kau tahu kepada siapa kau harusnya merebahkan keletihan jiwa dan kelelahan hati mu. Aku!

Sekarang aku tidak bisa membedakan lagi mana perasaanku mana punya dia. Perasaannya, aku bisa merasakannya sekarang. Diamlah, hening ............................ menangislah, basahi aku dengan air matamu, pukul aku dengan penderitaan hidupmu, dan telanjangi aku jika kau butuh baju ku untuk melindungi mu dari kedinginan. Aku benar – benar sudah siap.
Mulutnya pun berhenti bercerita. Hujan masih lebat diluar sana. Beberapa saat disini aku merasakan aku sudah di ujung jalan. Aku sudah siap berhenti dan melanjutkan hidup, meski itu hidupmu. Membagi dua mimpi ku dengan mimpi mu.
Ah sudahlah semua ini sudah cukup, saya ingin segera melihat akhir dari kisah kita ini. Fisiknya sudah mempesonaku berhari hari kemarin lamanya. Sekarang hatinya juga sudah mengajarkanku keindahan hidup yang sesungguhnya yang lebih dari sekedar fisik dan materi. Aku sudah siap menggunakan kaki ku untuk membawamu berlari, menggunakan tanganku untuk melayanimu dan menggunakan hati ku untuk mencintaimu. Yah apalagi yang harus kubawa agar pintu yang paling dalam itu bisa ku masuki?
Hujan berangsur – angsur tenang. Tiba – tiba suasananya semakin panas dan mendebarkan. Dipenghujung hari ini aku menanti jawaban jawaban yang paling jujur dari hatinya. Tiba – tiba dia mengambil jarak dari ku dan melipat kaki nya. Aku tidak bisa membaca matanya lagi kali ini. Seperti tidak biasanya, yah tatapannya berubah, cara bicaranya pun berubah. Apakah salah aku menanyanyakan kelangsungan kisah ini. Bagaimana perasaanku dijawab.
Detik detik itu aku betul betul kehilangan dirinya. Meski dia masih dihadapanku aku benar – benar dibuat ketakutan. Aku tahu sebentar lagi aku harus pulang karena hujan hampir redah. Kodratnya manusia – manusia seperti aku dan dia hanya bisa bertemu dan berhubungan pada saat tertentu. Yah hanya pada saat hujan.
Karena kepercayaan yang kita anut berbeda makanya kita hanya bisa bertemu saat hujan lebat. Saat tidak mungkin orang lain mampu mendengar pembicaraan kita, dan melacak keberadaan kita. Karena hanya hujan yang mampu mencairkan perselisihan antar 2 penganut kepercayaan yang sensitif ini. Yah sesingkat hujan saja kita boleh bertemu.

Hujan redah, dan langit mulai melebar. Aku diselimuti ketakutan. Jawaban belum juga keluar dari bibirnya. Peralahan dirinya mulai membayang, dengan kekecewaan aku mencoba meraih tangannya, kalau dia pergi aku tahu ini akan jadi perjumpaan terakhir kita. Tubuhnya sudah menyatu dengan udara tak tersentu lagi.
Pada detik penghujung, sorot matanya berubah, begitu lemah dan pasrah. Tidak lama pun wuuuuussssshhhh dia menghilang. Di perjalanan pulang aku masih tidak bisa menerjemahkan tatapannya. Dalam kekecewaan yang mendalam aku tahu perbedaan kepercayaan ini, yang dibatasi hujan, serta kebiasaan usang ini, mengubur manusia untuk bersatu dengan yang lain. AHKKK!
Yogyakarta Februari 2013

cie cie alann :D
BalasHapus