Aku khawatir,tidak akan ada lagi kisah tentang kita sekarang, dan mungkin hingga nanti
Aku takut, dewasa memisahkan kita, dan lupa memberi tahu jalan pulang ke kampung mapalus
Aku pasrah, hidup selalu berlalu, hingga tidak mungkin kita bersua lagi dengan hati yang masih sama
Tapi aku yakin
Untuk banyak hal kita masih memiliki ingatan yang sama, bahkan perasaan yang sama
Hidup mengisahkan kita dalam cerita yang memang tidak mungkin sama
Namun kita pernah berkisah bersama, di lorong – lorong desa dan di semak – semak kebun
berbagi kasur, dan berbagi kue, berbagi beban hingga mandi dari aliran air yang sama
Jejak – jejak kita masih ada di tanah – tanah lapang, di kebun - kebun jagung dan di pohon – pohon yang rimbun di kintal – kintal orang
Bunyi jankrik masih terbawa – bawa, kisah – kisah angker di tengah hari saat kita masuk hutan,serta sebilah parang berkarat
Kisah seorang pemanjat pohon yang gemilang, dan laki – laki berat yang hanya menunggu buah jatuh
Siang cepat beranjak, begitu juga malam yang lekas – lekas menghampir tidak tahan dengan kita
Itu dulu
Sekarang kita sendiri, hidup dan ditempah di bumi yang berbeda – beda
Tapi setiap angin masalah berhembus hebat, ingatan kalian mengalir kepermukaan
Air yang lama tersumbat kini membasahi dan membuat lembab kepala yang panas dan kaku
Bahwa pernah ada kisah yang sangat indah tentang kawanan laki - laki desa
yang hidup dari ubi dan cengkih, dari babi, padi, dan kopra dan yang hanya hidup untuk bermain dan tidur karena kelelehan, itu sangat menenangkan
Kita jauh dari dusun, jauh dari kebanggaan,jauh dari kenyamanan, jauh dari ketenangan dan jauh dari orang – orang tua kita
Kita jauh dari wejangan sosok permesta itu, banyak dongeng yang tak bisa kita dengar lagi dari penguhuni – penghuni dusun yang suaranya serak termakan umur
Tidak ada rumah yang bisa ku kunjungi disini, yang bisa menampung semua peluh kesakitan
Tidak ada ubi dan pisang yang gratis disini, dan tidak ada keluarga yang memasak lebih untuk aku
Belum ada malam yang setentram malam kita, malam setelah seharian memetik cengkih
Saat kita duduk bersilah, diatas karung goni, dan berebut pisang sepatu yang baru digoreng oma
Saat gelap gulita datang menjadwal, kala musim panas terlampau lama hingga listrik malam harus padam, gitar kita menggelegar menembus malam dengan nyanyian tak kelar hingga kita ikut gelap
Serta saat pagi merekah, dan anjing – anjing menggongong melawan bunyi lonceng yang menegang membangunkan
aku lelah, aku resah , ingin merebah
Kepada siapa bisa kuceritakan kelelahan ini, keletihan yang melebihi pawai 17 agustus kita
Keresahan yang melebihi keresahan mahasisiswa terhadap nasib hari esoknya
Dan semangat, semangat yang memberikan kekuatan agar lekas kembali ke tempat kita biasa bermain
Serta ketakutan besar, yang terus mengingkuti jika suatu waktu kita kembali dengan ingatan yang tidak lagi sama
Hanya kalian, yang bisa mengerti, cukup dengan duduk berbagi kisah dan selesai
Aku takut,
Kalau – kalau kenyataan melenyapkan ingatan kita, dan malam tidak mengingatkan makna lagi
Jika saat kembali nanti, remang – remang dusun tidak membongkar masa kecil kita dulu
Dan air yang mengalir tidak lagi menghanyutkan kita ke kuala tempat kita biasa menangkap ikan dan kejar – kejaran
Serta angin selatan tidak lagi menyingkap kisah anak – anak muda desa yang gemar bermain layang – layang
Sebelum habis, aku rindu bertemu, menyegarkan lagi ingatan wajah dan rupa kalian
pulang melihat lagi rumah panggung dan terasnya tempat biasa kita melantunkan lagu,
dan mendapati bahwa ingatan kita masih sama dan akan terus sama hingga angin berhenti berhembus, gunung – gunung tertutup kabut dan malam panjang menghampiri
Jogja Juli 2012
Apa kabar sahabatku?
Sumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/-PFEkJgllqdc/TjzGCW04k-I/AAAAAAAAAA0/LD4Ev9gjqEw/s1600/pahlawan+3+sekawan.jpg
Aku takut, dewasa memisahkan kita, dan lupa memberi tahu jalan pulang ke kampung mapalus
Aku pasrah, hidup selalu berlalu, hingga tidak mungkin kita bersua lagi dengan hati yang masih sama
Tapi aku yakin
Untuk banyak hal kita masih memiliki ingatan yang sama, bahkan perasaan yang sama
Hidup mengisahkan kita dalam cerita yang memang tidak mungkin sama
Namun kita pernah berkisah bersama, di lorong – lorong desa dan di semak – semak kebun
berbagi kasur, dan berbagi kue, berbagi beban hingga mandi dari aliran air yang sama
Jejak – jejak kita masih ada di tanah – tanah lapang, di kebun - kebun jagung dan di pohon – pohon yang rimbun di kintal – kintal orang
Bunyi jankrik masih terbawa – bawa, kisah – kisah angker di tengah hari saat kita masuk hutan,serta sebilah parang berkarat
Kisah seorang pemanjat pohon yang gemilang, dan laki – laki berat yang hanya menunggu buah jatuh
Siang cepat beranjak, begitu juga malam yang lekas – lekas menghampir tidak tahan dengan kita
Itu dulu
Sekarang kita sendiri, hidup dan ditempah di bumi yang berbeda – beda
Tapi setiap angin masalah berhembus hebat, ingatan kalian mengalir kepermukaan
Air yang lama tersumbat kini membasahi dan membuat lembab kepala yang panas dan kaku
Bahwa pernah ada kisah yang sangat indah tentang kawanan laki - laki desa
yang hidup dari ubi dan cengkih, dari babi, padi, dan kopra dan yang hanya hidup untuk bermain dan tidur karena kelelehan, itu sangat menenangkan
Kita jauh dari dusun, jauh dari kebanggaan,jauh dari kenyamanan, jauh dari ketenangan dan jauh dari orang – orang tua kita
Kita jauh dari wejangan sosok permesta itu, banyak dongeng yang tak bisa kita dengar lagi dari penguhuni – penghuni dusun yang suaranya serak termakan umur
Tidak ada rumah yang bisa ku kunjungi disini, yang bisa menampung semua peluh kesakitan
Tidak ada ubi dan pisang yang gratis disini, dan tidak ada keluarga yang memasak lebih untuk aku
Belum ada malam yang setentram malam kita, malam setelah seharian memetik cengkih
Saat kita duduk bersilah, diatas karung goni, dan berebut pisang sepatu yang baru digoreng oma
Saat gelap gulita datang menjadwal, kala musim panas terlampau lama hingga listrik malam harus padam, gitar kita menggelegar menembus malam dengan nyanyian tak kelar hingga kita ikut gelap
Serta saat pagi merekah, dan anjing – anjing menggongong melawan bunyi lonceng yang menegang membangunkan
aku lelah, aku resah , ingin merebah
Kepada siapa bisa kuceritakan kelelahan ini, keletihan yang melebihi pawai 17 agustus kita
Keresahan yang melebihi keresahan mahasisiswa terhadap nasib hari esoknya
Dan semangat, semangat yang memberikan kekuatan agar lekas kembali ke tempat kita biasa bermain
Serta ketakutan besar, yang terus mengingkuti jika suatu waktu kita kembali dengan ingatan yang tidak lagi sama
Hanya kalian, yang bisa mengerti, cukup dengan duduk berbagi kisah dan selesai
Aku takut,
Kalau – kalau kenyataan melenyapkan ingatan kita, dan malam tidak mengingatkan makna lagi
Jika saat kembali nanti, remang – remang dusun tidak membongkar masa kecil kita dulu
Dan air yang mengalir tidak lagi menghanyutkan kita ke kuala tempat kita biasa menangkap ikan dan kejar – kejaran
Serta angin selatan tidak lagi menyingkap kisah anak – anak muda desa yang gemar bermain layang – layang
Sebelum habis, aku rindu bertemu, menyegarkan lagi ingatan wajah dan rupa kalian
pulang melihat lagi rumah panggung dan terasnya tempat biasa kita melantunkan lagu,
dan mendapati bahwa ingatan kita masih sama dan akan terus sama hingga angin berhenti berhembus, gunung – gunung tertutup kabut dan malam panjang menghampiri
Jogja Juli 2012
Apa kabar sahabatku?
Sumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/-PFEkJgllqdc/TjzGCW04k-I/AAAAAAAAAA0/LD4Ev9gjqEw/s1600/pahlawan+3+sekawan.jpg

Komentar
Posting Komentar