Langsung ke konten utama

Suatu Senja di Depan Garasi

Seperti biasanya. Setiap minggu pagi Abdi selalu bangun hampir kesorean. Tiap malam minggu pacarnya nginap di kontrakannya. Setelah mengahabiskan malam bersama, biasanya Abdi dan pacarnya pulang sudah larut. Menghindari mata – mata orang kampung.


Doni pun teman kontrakannya Abdi seperti biasanya pagi ini. Dia memang tidur agak larut juga tadi malam, tapi masih pagi sudah berangkat bersepeda ke alun – alun kota. Kadang – kadang dia berharap dia bisa bertemu jodohnya disana, soalnya sampai sekarang dia belum punya pacar. Dia sering di ledek Abdi dan pacarnya.


Dan pagi ini Doni senang sekali. Dia bertemu seorang gadis cantik di alun – alun. Baginya itu cewek idealnya. Meski waktu dia coba berkenalan tadi tidak ditanggapi serius tapi paling tidak dia sudah mendapatkan nama cewek itu serta tempat kuliahnya.


Terlalu sibuk dengan teman – teman. Itulah Doni. Sejak zaman sekolah sampai kuliah dia terlalu banyak mengahabiskan waktu kesana – kesini dengan teman – temannya. Dia orangnya suka bercanda dan pembawaanya kemana – mana selalu santai.Yang penting baginya dia sudah cukup bahagia bercanda bersenang – senang dan jalan – jalan dengan teman – temannya. Baru akhir – akhir ini saja, waktu dia mulai sering di ejek Abdi dan pacarnya dia merasa sudah perlu punya pacar dan mulai serius mencari pacar.


Tiba di kontrakan sudah siang, Doni lanjut mencuci motornya. Dengan riang sambil bersiul – siul dia memandikan kuda besinya. Dia masih membayangkan gadis yang dia temui tadi. Dan sesekali melantunkan lagu cinta.


Abdi pun menghampirinya. Bau alkohol langsung menyerbak. Doni pun tahu kalau tadi malam mereka habis mabuk.


Doni pun menceritakan pengalamannya tadi pagi dan di sambut tawa oleh Abdi. “Masa sudah kenalan nggak minta nomor telepon” sindir Abdi. Doni memang tidak pandai bicara apalagi kalau berhadapan dengan cewek.


Abdi pun balas bererita. Katanya akhir – akhir ini dadanya mulai sering sakit, kemaluannya juga katanya perih.Doni pun menganjurkan agar ke dokter saja,biar diperiksa. “Sekalian periksa si Dewi pacarmu kalau perutnya sudah ada isi atau belum” ejek Doni. Abdi pun menanggapinya serius. Mungkin Doni benar juga pikirnya, soalnya Dewi suka mengeluh kalau akhir- akhir ini perutnya sering sakit. Abdi semakin khawatir, mukanya jadi pucat memikirkan ini.


Doni pun menanggapinya tidak serius. “Mungkin sudah saatnya bertobat bung” kata Doni. “Neraka menanti” tambahnya sambil tertawa terbahak – bahak. Doni pun mengalihkan cerita, katanya tadi malam dia mimpi soal Abdi.


Abdi serius menanggapinya. Doni pun melanjutkannya. Katanya tadi malam dia mimpi kalau ada kakek – kaket tua datang ke kontrakan mencari Abdi. Muka kakek itu sedikit menakutkan dan wajahnya kelihatan sangat serius waktu berbicara. Waktu mau pergi kakek hanya berpesan kalau nanti ketemu Abdi katanya tolong diberitahu kalau waktunya hampir habis. Itu saja yang dikatakan kakek itu. Kakek itu langsung berbalik dan berjalan lurus terus sampai menembus dinding rumah di depan dan menghilang.


Sontak Abdi kaget mendengar cerita itu. Doni memang senang bercanda pikirnya, tapi kali ini mungkin dia tidak bercanda pikir Abdi, soalnya dia tidak tersenyum sedikit pun waktu bercerita tadi.Tanpa kata – kata Abdi langsung berjalan menuju kamarnya meninggalkan Doni.


Doni pun tersenym tipis begitu Abdi berlalu. Dia memang bercanda dan dia senang sudah berhasil mengelabuhi Abdi yang sangar itu. Rupanya dia bisa takut juga pikirnya. Doni pun melanjutkan kerjanya.Sambil terus bersiul.


Besoknya Doni berangkat keluar kota dengan teman – temannya. Ada acara malam keakraban mahasiswa di daerah puncak. Dia pun pamit ke Abdi sekaligus titip kunci kamarnya. Tapi di kamar Abdi, yang ada cuma pacarnya, katanya Abdi nggak tahu kemana soalnya dari tadi pagi sudah menghilang. Dia pun menitip kunci kamarnya ke Dewi dan pamit.


Lima hari berselang Doni pun pulang. Dia tiba di kontrakannya sudah agak gelap. Dia tidak mendapati siapapun di rumah. Pintu garasi pun di gembok dan di dalam rumah juga gelap. Jadi dia tidak bisa masuk. Dia coba menelpon Abdi, tapi seperti biasa tidak diangkat. Dia pasti lagi jalan – jalan dengan pacarnya pikir Doni, makanya telponnya tidak diangkat. Doni yang kecapean tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menunggu dan akhirnya ketiduran di depan garasi.


Doni kaget. Tiba – tiba ada yang menyentuh pundaknya dan memanggil namanya. Doni pun kaget begitu melihat sesosok orang berpakaian putih berdiri tepat di depannya. Dia pun berdiri dan menjauh dari orang itu. Doni pun bertanya kepada orang itu kalau dia siapa. Orang itu pun menyahut ‘ini aku Don, Abdi!”. Doni terkaget – kaget. Abdi sudah botak sekarang. Dulu seingatnya lima hari yang lalu dia masih gondrong.


Doni pun bertanya “ kamu dari mana?” “abis sholat” jawabnya. Doni pun kagetnya minta ampun. Sejak kapan Abdi sholat pikirnya. Pasti ada yang tidak beres pikirnya. Dan dia pun bertanya apa yang terjadi.


Abdi pun menceritakan kalau sekarang dia sudah bertobat. Pacarnya sudah diputusin dan mau serius kuliah katanya. Dia juga sudah berhenti merokok dan sudah nggak mau mabuk – mabukan lagi. Doni terheran – heran mendengarnya.


“Mendengar mimpi mu yang kamu ceritakan kemarin itu aku benar – benar takut. Aku pikir sebentar lagi aku akan mati” begitu katan Abdi. Doni pun hanya bisa terdiam sambil sekuat tenaga menahan tawanya.



Jogja 13 maret 2012








Sumber gambar ; http://truth459.blogspot.com/2010/09/repentance-101blog-1.html

Komentar