Dalam teori-teori perang kira-kira ada 15 penyebab yang dirumuskan oleh para sarjana. Di dalamnya ada beberapa teori yang beranggapan bahwa perang didasarkan pada sifat dasar atau kecenderungan prilaku manusia. Selain sebab-sebab itu, sangat jelas bahwa memang yang menjadi objek dan subjek perang itu adalah manusia maka peran dari manusia itu sendirilah yang berperan besar dalam meniadakan perang dan memukul genderang perang. Sehingga benar bahwa manusia juga memiliki sifat – sifat dasar yang menyukai kekerasan.
Ada juga beberapa toko seperti Hans J Morgentahu dan Nicollo Machiavelli yang menulis tentang sifat-sifat dasar manusia yang sangat memepengaruhi perilaku mereka dalam kehidupan sosial. Menurut Hans, manusia baik pria atapun wanita terlahir untung saling mendominasi satu sama lain Sedangkan menurut Machiavelli manusia seperti rubah yang cerdik dan agresif dalam rangka mendapatkan kebutuhan masing – masing.
Dalam kaitan dengan terorisme memang faktor-faktor eksternal dari manusia juga banyak mempengaruhi. Kondisi sosial merupakan faktor eksternal yang paling utama yang harus ditelaah bila ingin mengekplanasi fenomena-fenomena terorisme. Sehingga kondisi sosial yang ada disuatu masyarakat sangat mempengaruhi bahkan kondisi jugalah yang menyulut api – api teror di dalam masyarakat itu sendiri. Kemiskinan, pengangguran, kelaparan, kesenjangan, primordialisme, fanatisme merupakan benih-benih teror yang sedang bertumbuh dalam masyarakat dan akumulasi dari semua inilah yang menyulut tindakan-tindakan kekerasan tercipta.Sehingga jika dimatematikan terorisme adalah akumulasi dari segala kondisi sosial dalam masyarakat dan sifat dasar dari manusia (T=K+S). T = terorisme, K= kondisi sosial, S = sifat manusia.
Begitu juga dalam dunia internasional, aksi-aksi teror yang terjadi merupakan sebuah representasi dari kekecewaan masyarakat dan sifat dasar dari masyarakat juga. Namun yang perlu juga dicermati adalah bahwa tindakan teror tersebut sengaja dibuat oleh oknum-oknum tertentu demi kepentinganya, dalam konteks internasional tentunya.
Sebagai suatu bentuk tindakan yang merugikan dan kadang-kadang tidak manusiawi sudah seharusnya tindakan-tindakan seperti ini diberantas. Namun dalam perpolitikan global, terorisme, konflik dan perang dijadikan suatu instrumen pencapaian kepentingan nasional suatu negara. Masyarakat sengaja dibakar, perlombaan senjata, dan kegiatan teror yang dirancang untuk menciptakan ketidakstabilan merupakan fakta yang tidak terelakan lagi. Kepentingan nasional menjadi tujuan yang mati-matian diperjuangkan masing-masing negara serta untuk menancapkan hegemoninya negara-negara menghalalkan kekerasan demi mencapainya.
Inilah potret perkembangan masyarakat internasional. Saat sudah terkotak dalam masing-masing negara, yang ingin dicapai hanyalah kepentingan mereka. Nasionalisme meningkat , keinginan untuk mendominasi negara lain semakin meningkat. Perlombaan senjata, pengembangan militer menjadi objek-objek utama pembanguan negara saat ini. Sehingga konflik militer terbuka bukan lagi hal yang tidak mungkin terjadi antar negara-negara di dunia.
Inilah kondisi dunia internasional yang dihadapkan bagi bangsa kita. Ini merupakan sebuah tantangan pembangunan dan keberanian bagi negara kita. Perdamaian dunia agakanya perlu dikesampingkan melihat perkembangan politik dunia yang sekarang dimana perselisihan negara semakin panas namun selalu ditutupi selimut kerjasama oleh organisasi-organisasi internasional dan kerja sama – kerja sama ekonomi. Konflik berkembang dibawah selimut aliansi bukan kerjasama. Sehingga proritas utama sekarang adalah bagaimana menjamin keamanan nasional dan kepentingan nasional.
Sehingga diplomat merupakan cita-cita yang terlalu pendek bagi kita mahasiswa hubungan internasional. Fakta internasional bahwa Indonesia merupakan negara dunia ketiga dan lahan sumber eksploitasi tidak dapat kita ubah dengan hanya menjadi seorang diplomat. Indonesia masih berada di langit internasional yang rentan dan gampang dijatuhkan karena belum punya sayap-sayap ekonomi dan militer yang kuat. Dunia internasional akan selalu anarki, dan anarki harus disikapi dengan anarki bukan dengan idealisme perdamaian. Sehingga beban sosial bagi negara ada di pundak kita, bagaimana mengembangkan ide – ide demi menempatkan Indonesia di tempat yang layak sebagai suatu negara berdaulat dan merdeka.
Ada juga beberapa toko seperti Hans J Morgentahu dan Nicollo Machiavelli yang menulis tentang sifat-sifat dasar manusia yang sangat memepengaruhi perilaku mereka dalam kehidupan sosial. Menurut Hans, manusia baik pria atapun wanita terlahir untung saling mendominasi satu sama lain Sedangkan menurut Machiavelli manusia seperti rubah yang cerdik dan agresif dalam rangka mendapatkan kebutuhan masing – masing.
Dalam kaitan dengan terorisme memang faktor-faktor eksternal dari manusia juga banyak mempengaruhi. Kondisi sosial merupakan faktor eksternal yang paling utama yang harus ditelaah bila ingin mengekplanasi fenomena-fenomena terorisme. Sehingga kondisi sosial yang ada disuatu masyarakat sangat mempengaruhi bahkan kondisi jugalah yang menyulut api – api teror di dalam masyarakat itu sendiri. Kemiskinan, pengangguran, kelaparan, kesenjangan, primordialisme, fanatisme merupakan benih-benih teror yang sedang bertumbuh dalam masyarakat dan akumulasi dari semua inilah yang menyulut tindakan-tindakan kekerasan tercipta.Sehingga jika dimatematikan terorisme adalah akumulasi dari segala kondisi sosial dalam masyarakat dan sifat dasar dari manusia (T=K+S). T = terorisme, K= kondisi sosial, S = sifat manusia.
Begitu juga dalam dunia internasional, aksi-aksi teror yang terjadi merupakan sebuah representasi dari kekecewaan masyarakat dan sifat dasar dari masyarakat juga. Namun yang perlu juga dicermati adalah bahwa tindakan teror tersebut sengaja dibuat oleh oknum-oknum tertentu demi kepentinganya, dalam konteks internasional tentunya.
Sebagai suatu bentuk tindakan yang merugikan dan kadang-kadang tidak manusiawi sudah seharusnya tindakan-tindakan seperti ini diberantas. Namun dalam perpolitikan global, terorisme, konflik dan perang dijadikan suatu instrumen pencapaian kepentingan nasional suatu negara. Masyarakat sengaja dibakar, perlombaan senjata, dan kegiatan teror yang dirancang untuk menciptakan ketidakstabilan merupakan fakta yang tidak terelakan lagi. Kepentingan nasional menjadi tujuan yang mati-matian diperjuangkan masing-masing negara serta untuk menancapkan hegemoninya negara-negara menghalalkan kekerasan demi mencapainya.
Inilah potret perkembangan masyarakat internasional. Saat sudah terkotak dalam masing-masing negara, yang ingin dicapai hanyalah kepentingan mereka. Nasionalisme meningkat , keinginan untuk mendominasi negara lain semakin meningkat. Perlombaan senjata, pengembangan militer menjadi objek-objek utama pembanguan negara saat ini. Sehingga konflik militer terbuka bukan lagi hal yang tidak mungkin terjadi antar negara-negara di dunia.
Inilah kondisi dunia internasional yang dihadapkan bagi bangsa kita. Ini merupakan sebuah tantangan pembangunan dan keberanian bagi negara kita. Perdamaian dunia agakanya perlu dikesampingkan melihat perkembangan politik dunia yang sekarang dimana perselisihan negara semakin panas namun selalu ditutupi selimut kerjasama oleh organisasi-organisasi internasional dan kerja sama – kerja sama ekonomi. Konflik berkembang dibawah selimut aliansi bukan kerjasama. Sehingga proritas utama sekarang adalah bagaimana menjamin keamanan nasional dan kepentingan nasional.
Sehingga diplomat merupakan cita-cita yang terlalu pendek bagi kita mahasiswa hubungan internasional. Fakta internasional bahwa Indonesia merupakan negara dunia ketiga dan lahan sumber eksploitasi tidak dapat kita ubah dengan hanya menjadi seorang diplomat. Indonesia masih berada di langit internasional yang rentan dan gampang dijatuhkan karena belum punya sayap-sayap ekonomi dan militer yang kuat. Dunia internasional akan selalu anarki, dan anarki harus disikapi dengan anarki bukan dengan idealisme perdamaian. Sehingga beban sosial bagi negara ada di pundak kita, bagaimana mengembangkan ide – ide demi menempatkan Indonesia di tempat yang layak sebagai suatu negara berdaulat dan merdeka.
Komentar
Posting Komentar