Langsung ke konten utama

Menjelang Hilang

Akhir – akhir ini Johny selalu gelisah saban kali mau tidur. Entah itu malam atau siang, dia merasa tidak nyaman tiap kali mau menutup mata. Bahkan dulu waktu ia buron sekalipun dia masih bisa terlelap.

Memang saat ini Johny sedang dicari – cari polisi. Dia ditengarai terlibat pembunuhan seorang residivis yang baru keluar buih. Hari itu memang sudah lama ditunggu Johny dan konco – konconya. Jeffry, korban yang dihujani belati oleh Johny adalah orang yang telah membunuh adiknya.

Lemus, adiknya Johny memang malang nasibnya. Setelah meraih sarjana, Lemus menyusul kakakknya tercinta ke kota.Waktu tiba di kota, Lemus langsung di hampiri beberapa preman dan terlibat pertikaian. Lemus yang dasarnya besar di kampung tidak bisa terima dirinya dipalaki dan akhirnya melawan. Naasnya karena kalah jumlah Lemus dipukuli sampai mati.

Johny yang memang sehari – harinya hidup di dunia gelap tak bisa menerima kematian adiknya. Setelah mendapat informasi dari kawan – kawannya Johny beregerak sendiri mencari para pembunuh adiknya.

Puncaknya, Johny menjemput nyawa 9 orang yang disangkanya pembunuh adiknya dengan tangannya sendiri. Meski hanya 3 diantara mereka yang terlibat dalam pemukulan adiknya. Malam itu ia mandi darah. Tidak puas ia pun menebas setiap kepala dari kesembilan orang itu.

Jeffry yang baru tahu kalau yang mereka bunuh adalah adik dari seorang preman sadis langsung melarikan diri ke kepolisian meminta perlidungan dan mengakui kesalahannya. Namun setelah hampir dua tahun di buih Jeffry pun keluar dan menemui ajalnya di tangan Johny.

Sejak kejadian itu kegelisahan mulai menggerogoti hari – hari Johny. Sampai suatu kali,waktu tengah malam dia tiba – tiba terjaga dan melihat wajah adiknya tengah menangis di depan pintu kamarnya. Dan sejak saat itu adiknya makin sering menghampiri Johny di selah – selah pikirannya.

Johny sadar sejak adiknya meninggal, dia tidak pernah menjenguknya lagi. Johny berbeban untuk kembali ke kampung melayat ke kuburan adiknya. Dia cuma sekali melihat Lemus waktu dia sudah diawetkan dan mau dikirim kekampung.Mungkin inilah sebabnya adiknya makin sering datang menggerayangi malam – malamnya.

Johnny pun bertolak ke kampungnya. Setelah 4 malam 5 hari diperjalanan dia pun tiba di tanah kelahiranya. Seketika itu juga bulu nyawanya berdiri dan kenangan masa kecilnya kembali tersingkap. Dia merindukan Lemus dan Ibunya. Dia menyesal setelah 10 tahun tak berjumpa dengan Lemus, dia hanya bisa berjumpa dengan mayatnya saja. Sungguh menyedikan. Ibu juga, apakah dia baik – baik saja.

Tidak ada yang menyambut Johny di kampungnya. Semua orang mengalihkan wajah darinya. Wajah Johny yang sekarang memang menakutkan, sejak dia hijrah ke kota 10 tahun lalu seluruh tubuhnya di tato dan kepalanya dibuat gundul.Apalagi mendengar kisahnya di kota, orang – orang kampung enggan bercengkrama degannya.

Johny tidak punya banyak teman di kampung. Karena sejak lulus SD dia langsung ikut kapal ke kota dan tak tau lagi kemana rimbanya. Hanya ada beberapa teman sebayanya yang dia ingat.

Dia tiba dirumah dan tidak mendapati siapapun. Meski rumah papan itu kecil, tapi disitulah dia dan Lemus diberi makan ibunya dulu. Dia terharu melihat rumah mereka yang hampir roboh, dikerumuni rumput setinggi pusar dan sengnya yang sudah bocor – bocor. Dia semakin kangen dengan ibunya.

Johny langsung beranjak ke pekuburan. Setelah menjumpai seorang teman lamanya, Johny di antar ke kuburan adiknya.

Johny kaget pas tiba disana, kuburan adiknya dipenuhi alang – alang dan hampir kehilangan rupa sebagai batu nisan. Dia pun menyibakkan rerumputan itu ke belakang agar nisan Lemus tidak terhalang dan membersihkannya. Dia kaget bukan main saat melihat ada nisan lain disamping nisan milik adiknya. Dan setelah dia cermati disitu terukir nama ibunya.

Teriakan Johny menembus langit saat itu. Pertama kalinya dalam hidup dia menitihkan air mata. Dia tidak menyangka kalau kepergiannya 10 tahun lalu adalah perjumpaan terakhirnya dengan adik dan ibunya.

Jogja 4 maret 2012

Komentar