Sebuah tinjauan sejarah
Sejak peradaban manusia di mulai, sejak itu juga manusia mulai belajar. Mulai dari peradaban yang primitif sampai modern manusia terus belajar. Manusia mulai mempelajari gerak – gerik alam dan mulai mengkonsepsikan semua yang dia lihat dan rasakan. Dari situ manusia menghasilkan kebudayaan yang nantinya terus menerus berkembang sampai sekarang. Kebudayaan yang lebih modern pun tercipta saat manusia mulai berpikir tentang hakikat dirinya sendiri dan menghasilkan perncerahan – pencerahan yang dahsyat dan membuka jalan manusia meninggalkan kebudayaan kuno menuju modern.
Kejadian – kejadian penting pun banyak terukir dalam sejarah peradaban manusia. Dan kisah Kain dan Habil adalah kisah pembunuhan pertama manusia. Sekaligus menjadi awal kesadaran akan potensi kekejaman yang dimiliki manusia. Yang pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu potensi percecokan ini berubah menjadi konflik yang lebih besar yakni perang dan akhirnya berkembang sampai ke penaklukan.
Permusuhan pribadi adalah analogi yang paling kecil dari perang, selanjutnya ada perang suku dan akhirnya perang antar kerajaan dan penaklukan.Yang semua itu merupakan manifestasi nyata dari potensi konflik yang memang dipunyai oleh manusia itu sendiri. Sebab jelas objek dan subjek perang adalah manusia, sehingga meski ada banyak faktor pemicu permusuhan, perang tidak akan terjadi jika memang tidak dikehendaki manusia. Meski di zaman dulu potensi konflik yang disimpan oleh manusia masih laten dan seakan merupakan suatu hal yang alamiah dan wajar.
Baru pada beberapa abad sebelum masehi, manusia mulai menyadari dan sadar akan potensi konflik yang memang dimiliki semua orang. Dan akhirnya mulai muncul konsepsi – konsepsi manusia yang menggambarkan tentang perilaku manusia dan membedakannya antara insting dan hati. Dan insting merupakan pembenaran dari tindakan – tindakan manusia yang sifatnya kejam.Banyak orang mulai menyadari hal itu dan mulai menulisnya. Kautilya adalah seorang dari peradaban India kuno yang menulis tentang potensi konflik antara dua suku yang bersebrangan langsung potensi perangnya jauh lebih besar dari pada yang tidak berdekatan. Di Yunai kuno (Thucydides) dan Cina kuno (Sun Tzu). Perang telah menjadi semcam kajian karena sudah diakui bahwa memang akan sulit dihindarkan sehingga banyak orang yang mulai berpikir soal strategi mengantisipasinya
Pada akhirnya manusia mulai sadar dan mulai mencoba memahami diri sendiri. Sejak era filsuf klasik berkembang dan pemikiran – pemikiran kosmos mulai ditinggalkan, menuju manusia itu sendiri lebih khusus lagi akal. Socrates adalah yang mengawalinya, mengenalkan manusia pertama kali dengan apa yang dia sebut logika berpikir dan premis – premisnya. Dan kesadaran akan potensi permusuhan antar manusia semakin jelas. Puncaknya perang Peloponessos yang meruntuhkan kejayaan Athena menyadarkan Plato akan pentingnya negara memiliki kekuatan militer untuk melawan negara lain yang berusaha merebut kejayaan negara mereka.
Inilah fase dimana kecenderungan manusia untuk saling menaklukan dan berperang menjadi sebuah kebenaran yang memilukan yang disadari tidak lagi laten. Dari konflik pribadi antar manusia akhirnya berubah menjadi perang antar manusia – manusia untuk saling menaklukan. Dan akhirnya terus berlanjut sampai perang dunia kedua.
Perang dan penaklukan antar Kerajaan dan Bangsa pun terus terjadi. Kerajaan, atau bangsa menjadi aktor baru dari perang itu sendiri. Setelah pada masa lalu perang hanya diwakili antar individu dan suku.Tapi inilah perjalanan sejarah manusia yang tidak bisa terelakan. Dan dewasa ini perang mulai ada di bawah panji negara – negara modern (negara bangsa).
Aquinas dan Hobbes semakin mengaskan lagi akan kebenaran yang memilukan ini. Ungkapan Hobbes ; ‘homo homini lupus’ dan Aquinas ‘ man – the animal’ menjelaskan lagi akan sisi gelap dari manusia itu sendiri, yang memiliki karakteristik binatang di dalam dirinya.Kesadaran akan sifat – sifat manusia inilah yang mengawali pemikir – pemikir realis dalam membaca keadaan. Dan setelah negara menjadi aktor penakluk dan agresif, realisme memasuki dunia politik sebagai sebuah pendekatan yang menjelaskan tindakan – tindakan kejam dari negara – negara penakluk.
Perang Troya, Perang Peloponesses, Penaklukan Genghis Khan, Perang Salib, Perang Bubat, Perang Napoleon, Perang dunia 1 dan 2 adalalah sedikit dari sekian banyak contoh dari kekejaman manusia itu sendiri. Meski banyak faktor yang menyebabkan hubungan antar akor manusia berkonflik, kecenderungan manusia menyelesaikannya dengan cara perang dan penaklukan memang naïf jika dibilang bukan keinginan dari manusia itu sendiri. Sejak menemukan perbedaan antara diri satu sama lain manusia cenderung bermusuhan dan akhirnya berperang. Sejarah sudah membuktikannya.
Sifat agresif manusia ini bahkan dipakai menjadi haluan militer dari negara – negara demi kekuasaan. Keinginan akan kekuasaan saat ini adalah yang menjadi transformasi terbaru bentuk realisme politik. Yang karena semakin nyata ancaman dari negara – negara luar, prinsip realisme mulai sering dipakai untuk melindungi diri dengan militer demi mempertahankan diri. Semangat merkantilisme dan penaklukan dunia oleh orang eropa pada era Renaisaans untuk memperkaya diri adalah contoh nyata dari tarnsformasi nilai – nilai realisme dalam kebijkan negara.Ide ‘Wealth of Nation’ dari Adam Smith semakin menyuburkan ide Realisme bagi negara – negara eropa untuk melakukan penaklukan demi memperluas pasar demi kemakmuran negara sendiri.Tidak hanya pembangunan ekonomi tapi juga militer.Dan periode kolonialisme pun di mulai.
Meski pada pertengahan abad ke – 20 perang telah berakhir dan imperealisme dan kolonialisme sudah diharamkan oleh organisasi – organisasi dunia tidak berarti prinsip realisme menjadi usang.Meski kekejaman perang dunia 1 dan 2 sudah menyadarakan masyarakat dunia akan bahaya perang tidak ada jaminan akan kedamaian. Justru pada tahap ini terjadi transformasi terbaru nilai – nilai realisme.
Sejak negara – negara dunia ketiga merdeka, pembangunan mulai terjadi. Tapi kembali lagi prinsip realisme tetap nyata dari tindakan – tindakan negara – negara di dunia. Perang dingin antara Soviet dan Amerika demi menyebarkan pengaruh di negara – negara dunia adalah bukti nyata akan perjuangan mencapai kekuasaan dengan mengembangkan kekuatan militer yang lebih modern (nuklir). Di negara – negara dunia ketiga tidak tinggal diam. Modernisasi persenjataan pun turut di lakukan.Agresi Soviet ke Ceko, Amerika ke Dominika adalah sebuah pembenaran terbaru terhadap prinsip realisme di dunia yang sudah melarang agresi militer hanya demi mempertahankan hegemoni mereka di negara tersebut.
Memasuki akhir abad ke 20 perlombaan senjata semakin mewarnai dinamika internasional. Muncul aktor – aktor baru yang dengan kekuatan militer yang masif. India dan Pakistan berlomba – lomba mengembangkan nuklir, Amerika, Rusia, Korea Utara, Cina,Iran. Tanpa basa basi jelas fenomena ini, muncul atas kepercayaan negara – negara dunia akan bahayanya diserang negara lain sehingga harus mengembangkan senjata untuk mempertahankan diri yang tidak lain dan tidak bukan merupakan prinsip dasar dari realisme.Meski secara langsung tidak terjadi konflik terbuka, negara – negara di dunia tetap saling mencurigai pergerakan tetangga – tetangganya. Jika didapati mengembangkan senjata jelas akan segera diimbangi. Semua ini berangkat dari kesadaran akan bahwa keamanan pribadi (negara) adalah yang paling penting, serta pribadi lain (negara) bisa kapan saja melancarkan serangan dan mengganggu keamanan pribadi(negara).
Sehingga jelas lah prinsip realisme dari zaman bahela sampai era modern ini tidak banyak yang berubah.Dunia ini adalah sebuah rimba yang liar dan hanya yang kuat dan siap yang akan mampu bertahan. Dan setiap manusia lahir memang diberikan insting untuk bertahan hidup. Sehingga inilah sebuah kebenaran akan manusia yang tidak bisa disangkal. Meski memilukan cara – cara kekerasan tetap selalu akan dibenarkan saat berhadapan dengan ancaman pribadi yang membahayakan eksistensi bahkan jika memang mengancam musuh perlu dibunuh sebelum dia membunuh kita duluan. Inilah suatu kebenaran yang memilukan yang akan selalu mengiringi peradaban manusia.
Peradaban manusia tingal menunggu waktu sampai seseorang (negara) atau beberapa orang (negara) telah berhasil mengembangkan kekuatan nuklir yang masif dan salah seorang dari mereka dengan insting (man-animal) menyerang terlebih dahulu orang lain (negara lain). Karena sejarah Indonesia telah memberi contoh yang berharga; kalah raja kerajaan Majapahit Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri dari Linggabuana raja kerajaan Sunda tiba – tiba mahapatih Majapahit Gajah Mada tiba - tiba datang dan membunuh raja Linggabuana dan anak buahnya yang dianggapnya sebagai musuh meski pada saat itu raja Linggabuana memang di undang langsung oleh Hayam Wuruk untuk mempererat hubungan yang lebih baik antara sunda dan Majapahit dan Gajah Mada mengetahuinya. Tapi tetap dibunuh.
Oleh ;Alan Victor Tampi
Sejak peradaban manusia di mulai, sejak itu juga manusia mulai belajar. Mulai dari peradaban yang primitif sampai modern manusia terus belajar. Manusia mulai mempelajari gerak – gerik alam dan mulai mengkonsepsikan semua yang dia lihat dan rasakan. Dari situ manusia menghasilkan kebudayaan yang nantinya terus menerus berkembang sampai sekarang. Kebudayaan yang lebih modern pun tercipta saat manusia mulai berpikir tentang hakikat dirinya sendiri dan menghasilkan perncerahan – pencerahan yang dahsyat dan membuka jalan manusia meninggalkan kebudayaan kuno menuju modern.
Kejadian – kejadian penting pun banyak terukir dalam sejarah peradaban manusia. Dan kisah Kain dan Habil adalah kisah pembunuhan pertama manusia. Sekaligus menjadi awal kesadaran akan potensi kekejaman yang dimiliki manusia. Yang pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu potensi percecokan ini berubah menjadi konflik yang lebih besar yakni perang dan akhirnya berkembang sampai ke penaklukan.
Permusuhan pribadi adalah analogi yang paling kecil dari perang, selanjutnya ada perang suku dan akhirnya perang antar kerajaan dan penaklukan.Yang semua itu merupakan manifestasi nyata dari potensi konflik yang memang dipunyai oleh manusia itu sendiri. Sebab jelas objek dan subjek perang adalah manusia, sehingga meski ada banyak faktor pemicu permusuhan, perang tidak akan terjadi jika memang tidak dikehendaki manusia. Meski di zaman dulu potensi konflik yang disimpan oleh manusia masih laten dan seakan merupakan suatu hal yang alamiah dan wajar.
Baru pada beberapa abad sebelum masehi, manusia mulai menyadari dan sadar akan potensi konflik yang memang dimiliki semua orang. Dan akhirnya mulai muncul konsepsi – konsepsi manusia yang menggambarkan tentang perilaku manusia dan membedakannya antara insting dan hati. Dan insting merupakan pembenaran dari tindakan – tindakan manusia yang sifatnya kejam.Banyak orang mulai menyadari hal itu dan mulai menulisnya. Kautilya adalah seorang dari peradaban India kuno yang menulis tentang potensi konflik antara dua suku yang bersebrangan langsung potensi perangnya jauh lebih besar dari pada yang tidak berdekatan. Di Yunai kuno (Thucydides) dan Cina kuno (Sun Tzu). Perang telah menjadi semcam kajian karena sudah diakui bahwa memang akan sulit dihindarkan sehingga banyak orang yang mulai berpikir soal strategi mengantisipasinya
Pada akhirnya manusia mulai sadar dan mulai mencoba memahami diri sendiri. Sejak era filsuf klasik berkembang dan pemikiran – pemikiran kosmos mulai ditinggalkan, menuju manusia itu sendiri lebih khusus lagi akal. Socrates adalah yang mengawalinya, mengenalkan manusia pertama kali dengan apa yang dia sebut logika berpikir dan premis – premisnya. Dan kesadaran akan potensi permusuhan antar manusia semakin jelas. Puncaknya perang Peloponessos yang meruntuhkan kejayaan Athena menyadarkan Plato akan pentingnya negara memiliki kekuatan militer untuk melawan negara lain yang berusaha merebut kejayaan negara mereka.
Inilah fase dimana kecenderungan manusia untuk saling menaklukan dan berperang menjadi sebuah kebenaran yang memilukan yang disadari tidak lagi laten. Dari konflik pribadi antar manusia akhirnya berubah menjadi perang antar manusia – manusia untuk saling menaklukan. Dan akhirnya terus berlanjut sampai perang dunia kedua.
Perang dan penaklukan antar Kerajaan dan Bangsa pun terus terjadi. Kerajaan, atau bangsa menjadi aktor baru dari perang itu sendiri. Setelah pada masa lalu perang hanya diwakili antar individu dan suku.Tapi inilah perjalanan sejarah manusia yang tidak bisa terelakan. Dan dewasa ini perang mulai ada di bawah panji negara – negara modern (negara bangsa).
Aquinas dan Hobbes semakin mengaskan lagi akan kebenaran yang memilukan ini. Ungkapan Hobbes ; ‘homo homini lupus’ dan Aquinas ‘ man – the animal’ menjelaskan lagi akan sisi gelap dari manusia itu sendiri, yang memiliki karakteristik binatang di dalam dirinya.Kesadaran akan sifat – sifat manusia inilah yang mengawali pemikir – pemikir realis dalam membaca keadaan. Dan setelah negara menjadi aktor penakluk dan agresif, realisme memasuki dunia politik sebagai sebuah pendekatan yang menjelaskan tindakan – tindakan kejam dari negara – negara penakluk.
Perang Troya, Perang Peloponesses, Penaklukan Genghis Khan, Perang Salib, Perang Bubat, Perang Napoleon, Perang dunia 1 dan 2 adalalah sedikit dari sekian banyak contoh dari kekejaman manusia itu sendiri. Meski banyak faktor yang menyebabkan hubungan antar akor manusia berkonflik, kecenderungan manusia menyelesaikannya dengan cara perang dan penaklukan memang naïf jika dibilang bukan keinginan dari manusia itu sendiri. Sejak menemukan perbedaan antara diri satu sama lain manusia cenderung bermusuhan dan akhirnya berperang. Sejarah sudah membuktikannya.
Sifat agresif manusia ini bahkan dipakai menjadi haluan militer dari negara – negara demi kekuasaan. Keinginan akan kekuasaan saat ini adalah yang menjadi transformasi terbaru bentuk realisme politik. Yang karena semakin nyata ancaman dari negara – negara luar, prinsip realisme mulai sering dipakai untuk melindungi diri dengan militer demi mempertahankan diri. Semangat merkantilisme dan penaklukan dunia oleh orang eropa pada era Renaisaans untuk memperkaya diri adalah contoh nyata dari tarnsformasi nilai – nilai realisme dalam kebijkan negara.Ide ‘Wealth of Nation’ dari Adam Smith semakin menyuburkan ide Realisme bagi negara – negara eropa untuk melakukan penaklukan demi memperluas pasar demi kemakmuran negara sendiri.Tidak hanya pembangunan ekonomi tapi juga militer.Dan periode kolonialisme pun di mulai.
Meski pada pertengahan abad ke – 20 perang telah berakhir dan imperealisme dan kolonialisme sudah diharamkan oleh organisasi – organisasi dunia tidak berarti prinsip realisme menjadi usang.Meski kekejaman perang dunia 1 dan 2 sudah menyadarakan masyarakat dunia akan bahaya perang tidak ada jaminan akan kedamaian. Justru pada tahap ini terjadi transformasi terbaru nilai – nilai realisme.
Sejak negara – negara dunia ketiga merdeka, pembangunan mulai terjadi. Tapi kembali lagi prinsip realisme tetap nyata dari tindakan – tindakan negara – negara di dunia. Perang dingin antara Soviet dan Amerika demi menyebarkan pengaruh di negara – negara dunia adalah bukti nyata akan perjuangan mencapai kekuasaan dengan mengembangkan kekuatan militer yang lebih modern (nuklir). Di negara – negara dunia ketiga tidak tinggal diam. Modernisasi persenjataan pun turut di lakukan.Agresi Soviet ke Ceko, Amerika ke Dominika adalah sebuah pembenaran terbaru terhadap prinsip realisme di dunia yang sudah melarang agresi militer hanya demi mempertahankan hegemoni mereka di negara tersebut.
Memasuki akhir abad ke 20 perlombaan senjata semakin mewarnai dinamika internasional. Muncul aktor – aktor baru yang dengan kekuatan militer yang masif. India dan Pakistan berlomba – lomba mengembangkan nuklir, Amerika, Rusia, Korea Utara, Cina,Iran. Tanpa basa basi jelas fenomena ini, muncul atas kepercayaan negara – negara dunia akan bahayanya diserang negara lain sehingga harus mengembangkan senjata untuk mempertahankan diri yang tidak lain dan tidak bukan merupakan prinsip dasar dari realisme.Meski secara langsung tidak terjadi konflik terbuka, negara – negara di dunia tetap saling mencurigai pergerakan tetangga – tetangganya. Jika didapati mengembangkan senjata jelas akan segera diimbangi. Semua ini berangkat dari kesadaran akan bahwa keamanan pribadi (negara) adalah yang paling penting, serta pribadi lain (negara) bisa kapan saja melancarkan serangan dan mengganggu keamanan pribadi(negara).
Sehingga jelas lah prinsip realisme dari zaman bahela sampai era modern ini tidak banyak yang berubah.Dunia ini adalah sebuah rimba yang liar dan hanya yang kuat dan siap yang akan mampu bertahan. Dan setiap manusia lahir memang diberikan insting untuk bertahan hidup. Sehingga inilah sebuah kebenaran akan manusia yang tidak bisa disangkal. Meski memilukan cara – cara kekerasan tetap selalu akan dibenarkan saat berhadapan dengan ancaman pribadi yang membahayakan eksistensi bahkan jika memang mengancam musuh perlu dibunuh sebelum dia membunuh kita duluan. Inilah suatu kebenaran yang memilukan yang akan selalu mengiringi peradaban manusia.
Peradaban manusia tingal menunggu waktu sampai seseorang (negara) atau beberapa orang (negara) telah berhasil mengembangkan kekuatan nuklir yang masif dan salah seorang dari mereka dengan insting (man-animal) menyerang terlebih dahulu orang lain (negara lain). Karena sejarah Indonesia telah memberi contoh yang berharga; kalah raja kerajaan Majapahit Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri dari Linggabuana raja kerajaan Sunda tiba – tiba mahapatih Majapahit Gajah Mada tiba - tiba datang dan membunuh raja Linggabuana dan anak buahnya yang dianggapnya sebagai musuh meski pada saat itu raja Linggabuana memang di undang langsung oleh Hayam Wuruk untuk mempererat hubungan yang lebih baik antara sunda dan Majapahit dan Gajah Mada mengetahuinya. Tapi tetap dibunuh.
Oleh ;Alan Victor Tampi
Komentar
Posting Komentar